Wajah Kavindra tampak makin tirus sejak terakhir kali kami bertemu. Aku bahkan ragu jam istirahatnya teratur, mengingat beberapa minggu belakangan kesibukannya terus bertambah. Tanggal pendaftaran semakin dekat; dia benar-benar mempersiapkan semuanya dengan matang.
“Ini untukmu,” katanya, menyerahkan buket bunga baby’s breath. Sudut bibirnya melengkung lembut. Tatapannya hangat, meski lelah tak sepenuhnya bisa dia sembunyikan. “Maaf kalau belakangan terlalu cuek. Maaf juga sudah berkali-kali menolak ajakanmu keluar. Tes dan segala t***k-bengeknya itu benar-benar mendominasi pikiran saya.”
Mataku mendadak panas. Sedih rasanya merasa kalah prioritas dari ambisinya, tapi lebih sedih lagi menyadari dia berusaha sekeras itu demi memenuhi tantangan Papa-ku.
Keinginan untuk menumpahkan segala