Usia kehamilan Aira memasuki delapan bulan saat Kavindra mengajaknya berziarah ke makam Bu Ratna. Ini adalah ziarah yang ketujuh kalinya setelah mereka menikah. Jauh lebih sering dibandingkan mengunjungi makam mama Kavindra.
Aira tidak pernah bertanya kenapa, karena dia tahu seperti apa masa lalu suaminya. Namun yang membuat Aira bangga, suaminya masih mau menghormati almarhumah mamanya, sekalipun sebagai anak satu-satunya dia dikecewakan karena keberadaannya tidak pernah dianggap sejak lahir.
Pelukan Kavindra pada pinggangnya menguat setelah mereka berdiri dan memandangi batu nisan yang telah ditaburi kelopak bunga serta disiram air yang telah dibacakan doa-doa. Di balik kacamata hitamnya, ada beragam emosi yang bertumpuk, namun yang paling dominan adalah rasa rindu.
Suaminya telah men