“Kau siap?” bisik Prajaka tanpa menoleh, tanpa sedikit pun mencondongkan tubuh ke arah Zalima.
“Ya,” jawab Zalima pelan. Tatapannya lurus pada pintu besar di depan mereka, sama sekali tidak melirik Prajaka.
Sedetik kemudian, keduanya melangkah masuk. Prajaka tampak gagah dengan setelan hitam rapi, sementara Zalima berjalan di sampingnya mengenakan gaun satin ungu keabu-abuan yang memeluk siluet tubuhnya dengan elegan. Seketika tatapan para tamu tertuju pada mereka—karena malam ini, mau tidak mau, mereka terlihat seperti pasangan sempurna. Padahal kenyataannya jauh sekali dari itu.
Ballroom hotel bintang lima tersebut dipenuhi cahaya keemasan dari lampu gantung kristal. Meja-meja bundar tertata mewah, diduduki investor, mitra bisnis, dan dewan komisaris. Musik orkestra mengalun lembut, m