Acara pernikahan kami yang intimate akhirnya selesai digelar. Tamu undangan yang jumlahnya tak sampai seratus orang itu satu per satu mulai berpamitan. Kini yang tersisa hanya pihak WO yang membereskan sisa-sisa acara, keluarga inti, serta Kavindra—suamiku.
Ah, masih terasa aneh menyebutnya sebagai suami. Kata itu terasa asing di lidah, tetapi sejak tadi jantungku tidak berhenti berdebar. Fakta bahwa kami telah terikat secara sah di mata hukum dan agama membuat perutku terasa mulas. Mulas dalam arti yang menyenangkan.
Ternyata hubungan yang dimulai tanpa ekspektasi bisa berakhir menjadi komitmen seumur hidup. Siapa sangka? Rencana Tuhan memang selalu lebih indah daripada rencana manusia. Bahkan pertemuan kami yang tak biasa pun rupanya merupakan bagian dari rencana-Nya.
Sedikit cerita,