Aira mengirim foto menu makan malamnya. Ayam geprek dengan hanya tiga buah cabai. Katanya perutnya sedang kurang enak karena haid, tetapi tetap ingin makan pedas. Maka dia memilih level terendah.
Aku hendak membalas dengan foto makan malam yang dimasakkan Bibi ketika bel rumah berbunyi. Kebetulan Bibi sedang mencuci peralatan dapur, jadi kutinggalkan ponsel di meja dan beranjak ke depan untuk membuka pintu. Selain Aira, sudah lama aku tidak menerima tamu. Tentu saja aku heran ada yang datang malam-malam begini.
Setelah kubuka, seorang pria paruh baya berseragam rapi berdiri tidak jauh dari depan pintu. Wajahnya asing. Dia mengangguk sopan ketika tatapan kami bertemu.
“Mas Kavindra, kan?” tanyanya.
“Benar. Anda siapa?” balasku, berusaha menelisik.
“Bapak ingin bertemu.” Dia menole