Kavindra terbangun begitu mendengar suara hujan deras disertai kilat dan petir. Tak berselang lama, lampu hotel padam. Segera dia menoleh ke samping untuk mengecek istrinya. Helaan napas lega otomatis keluar dari bibirnya saat mendapati Aira masih terlelap.
Kebisingan di sekitar ternyata tidak mengganggunya. Wajahnya terlihat damai, dalam posisi miring dengan kaki melingkar pada bantal kehamilan yang mengelilingi tubuhnya.
Perasaan Kavindra seketika menghangat. Sebelum beranjak turun dari ranjang untuk menghubungi pihak hotel terkait penerangan darurat, dia menunduk dan mengecup kening Aira. Diusapnya kepala wanita itu dengan penuh sayang.
“I love you, Sayang. Terima kasih sudah mau menikah denganku,” bisiknya lirih.
Kavindra masih menatap wajah Aira beberapa detik lebih lama sebelum a