Surat itu sampai melalui Rangga setelah disampaikan sesuai jalur yang diperbolehkan dari tempat Lina menjalani pidana. Ia tidak langsung meletakkannya di bantal Mita atau meminta Rival menjadi pengantar. Ia memberitahu ada surat yang ditujukan kepadanya dan menanyakan apakah ingin menerima sekarang, disimpan dahulu atau tidak dibaca. Amplop tetap tertutup selama keputusan belum diberikan.
Mita memilih menerima, tetapi akan membacanya sendiri pada waktu yang diinginkan. Rangga menyerahkan tanpa menceritakan betapa lama ibunya menulis. Kelemahan lengan kiri Lina tetap ada; tulisan dibuat dengan tangan yang dapat digunakannya, perlahan dan dengan jeda. Kesulitan fisik tidak dijadikan nilai tambahan yang mewajibkan penerima membalas.
Pada malam ketika Rival sudah tidur, Mita duduk di meja kecil. Rangga berada di ruang lain sesuai permintaannya. Ia membuka amplop, melihat nama sendiri pada lembar pertama dan berhenti sebentar sebelum melanjutkan. Ia masih dapat memilih meletakkan surat itu bila tubuhnya tidak sanggup membaca sampai akhir.
'Untuk Mita,
Aku menulis karena ada tanggung jawab yang perlu kusebut dengan namanya sendiri, bukan untuk meminta kamu datang. Aku membakar rumah yang kamu tempati bersama Rangga. Aku melakukannya dengan sengaja, ketika kalian pergi. Aku ingin kalian tinggal di rumahku dan aku mempunyai keinginan mencelakai kandunganmu. Itu pilihanku, bukan akibat perilakumu sebagai menantu.
Sesudahnya aku membiarkan kamu menerima bantuanku tanpa mengetahui bahwa aku yang membuatmu membutuhkan pertolongan. Aku mendengar orang menyebutku baik dan tidak meluruskan. Kebohongan itu berlangsung bertahun-tahun. Aku juga memakai kedudukanku sebagai ibu untuk mengatur hidup kalian, seolah anak yang menikah harus tetap menuruti semua keinginanku.
Aku sudah memberikan keterangan dan menerima putusan yang sekarang kujalani. Penggantian kerugian yang disepakati telah dibayar dari hartaku. Uang itu tidak mengembalikan barang pribadi serta rasa amanmu, dan bukan pembayaran untuk mendapatkan maaf. Aku tidak menagih kunjungan, balasan surat atau kesempatan menemui Rival melalui kamu.
Kebutuhan kesehatanku disampaikan melalui petugas dan diurus keluarga pada bagian yang memang dapat mereka lakukan. Kamu tidak harus datang agar perawatan itu berjalan. Bila kamu tetap memilih berjarak, aku perlu menerima pilihan tersebut tanpa mengirim anak-anakku membujuk.
Aku menyesal atas perbuatan yang kulakukan. Aku tidak berhak menentukan kapan atau apakah kamu akan memaafkan. Aku menulis supaya setidaknya penyesalanku tidak kembali berubah menjadi pekerjaan yang harus kamu selesaikan untuk membuatku tenang.
Lina.'
Mita membaca sampai tanda nama, lalu meletakkan lembar pada meja. Kalimat mengenai kandungan membuat tangannya dingin, meskipun ia telah mendengar pengakuan itu pada pertemuan dahulu. Ada perbedaan antara mengetahui dan menemukan tubuh sendiri bereaksi ketika kata-kata kembali hadir. Ia berdiri, mengambil air dan duduk lagi setelah napasnya lebih teratur.
Ia tidak langsung merasa lega. Sebagian dirinya marah karena surat yang paling jujur baru dapat ditulis setelah begitu banyak tahun. Bagian lain merasa bersyukur tidak lagi menerima alasan bahwa semua terjadi karena seorang ibu terlalu menyayangi anak. Perasaan tersebut tetap bercampur, dan ia membiarkannya berada di sana tanpa memilih jawaban yang mudah diceritakan kepada orang lain.
Ketika siap, ia memanggil Rangga. Ia mengatakan sudah membaca dan belum ingin membalas atau berkunjung. Ia juga meminta isi surat tidak dikirim kepada kelompok keluarga untuk menilai apakah penyesalan Lina cukup baik. Tulisan itu ditujukan kepadanya; ia tidak sedang membuka pemungutan pendapat tentang apa yang sekarang harus dilakukan.
'Aku akan memberi tahu Ibu suratnya sudah diterima kalau kamu mengizinkan. Hanya itu,' ujar Rangga.
Mita menyetujui kabar penerimaan. Ia tidak mengizinkan tambahan bahwa suaranya terdengar lebih lembut atau ia mungkin berubah pikiran. Rangga menerima batas tersebut. Pada kabar berikutnya melalui jalur yang digunakan, ia menyampaikan surat telah sampai, tanpa meminta Lina menafsirkan diam sebagai persetujuan atas sesuatu yang tidak dikatakan.
Neni sempat menanyakan apakah surat membuat Mita ingin datang. Rangga mengatakan penerimaan surat tidak perlu dibicarakan sebagai kabar untuk semua orang. Ia tidak memberikan isi atau gambaran reaksi istri. Pembicaraan kemudian diarahkan kembali kepada jadwal kebutuhan Lina yang memang melibatkan kerabat tersebut. Neni berhenti bertanya setelah batas dijelaskan. Rangga tidak menunggu Mita mendengar pertanyaan itu dahulu lalu mengurus jawaban keluarga untuk kedua kalinya.
Di rumah, Mita memilih menyimpan amplop bersama lembarnya. Ia tidak perlu merobek agar jaraknya dianggap tegas, atau memajang agar semua orang melihat ia bersedia mendengar. Menyimpan adalah keputusan yang dapat dibuat untuk dirinya sekarang, tanpa menjanjikan keputusan sama pada waktu yang belum datang. Sesudah memasukkan ke map, ia mencuci gelas dan membiarkan meja kembali menjadi tempat kegiatan rumah yang biasa.
Esok harinya Mita memeriksa lembar surat dalam map pribadi, yang terpisah dari berkas usaha. Surat pengakuan asli yang dahulu diserahkan tetap menjadi bagian penanganan perkara; lembar baru ini tidak menggantikannya atau mengubah hasil putusan. Ia tidak perlu memindahkan semua bukti ke tempat lain hanya karena keluarga mulai dapat berbicara dengan kata yang lebih jujur.
Wanda menanyakan ukuran pelanggan ketika Mita tiba di butik. Mereka memeriksa catatan, melanjutkan jahitan dan menerima satu pakaian yang perlu dikecilkan. Menjelang siang, Mita merasa ingin berhenti beberapa menit. Ia memberitahu pegawainya, duduk di ruang belakang dan kembali setelah siap, tanpa menceritakan isi surat untuk memperoleh izin mempunyai hari yang lebih berat.
Pada sore yang sama, Rival meminta bantuan mencari foto kegiatan sekolah. Mita membuka folder yang memang ingin dilihat anak dan memilih bersamanya. Surat Lina tidak diperlihatkan sebagai pelajaran tentang bagaimana orang jahat akhirnya menyesal. Rival mempunyai hubungan serta pertanyaan yang perlu ditangani sesuai usianya, tanpa memikul tulisan yang menyangkut ancaman terhadap hidup ibunya sebelum ia lahir.
Malamnya Mita menutup laci dan memeriksa persiapan esok hari. Lina masih menjalani pidana, kebutuhan keluarganya sudah mempunyai pengurus dan pembayaran kerugian selesai. Surat tidak menuntut keputusan baru. Mita dapat membiarkannya tersimpan sambil tetap menjalani jarak yang dipilih, lalu tidur tanpa menulis kalimat pengampunan hanya agar orang lain merasa cerita keluarga telah berakhir dengan rapi.