“Ibu mau s**u?”
“Oh, bole—”
Suara meja dipukul membuat Zalima dan Bi Asih terlonjak. Serempak mereka menoleh ke arah Prajaka, melayangkan tatapan yang sama: apa-apaan pria ini?
“Kamu kenapa, sih?” tanya Zalima, nada kesalnya berusaha dia sembunyikan.
“Tidak boleh ada yang minum s**u hari ini. Buang semua s**u yang sudah Bi Asih buat.”
Bi Asih langsung berhenti menyodorkan pitcher kaca ke arah Zalima. Meski tidak tahu alasan Prajaka tiba-tiba membenci s**u, dia menuruti saja tanpa bertanya. Dia membawa kembali pitcher tersebut ke dapur, memberi ruang agar kedua majikannya bisa membahas perkara s**u ini dengan lebih … privat.
“Alasannya apa? Sumpah nggak jelas banget kamu. Kalau memang nggak mau minum, ya jangan ajak orang lain buat nggak minum juga,” gerutu Zalima.
“Baik aku maupun k