“Hai, Lili!” sapaku setelah pintu dibukakan oleh ART Kavindra. Kucing cantik yang jutek itu seakan sudah menunggu kedatanganku, tetapi begitu melihatku, dia malah membuang muka dan mengibas-ngibaskan ekornya.
Dasar tsundere!
Sambil mengulum senyum, aku mendekati Lili dan berjongkok di hadapannya. Kuusap kepalanya, lalu kugaruk bawah dagunya. Lili tampak menikmati, tetapi harga dirinya terlalu tinggi. Dia masih saja membuang muka dariku.
“Majikanmu di mana? Udah sarapan belum kalian?”
Bibi yang berdiri tak jauh dariku menjawab, “Sudah, Mbak. Sekarang Mas Kavi ada di ruang kerja. Katanya tadi mau mengirim emaill tugas pada mahasiswanya.”
“Oh, makasih informasinya, Bi.”
“Sama-sama. Mbak Ai sudah sarapan?”
“Udah, Bi.”
“Kalau Bibi buatin minum, mau?”
“Nggak usah repot-repot, saya masih