Zalima menatap bayangannya di kaca. Meski tanpa riasan, pipinya merona. Rona itu selalu muncul setiap kali dia mengingat momen manis, mendebarkan, dan nyaris menggairahkan di kolam renang bersama Prajaka. Sosok yang dilihatnya di kaca sekarang bukanlah wanita yang sedang berakting demi sebuah pekerjaan—tetapi wanita yang sedang jatuh cinta.
Mengusap wajahnya perlahan, Zalima membalikkan badan menjauhi kaca. Dia muak melihat dirinya yang seperti ini. Seakan bukan dirinya yang dulu selalu menekankan profesionalitas dan menjaga batasan.
Kapan semua ini dimulai? Apakah sejak ciuman wawancara itu? Atau ciuman di restoran saat pertama kali mereka dinner? Dia bahkan tak tahu mana yang lebih tepat. Intinya, sejak saat itu, sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan, mereka mulai berjalan jauh