Anisa sudah menyiapkan tas sejak malam, tetapi pagi itu Aqila menyembunyikan sepatunya di bawah meja belajar. Pertemuan orang tua di sekolah bertepatan dengan jadwal persiapan yang tidak dapat dipindahkan sembarangan. Dimas sudah berjanji datang. Bagi Aqila, penjelasan itu tidak mengubah kenyataan bahwa kali ini Ibu kembali pergi membawa buku.
'Aku mau Ibu,' katanya ketika Anisa menemukannya duduk di lantai.
Anisa menahan keinginan menjawab bahwa semua dilakukan untuk masa depan keluarga. Anak itu membutuhkan seseorang mendengar kekecewaannya sekarang, bukan alasan besar yang membuatnya merasa bersalah karena ingin ditemani. Ia duduk selama waktu yang masih tersedia dan mengatakan Ayah akan hadir di sekolah, sementara sore mereka mempunyai waktu melihat hasil tugas bersama.
'Kalau aku bilang jangan pergi, Ibu tetap pergi?'
'Hari ini Ibu tetap pergi. Kamu boleh sedih. Ayah sudah tahu yang perlu dibawa dan Ibu akan pulang seperti jadwal yang kita tulis.'
Dimas membawa tas Daniel ke ruang depan. Anak bungsunya sudah semakin aktif dan beberapa kali mencoba meraih benda yang diletakkan terlalu dekat. Ia memeriksa keperluan makan serta barang ganti sebelum membantu Aqila mengenakan sepatu yang akhirnya dikeluarkan. Ia tidak menyuruh kakak kecil itu menjaga adiknya selama ia menjawab telepon usaha.
Mereka mempunyai bantuan pengasuhan berbayar pada waktu tertentu yang telah dibicarakan bersama. Pagi itu pengasuh yang biasa datang memberi kabar sedang sakit. Dimas memeriksa pilihan yang benar-benar tersedia. Ia memindahkan pemeriksaan cabang kepada penanggung jawab yang mengetahui tugasnya, kemudian memberi tahu sekolah akan datang bersama Daniel. Kebutuhan mendadak tidak otomatis dikirim menjadi alasan Anisa membatalkan kepergiannya.
Di perjalanan, Aqila mengatakan ia tidak menyukai buku baru Ibu. Dimas menanyakan apakah ia marah karena merasa lebih sering menunggu. Aqila mengangguk sambil mengusap hidung. Ayahnya mendengar sampai ia selesai, lalu menjelaskan bahwa orang tua akan memeriksa jadwal agar waktu bersama tetap ada. Aqila tidak perlu merobek atau menyembunyikan buku untuk membuat keinginannya didengar.
Pertemuan berlangsung di kelas kecil dengan hasil pekerjaan anak-anak ditempel di dinding. Dimas meletakkan barang Daniel di samping kursi dan mendengarkan penjelasan guru. Ketika bayi mulai gelisah, ia berdiri di dekat pintu, tetap dalam jangkauan pandang Aqila. Ia meminta guru mengulang satu bagian sesudah Daniel tenang, alih-alih mengangguk lalu berharap Anisa menanyakan ulang seluruh informasi nanti.
Guru menyebut Aqila akhir-akhir ini cepat berhenti mengerjakan sesuatu jika hasilnya tidak seperti contoh. Dimas meminta melihat pekerjaan yang dimaksud. Ada gambar dengan satu sudut kosong, kemudian lembar lain yang dilipat karena garisnya meleset. Ia mengenali keluhan anaknya beberapa malam sebelumnya, ketika semua orang sedang sibuk dan ia hanya mengatakan coba lagi tanpa duduk melihat.
Sepulangnya mereka membeli bahan makan yang diperlukan, lalu kembali sebelum waktu tidur siang Daniel. Dimas menunda panggilan pemasok sampai anak berada di tempat aman. Ketika percakapan kerja harus dilakukan, ia membuatnya singkat dan sesuai urusan. Aqila bermain dengan kertas di meja dekatnya, tidak diberi tugas mengawasi bayi sebagai ganti waktunya sendiri.
Satu cabang melaporkan pengiriman sayur kurang. Penanggung jawab sudah mempunyai pilihan pengganti, tetapi menunggu persetujuan pembelian. Dimas memeriksa jumlah dan menyetujuinya melalui catatan yang jelas. Ia baru datang ke cabang pada hari berikutnya. Keputusan itu mengganggu kebiasaan mengerjakan semua sendiri, namun mencegah rumah mereka selalu membayar setiap kali usaha memerlukan penyesuaian.
Anisa menjalani sesi penilaian latihan pada pagi tersebut. Ia masih mendapat koreksi, termasuk soal kebiasaan kerja lama yang perlu disesuaikan. Ia mencatat tanpa menjadikan pengalaman menjadi ibu sebagai jawaban atas semua kebutuhan kemampuan. Di tempat itu ia hadir sebagai orang yang sedang mempersiapkan pekerjaan, dengan tanggung jawab yang nantinya menyangkut orang di luar keluarganya.
Ia pulang ketika Daniel baru bangun. Dimas menyampaikan hasil pertemuan sekolah, bagian yang belum dipahami dan pesan yang perlu ditanggapi bersama. Ia tidak menyerahkan setumpuk kertas sambil mengatakan semua sudah selesai. Mereka membaca bagian penting dahulu, kemudian menentukan waktu menanyakan satu hal kepada guru melalui jalur yang biasa digunakan sekolah.
Aqila menunggu sampai ibunya duduk. Ia membawa gambar yang sudutnya kosong dan mengatakan takut temannya menertawakan. Anisa meminta ia menunjukkan bagian yang sebenarnya ingin dibuat. Dimas mengambil kertas lain untuk mencoba bersama, tanpa menarik pensil dari tangan anak agar hasilnya cepat tampak bagus.
Percobaan pertama masih miring. Aqila meremas bibir, lalu mencoba sekali lagi setelah melihat Ayah juga membuat garis yang tidak lurus. Mereka menyelesaikan sebagian gambar, berhenti untuk makan dan menyimpan sisanya dengan rencana kapan akan dilanjutkan. Tidak ada tuntutan agar Aqila gembira karena kedua orang tuanya telah mengatur waktu.
Malam itu Anisa dan Dimas memperbaiki pembagian jadwal pekan depan. Waktu belajar, pekerjaan cabang dan kebutuhan anak ditulis pada tempat yang sama. Mereka juga menghubungi pengasuh untuk memastikan keadaan serta hari ketika ia dapat kembali, tanpa menuntut orang sakit memberi bantuan darurat.
Esok sore, waktu melanjutkan gambar benar-benar dijalankan. Anisa menaruh bukunya lebih dahulu dan Dimas kembali sebelum makan malam. Aqila menyelesaikan sudut yang kosong dengan warna yang dipilih sendiri. Ia sempat bertanya apakah boleh hasilnya berbeda dari contoh. Kedua orang tuanya melihat bagian yang dimaksud, kemudian membiarkannya memutuskan. Ketika kertas dimasukkan ke map, Aqila masih berharap Ibu dapat datang pada pertemuan berikutnya. Anisa mengatakan mereka akan memeriksa tanggal setelah pemberitahuan sekolah keluar. Ia tidak menjanjikan sesuatu yang belum diketahui untuk membuat sore itu terasa sempurna. Namun, kali ini Aqila sudah mempunyai satu pengalaman kecil bahwa waktu yang disepakati memang datang, dan kesibukan orang dewasa tidak membuat semua janjinya selalu dapat digeser tanpa penjelasan.
Sesudah semua itu, Dimas duduk sebentar di ruang tamu yang berantakan. Ia lelah, dan Anisa juga lelah oleh persiapan yang dijalaninya. Mereka membereskan bagian yang diperlukan untuk pagi, menyisakan pekerjaan lain. Aqila tertidur dengan gambar tersimpan di dekat tasnya, sementara buku keperawatan Anisa tetap berada di meja, terbuka pada halaman yang akan dibaca besok.