Aku, Mama, dan Papa celingak-celinguk memperhatikan setiap peserta yang keluar dari gedung ujian CAT milik pemerintah. Halaman depannya dipenuhi orang-orang berbaju rapi—kemeja putih, celana hitam, sepatu formal mengilap. Ekspresi mereka beragam; ada yang sumringah, ada yang datar, ada pula yang sulit ditebak. Tapi bukan itu yang menjadi fokusku. Aku hanya berusaha menemukan satu wajah di antara kerumunan: Kavindra.
Hari ini dia mendapat sesi keempat. Pukul tiga lewat tiga puluh menit. Kedatangan kami sama sekali tak diketahuinya. Aku sengaja tidak memberi kabar, terlebih sejak dua hari terakhir kami LDR—aku di Jogja sibuk UAS, dia di Jakarta karena memilih formasi langsung di MA pusat.
Entah apa motivasinya memilih lokasi tak sesuai domisili KTP. Tapi di mana pun tempatnya, aku hanya be