Selesai apartemen dibersihkan, aku dan Aira duduk berdampingan di sofa. Aku menyandarkan punggung, sementara Aira menekuk kedua kakinya, dagunya bertumpu di lutut. Keheningan melingkupi kami beberapa saat. Selain lelah, kecanggungan masih terasa—efek dari ciuman intim satu jam lalu rupanya belum sepenuhnya hilang.
“Mas lapar nggak?” bisik Aira, nyaris tak terdengar jika aku tidak kebetulan menoleh ke arahnya.
“Sedikit. Kamu?”
Kepalanya mengangguk. Dia sempat menggigit bibir sebelum menawarkan, “Delivery makanan aja, ya? Belum ada bahan kalau mau masak sekarang.”
“Boleh.”
Kukeluarkan ponsel lalu kuberikan padanya. Daguku mengedik, memberi isyarat agar dia memesan lewat aplikasiku saja. Selain tidak menggunakan kata sandi, aku yakin Aira belum lupa kalau dulu dia pernah memegang ponselk