Delapan belas bulan setelah Aldo wafat, Sinta berdiri di depan rumah sewa kecil yang sudah beberapa kali dilihatnya. Jarak ke restoran dapat ditempuh tanpa perjalanan panjang. Ia telah datang pada waktu berbeda untuk mengenali keadaan gang, memeriksa air serta pengeluaran yang perlu ditanggung. Harga sewanya masuk dalam perhitungan menggunakan hasil yang benar-benar diterima, dengan cadangan tetap disisihkan.
Ia tidak mengambil pilihan pertama karena takut kesempatan akan hilang. Ada rumah lebih murah yang terlalu jauh dari pekerjaan, ada yang memerlukan perbaikan dengan biaya belum jelas. Pada tempat yang dipilih, pemilik menjelaskan keadaan serta tanggung jawab masing-masing sebelum Sinta menyetujui. Ia membaca, bertanya dan menyimpan salinan setelah semua dipahami.
Pembayaran dilakukan dari uangnya sendiri. Dimas tidak membelikan rumah sebagai hadiah karena ia sudah dapat bekerja, dan Mita tidak diminta menjamin seluruh biaya. Sinta memiliki penghasilan dari pengelolaan yang telah berjalan, termasuk masa sebelum kehilangan Aldo. Kini ia menggunakannya untuk keputusan tempat tinggal yang memang ingin dibuat.
Rusman duduk di ruang tamu ketika Sinta menyampaikan tanggal pindah. Ayahnya sudah mengetahui rencana sejak beberapa waktu, tetapi mendengar hari yang pasti tetap membuatnya terdiam. Ia menanyakan barang apa yang perlu dibawa dan bagaimana ia akan pulang jika mempunyai keperluan malam. Sinta menjelaskan pilihan perjalanan serta orang yang dapat dihubungi sesuai kebutuhan.
'Bapak pasti sepi,' ujar Rusman sesudah beberapa saat.
'Aku akan tetap mengunjungi Bapak pada waktu yang kita pilih. Tapi aku ingin tinggal di tempatku sendiri.'
Rusman mengangguk, lalu menyebut kegiatan yang sudah dijalaninya bersama tetangga dan urusan rumah yang kini dapat diatur. Jika kelak memerlukan bantuan, ia akan menanyakannya tanpa menganggap kepulangan putrinya sebagai satu-satunya jawaban. Kasih sayang kepada anak tidak lagi dinyatakan dengan memastikan anak tidak mempunyai alamat berbeda.
Barang Sinta tidak banyak, tetapi ia memilih berdasarkan ruang yang tersedia. Baju Aldo yang dibawa dahulu, agenda serta beberapa foto ditempatkan dalam wadah yang dipisahkan dari barang dapur. Telepon lamanya yang telah dibersihkan dari salinan foto pemaksaan tetap disimpan sebagai perangkat pribadi, terpisah dari pakaian serta buku milik Aldo yang akan dibawanya.
Ia menghubungi Ati untuk meminta satu pot kosong yang pernah dilihat di halaman. Ati memeriksa, lalu mengatakan pot itu boleh diambil bila memang akan digunakan. Sinta datang sesuai waktu, mengambil pot serta berbicara sebentar. Mereka juga menentukan hari untuk menyelesaikan pemilihan sisa barang Aldo di rumah, sekarang Sinta sudah mengetahui ruang yang dapat disediakan.
Pada hari pindah, Rangga membantu mengangkut barang berat dengan waktu yang telah disetujui. Dimas datang setelah keperluan anaknya ditangani. Anisa sedang tidak bekerja, tetapi tidak otomatis dijadikan orang yang harus datang membersihkan. Mita membantu memilih satu tirai pada sore sebelumnya, menerima pembayaran Sinta untuk bahan serta pekerjaan yang memang dilakukan di butik.
Sinta membuka pintu dengan kunci yang baru diterima dari pemilik. Mereka menaruh kotak pada tempat yang ditunjukkannya, menguji lampu serta keran dan memperhatikan satu engsel yang perlu diperbaiki. Pemilik sudah menyetujuinya, lalu datang bersama orang yang menangani sebelum sore. Sinta memeriksa hasil dan memastikan pintu dapat ditutup dengan baik.
Sesudah barang besar selesai, ia mengucapkan terima kasih dan membiarkan saudara-saudaranya pulang pada waktunya. Tidak ada tuntutan makan bersama sampai malam. Ia ingin mempunyai beberapa jam untuk mengenali rumah tanpa harus terus menjadi tuan rumah yang melayani kelelahan semua orang. Ia menyapu, menaruh peralatan makan dan mengisi air minum.
Tetangga sebelah memperkenalkan diri sebagai Bu Nanik ketika melihat pintu masih terbuka. Sinta menanyakan tempat membuang sampah serta waktu petugas lingkungan biasa datang. Mereka berbicara beberapa menit di teras. Ketika ditanya tinggal dengan siapa, Sinta menjawab sendiri dan memberikan nomor yang dapat digunakan untuk keperluan lingkungan, tanpa merasa wajib menceritakan seluruh kehilangan serta perkara ibunya kepada orang yang baru ditemui. Bu Nanik menunjukkan rumah pengurus gang dan mengingatkan bagian jalan yang kadang tergenang setelah hujan. Sinta mencatat informasi itu, lalu menutup percakapan dengan ucapan terima kasih. Ia belum mengenal semua orang, tetapi dapat mulai mengetahui lingkungan melalui pertanyaan yang biasa. Rumah tersebut akan terasa akrab dari kebiasaan yang dibentuk perlahan, bukan karena pada hari pertama semua rasa takut harus sudah menghilang.
Pada sore pertama itu, Sinta membeli satu bibit melati dari penjual tanaman di dekat jalan utama. Ia memilih tanaman kecil yang dapat dirawat di pot, menanyakan kebutuhan dasarnya dan membawa pulang bersama media yang sesuai. Pot kosong pemberian Ati dicuci, disiapkan dan dipakai untuk menanam satu kali. Ia meletakkannya di bagian teras yang mendapat cahaya cukup.
Tidak ada bunga pada saat itu. Beberapa daun tampak sedikit terlipat setelah perjalanan. Sinta memberinya air sesuai kebutuhan, membersihkan tanah yang tercecer dan duduk di lantai teras sebentar. Ia tidak menanam pengganti Aldo atau bayi yang hilang. Ia membeli tanaman karena ingin merawat sesuatu di halaman tempat ia akan pulang setiap hari.
Malam turun lebih cepat daripada perasaannya selesai menata. Ia memasak makanan sederhana, makan di meja kecil dan mendengar suara tetangga menutup pagar. Kesunyian sempat membuat dadanya sesak. Ia menelepon Ati untuk mengatakan sudah menempati rumah, lalu mengakhiri setelah percakapan cukup tanpa meminta sambungan dibiarkan terbuka sampai tertidur.
Sinta memeriksa kunci pintu, menyiapkan pakaian restoran dan menaruh nomor penting di tempat yang mudah ditemukan. Jadwal perawatan tetap disimpan serta akan dijalani sesuai kebutuhan. Tinggal sendiri tidak berarti menolak bantuan yang diperlukan atau menyembunyikan hari buruk agar keputusan pindah terlihat benar di hadapan semua orang.
Sebelum tidur, ia memandang ruangan yang masih menyisakan kotak. Besok ada barang lain yang dapat ditata. Baju Aldo tersimpan, Ibu tetap menjalani pidana dan ayahnya tidur di alamat berbeda. Semua kenyataan itu ikut hadir tanpa menghalangi satu keputusan baru: malam ini ia mematikan lampu di rumah yang dipilih serta dibayarnya sendiri, lalu beristirahat untuk kehidupan yang tetap ingin dijalani.