Kavindra sampai lupa melepas toga hakimnya begitu mendengar kabar bahwa Aira akan melahirkan.
Begitu sidang selesai, dia langsung keluar dengan tergesa—langkahnya cepat, napasnya memburu—menuju parkiran. Tanpa berpikir panjang, dia menyetir dengan kecepatan di atas rata-rata, seolah keselamatannya sendiri tidak ada artinya dibandingkan satu hal: berada di sisi istrinya.
Setibanya di rumah sakit, mobilnya ditinggalkan begitu saja di area depan. Kunci diserahkan kepada satpam, disertai permintaan singkat untuk membantu memarkirkannya. Beberapa lembar uang diselipkan sebagai tanda terima kasih, sebelum akhirnya dia berlari masuk tanpa menunggu balasan.
Langkahnya nyaris tak teratur saat tiba di depan ruang bersalin. Napasnya tersengal, dadaa naik turun dengan cepat. Bibirnya bergetar ketik