“Bagaimana hasilnya, Mas? Apa Papa menerimamu?”
Aku menahan senyum karena Aira langsung memberondong dengan berbagai pertanyaan begitu teleponnya kuangkat. Aku bahkan belum sempat menyapa, tapi rupanya dia tak sabar menunggu aku bersuara.
“Papa nggak bilang sesuatu yang menyinggung atau menyakitimu, kan? Saya nggak tenang sama sekali menunggu kabar. Tadi Papa pulang dengan ekspresi yang sulit ditebak. Dia juga belum mau bicara sama saya sampai detik ini.”
“Satu per satu, Ai,” kataku terkekeh. “Saya baru sampai rumah, ini sedang menuju kamar. Nanti saya jawab kalau sudah di dalam.”
“Oh, maaf. Saya nggak tahu kalau Mas baru sampai. Apa sebaiknya panggilannya saya akhiri dulu biar Mas—”
“Tidak perlu,” potongku. “Kamu tidak mengganggu sama sekali. Hanya saja konsentrasi saya terbagi ant