Hidangan penutup sudah dihabiskan, tetapi meja mereka tetap sepi tanpa percakapan. Harusnya ada banyak yang perlu diungkapkan, mengingat mereka tidak saling menelepon atau bertukar kabar selama satu minggu. Namun baik Stevani maupun Prajaka sama-sama diam, terjebak dalam pikiran masing-masing—pikiran yang, sayangnya, tidak berisi satu sama lain.
Hingga getaran ponsel memecah keheningan. Tatapan Stevani dan Prajaka otomatis tertuju pada arah yang sama, lalu Stevani cepat-cepat meraih benda tipis itu—yang ternyata memang getarnya berasal dari ponselnya.
Sesaat dia gugup. Melirik sekilas ke arah Prajaka, diam-diam dia merasa lega karena pria itu sama sekali tidak curiga pada gerak-geriknya. Malah Prajaka kini dengan santai menyesap wine-nya, seolah tak tertarik sama sekali dengan siapa yang