Seminggu setelah Sinta menempati rumah sewanya, ia datang ke rumah Ati dengan daftar yang telah diperiksa bersama. Baju, agenda serta beberapa foto yang dibawa pada kunjungan dahulu sudah diberi tanda. Telepon lama miliknya juga sudah berada padanya. Hari ini mereka akan menentukan sisa barang yang memang masih disimpan di rumah keluarga Aldo. Sinta sudah mengetahui besar lemari di rumah barunya dan barang yang masih dapat ditampung.
Ati membuka lemari setelah menanyakan apakah Sinta ingin minum dahulu. Aldi membantu menurunkan wadah yang berada di rak tinggi. Ayah Aldo duduk di kursi dekat pintu kamar. Ia ingin melihat beberapa barang sebelum diputuskan, tetapi tidak akan meminta semua orang mempertahankan kamar persis seperti saat anaknya masih hidup.
Mereka memulai dari pakaian yang masih layak. Sinta mengenali beberapa yang sering dipakai dan beberapa yang jarang disentuh. Ia sudah mempunyai satu baju untuk disimpan di rumah sendiri. Ia memilih satu jaket tambahan setelah memastikan ruang yang tersedia, sementara Ati memilih beberapa potong untuk tetap berada padanya. Selebihnya dipisahkan untuk disumbangkan setelah semua pihak yang berkepentingan menyetujui.
Ada pakaian yang tidak lagi layak diberikan. Ati memisahkan tanpa merasa harus menyelamatkan setiap serat sebagai bagian tubuh anak. Keputusan tersebut tetap membuatnya menangis. Mereka berhenti sebentar, minum dan kembali setelah ia siap. Aldi tidak mengangkut apa pun keluar ketika ibunya masih memikirkan pilihan.
Di wadah lain terdapat jam tangan yang biasa dipakai Aldo pada acara tertentu. Ayahnya meminta menyimpan. Sinta serta Ati menyetujui, lalu benda itu dimasukkan ke tempat yang diketahui bersama. Jam tidak diserahkan sebagai hadiah untuk membeli ketenangan ayah, melainkan karena ia ingin menyimpan sesuatu yang benar-benar berhubungan dengan anaknya.
Beberapa buku dibagi menurut keinginan serta keadaan barang. Sinta mengambil dua yang pernah dibaca bersama, Ati mempertahankan sebagian pada rak keluarga dan sisanya disiapkan untuk diberikan kepada tempat yang bersedia menerima. Mereka memeriksa bahwa tidak ada catatan pribadi yang ikut terbawa tanpa sengaja sebelum menyisihkannya.
'Yang ini tulisan siapa?' tanya Aldi ketika menemukan kertas kecil di antara halaman.
Sinta memeriksa. Hanya catatan belanja lama dengan beberapa angka yang dikenalnya. Ia memasukkannya ke bagian dokumen pribadi yang memang dipilih untuk disimpan. Ia tersenyum mengenali kebiasaan Aldo membulatkan angka, lalu melipat kembali kertas itu sebelum mereka melanjutkan.
Foto keluarga diperiksa bersama. Album milik keluarga tetap di rumah Ati, sedangkan gambar yang dipilih Sinta dipisahkan dengan pengetahuan mereka. Jika kelak menginginkan salinan lain, ia dapat menanyakan, tetapi keputusan mengenai tempat penyimpanan album sudah selesai. Mereka tidak meninggalkan satu wadah tertutup untuk disebut sebagai tugas terakhir pada kunjungan berikutnya.
Barang kecil yang masih dapat digunakan sehari-hari ditentukan pemakainya. Ada yang tetap di rumah, ada yang dibawa Sinta setelah disetujui dan ada yang diberikan kepada Aldi. Semua ditandai pada daftar. Untuk benda yang tidak ingin diambil siapa pun, mereka menyepakati cara melepaskannya berdasarkan keadaan barang serta kepemilikannya, bukan memberikannya diam-diam agar orang lain terpaksa menerima keputusan.
Menjelang siang, lemari terlihat lebih lapang. Ati memegang rak kosong sebelum menutup pintu. Sinta berdiri di dekatnya, merasakan sedih yang datang bersama lega. Kamar itu dapat dipakai kembali untuk kebutuhan rumah tanpa berarti Aldo dihapus dari keluarga. Mereka masih mempunyai foto, cerita serta benda yang benar-benar dipilih untuk dirawat.
Aldi membawa pakaian serta buku yang disetujui kepada penerima yang telah ditanyakan kesediaannya. Ia memeriksa kembali jumlah sebelum menyerahkan, lalu memberi kabar sudah diterima. Barang yang tidak layak dilepaskan dengan cara yang sesuai, sementara dokumen pribadi tetap disimpan terpisah. Daftar mereka kini mempunyai keputusan untuk seluruh bagian, termasuk yang tetap berada di Ati.
Sesudah makan, Sinta mengemas jaket serta dua buku yang dipilihnya. Ia tidak membawa semua rak ke rumah sewa yang belum sepenuhnya ditata. Barang yang tetap di rumah Ati bukan utang yang harus diambil nanti; tempatnya sudah disetujui. Ia menulis tanggal pada daftar serta menyimpan salinan untuk mengingat keputusan yang dibuat ketika semuanya masih dapat ditanyakan langsung.
Sinta juga mengembalikan kunci rumah Ati yang masih disimpan sejak dahulu tinggal bersama Aldo. Bila berkunjung lagi, ia akan memberi kabar dan datang sebagai tamu yang disambut, bukan membuka pintu pada waktu yang belum diketahui penghuni. Ati menerima, menaruh kunci di tempatnya serta mengatakan mereka masih dapat bertemu. Mengubah cara memasuki rumah tidak menghapus hubungan yang tetap ingin dipelihara oleh keduanya.
Ati ikut mengantar bersama Aldi ke rumah baru Sinta. Ini pertama kali ia datang setelah perpindahan selesai. Ia memeriksa jalan masuk, melihat tirai yang dibuat Mita dan menanyakan letak dapur. Pot melati berada di teras, masih berupa tanaman kecil. Ati mengenali pot kosong yang diberikannya dan menyentuh tepinya sebelum masuk.
Sinta membuat minum serta meletakkan barang bawaan pada rak yang sudah disiapkan. Jaket ditempatkan bersama baju Aldo, buku bersama bacaannya sendiri. Tidak ada kamar yang dibiarkan hanya menjadi ruang untuk orang yang sudah meninggal. Ia perlu tempat tidur, tempat makan dan ruang bergerak untuk dirinya sekarang.
'Lumayan dekat dari restoran,' kata Ati setelah melihat ruangan.
'Iya. Aku bisa pulang lebih cepat ketika selesai. Kalau hari kerja panjang, tidak habis semua tenaga di jalan.'
Mereka duduk sebentar tanpa membicarakan calon suami atau kehamilan baru. Ati menanyakan makanan yang biasa dimasak Sinta. Perempuan itu menunjukkan bahan sederhana yang dibeli untuk beberapa hari, lalu mereka bertukar pendapat mengenai cara menyimpan agar tidak terbuang. Obrolan biasa itu membuat kunjungan terasa seperti datang ke rumah seseorang yang masih mempunyai rencana.
Sesudah tamu pulang, Sinta membuka dua buku yang dibawa dan memilih satu untuk dibaca malam. Daftar barang telah selesai, bukan karena mereka tidak akan pernah merasa sedih lagi, melainkan karena tiap benda sudah mempunyai keputusan. Ia menaruhnya pada map, mengunci pintu dan pergi membeli kebutuhan makan dengan tangan yang tidak lagi harus membawa seluruh rumah lama setiap kali melangkah keluar.