Sepuluh bulan setelah kehilangan Aldo, Sinta meminta mencoba satu layanan makan siang penuh. Ia sudah berbulan-bulan datang dua pagi setiap pekan, mengikuti kebutuhan perawatan dan menambah pekerjaan hanya sesudah dibicarakan. Kali ini ia ingin melihat apakah sanggup berada di restoran sampai kesibukan utama selesai, dengan Beni tetap memimpin dapur.
Ia mengajukan hari Rabu ketika jumlah pemesanan dapat diperkirakan. Dimas memeriksa pembagian tugas bersama mereka. Percobaan itu tidak mengganti jabatan Beni atau mencabut pembayaran tambahan yang selama ini diterimanya. Sinta akan mengatur penerimaan pesanan, komunikasi layanan dan keputusan yang memang berada dalam tanggung jawabnya, sementara urusan masak tetap dipimpin orang yang paling mengetahui keadaan dapur hari itu.
Pada pagi yang sama, Mita menyerahkan sepuluh set pertama pesanan katering. Ukuran dicocokkan dengan daftar, satu celana dibawa kembali untuk penyempurnaan yang disepakati dan pembayaran tahap pertama diselesaikan setelah perbaikan. Kabar singkat itu diterima Sinta sebelum pelanggan mulai datang. Ia membalas selamat, lalu menyimpan telepon di laci kerja.
Menjelang sebelas, seorang pelayan melaporkan persediaan bungkus hampir habis. Sinta memeriksa jumlah pesanan bawa pulang yang sudah diterima. Barang yang tersedia cukup untuk sebagian, tetapi tambahan dari pemasok belum tiba. Dahulu ia mungkin langsung memarahi orang yang memeriksa stok, berharap rasa takut membuat masalah menghilang lebih cepat.
Ia meminta mereka memisahkan bungkus sesuai pesanan yang telah dibayar, lalu menelepon pemasok. Kiriman tertahan karena kendaraan mengalami masalah. Sinta menanyakan jumlah yang benar-benar dapat diterima hari itu dan waktu tiba, bukan menerima jawaban sebentar lagi yang dapat berarti apa saja. Sesudah jelas, ia meminta Dimas menyetujui pembelian darurat dengan harga yang tercatat.
'Pakai yang biasa untuk pesanan ini,' kata Beni sambil menunjukkan wadah pengganti. 'Tapi ada kuah yang tidak aman dibawa dengan tutup seperti itu.'
Sinta membawa contoh ke meja layanan dan memeriksa bersama pelayan. Mereka menyisihkan wadah yang tidak sesuai untuk menu berkuah. Pelanggan baru diberi informasi waktu tunggu sebelum membayar. Pesanan yang sudah diterima dihubungi apabila perubahan kemasan memerlukan persetujuan. Tidak ada makanan yang dibiarkan tumpah di perjalanan hanya agar layanan tampak berjalan tanpa gangguan.
Pada saat yang sama, satu meja meminta hidangan keluar bersamaan karena mereka harus kembali bekerja. Sinta melihat antrean dapur lalu menjelaskan perkiraan waktunya. Ia tidak menyuruh Beni mendahulukan meja tersebut dengan menggeser pesanan orang yang sudah menunggu. Pelanggan boleh memilih melanjutkan atau mengubah pesanan setelah memperoleh informasi yang dapat digunakan.
Seorang tamu tetap marah karena waktu yang dimilikinya pendek. Suaranya mengingatkan Sinta pada percakapan lama yang selalu berakhir dengan ia membalas lebih keras. Dadanya menegang. Ia meminta pelayan lain mendampinginya di meja, mendengar keluhan sampai selesai dan menawarkan pengembalian pembayaran untuk bagian yang belum diproses sesuai kesepakatan layanan hari itu.
Urusan selesai tanpa pelanggan mengatakan ia puas. Tamu tersebut pergi membawa sebagian pesanan, dan Sinta mencatat kejadian untuk dibicarakan sesudah ramai. Ia berjalan ke ruang belakang, minum beberapa teguk air dan memberi tahu Beni akan kembali dalam beberapa menit. Ia tidak harus mempertahankan wajah tenang terus-menerus agar dianggap pantas mencoba bekerja.
Di dekat wastafel, ia melihat pantulan diri yang berkeringat. Ada rasa malu karena masih membutuhkan jeda. Kemudian ia mendengar pintu dapur dibuka, suara piring dan seseorang tertawa tentang hal kecil yang tidak berkaitan dengan dirinya. Restoran terus berjalan. Jeda lima menit seorang pengelola tidak berarti semua orang sedang menunggunya gagal.
Ketika ia kembali, wadah darurat sudah tiba. Sinta memeriksa jumlah, menyimpan nota dan meminta perbedaan biaya dicatat. Ia berterima kasih kepada pelayan yang sejak pagi mengingatkan persediaan, lalu meminta agar batas jumlah minimum stok diperbaiki bersama. Nama orang tersebut tidak ditulis sebagai pihak yang akan dipotong upah karena masalah kiriman.
Pukul dua lewat, antrean berkurang. Mereka makan bergantian, termasuk Sinta yang hampir melewatkan waktunya sendiri. Dimas datang dan melihat catatan kejadian, tetapi menunggu sampai ia selesai makan sebelum bertanya. Ia tidak menilai keberhasilan hanya dari apakah adiknya menangis atau mampu tersenyum kepada setiap orang.
'Apa yang paling berat?' tanyanya.
'Mendengar orang marah lalu tidak langsung menganggap aku harus memenangkan percakapan,' jawab Sinta. 'Dan berhenti sebentar tanpa merasa meninggalkan semuanya.'
Beni menyampaikan bagian pekerjaan yang berjalan baik serta keputusan kemasan yang terlambat beberapa menit. Mereka membahas cara memberi kabar lebih cepat dari gudang. Kritik tersebut terasa biasa dan dapat dikerjakan. Sinta menulis satu perubahan di buku layanan untuk diuji pada giliran berikutnya.
Seorang pelayan baru ikut duduk setelah makan. Ia mengaku sempat takut menyampaikan stok hampir habis karena mengira akan dianggap tidak mampu bekerja. Sinta meminta ia tetap memberi kabar secepat mungkin, termasuk bila orang yang sedang bertugas pernah merespons dengan buruk. Ia kemudian memeriksa catatan jam tambahan hari itu bersama Dimas. Dua orang yang harus mengambil pengganti kemasan mempunyai waktu kerja lebih panjang, dan bagian tersebut dimasukkan dalam pembayaran. Beni juga perlu pulang tepat waktu untuk mengantar anggota keluarganya berobat esok pagi. Mereka memastikan penutupan sore ditangani giliran berikutnya. Sinta pernah terbiasa melihat orang di dapur sebagai tenaga yang selalu dapat dipanggil. Mendengar rencana Beni di luar restoran membuatnya kembali mengingat bahwa jadwal yang rapi hanya berguna bila kehidupan orang-orang yang menjalankannya ikut dihitung.
Mereka sepakat tidak langsung menjadikan setiap hari sebagai giliran panjang. Sinta akan kembali pada dua pagi yang sudah berjalan, kemudian mencoba satu layanan penuh lagi pekan depan bila keadaan memungkinkan. Peningkatan tanggung jawab mempunyai langkah yang dapat dihentikan dan diperbaiki, bukan perlombaan membuktikan dirinya sembuh kepada orang yang tidak mengetahui kebutuhannya.
Sore itu ia pulang dengan kendaraan yang dipesannya sendiri. Rusman membuka pintu dan bertanya apakah sudah makan. Sinta mengangguk, menaruh tas di kamar dan mengganti baju yang berbau dapur. Ia ingin mandi, lalu duduk tanpa percakapan selama beberapa waktu. Kelelahan hari itu jelas asalnya: sebuah layanan makan siang yang benar-benar dikerjakan, bersama orang lain yang juga menerima hak untuk beristirahat setelah tugas mereka selesai.