Undangan datang tiga hari setelah kami pulang dari kolam ikan milik Om Arjuna. Aku sedang duduk di ruang keluarga ketika Mama keluar dari perpustakaan sambil membawa ponselnya. Wajahnya terlihat sedikit bersemangat—ekspresi yang biasanya muncul kalau ada kabar dari keluarga besar.
“Kak,” panggilnya.
“Iya, Ma?”
“Ada kabar baik dari Axel.”
Kak Axel adalah sepupu kami dari pihak Papa—anak kedua Tante Sekar. Usianya beberapa tahun lebih tua dariku, dan sejak kecil dia selalu jadi sosok yang agak jauh karena tinggal di luar kota. Tapi setiap bertemu, dia selalu memberikan mainan padaku.
“Kabar baik apa memangnya, Ma?”
“Dia tunangan minggu depan.”
Aku mengangkat kepala. “Serius?”
Mama mengangguk sambil tersenyum. “Tante Sekar baru saja telepon. Mereka akan mengadakan acara di Jakarta, di