“Nggak perlu janji, aku selalu menepatinya. Aku nggak lupa sama aturan kontrak kita, dan sampai detik ini aku nggak punya hubungan khusus dengan siapa pun,” geram Zalima, tatapannya penuh permusuhan pada Prajaka. Karena tangan dan tubuhnya ditahan, satu-satunya senjata yang bisa dia gunakan hanyalah mata yang mengintimidasi. “Jadi lepasin aku sekarang. Apa yang kamu lakuin ini udah lancang.”
“Ingat aturannya, Za. Kalau kau berhenti memberontak, baru aku bisa melepaskan.”
“Nggak ada alasan buat menuruti perintahmu.”
“Aku suamimu. Dengarkan kata-kata suamimu, Zalima.”
“Hanya suami sementara. Tunggu sampai genap tiga bulan, setelah itu aku bebas mengejekmu.”
Tatapan Prajaka menajam. Dia mengangkat kedua tangan Zalima dan menyilangkannya di atas kepala, menguncinya dengan satu tangan. Sem