Lina memilih baju yang mudah dikenakan sendiri pada pagi pemeriksaannya. Rusman membantu merapikan bagian lengan, kemudian memasukkan dokumen kesehatan yang memang diminta ke dalam tas. Ia menanyakan apakah perlu membawa salinan surat pengakuan. Lina memeriksa map dan mengangguk. Dokumen asli sudah diserahkan Mita beberapa bulan lalu, sehingga yang dibawanya hanya salinan untuk mengenali tulisannya sendiri.
Rangga mengantar dengan kendaraan. Mereka berangkat lebih awal agar Lina dapat berjalan sesuai kemampuannya. Rusman memegang tas, sedangkan Rangga berada di dekat sisi yang memerlukan bantuan. Tidak seorang pun membicarakan jawaban yang paling menguntungkan keluarga sepanjang perjalanan. Lina memandang jalan yang ramai, mencoba mengingat bahwa ketakutannya datang dari perkara yang harus dihadapinya, bukan dari kesalahan orang yang melapor.
Di ruang tunggu, ia ingin meminta Rangga menelepon Mita. Keinginan itu muncul begitu wajar, seolah istri anaknya masih harus datang bila keluarga berada dalam kesulitan. Ia mengalihkan pandangan ke tongkat, kemudian meminta air kepada Rusman. Mita sudah memberikan keterangan pada waktu sendiri dan tidak berkewajiban duduk di dekat orang yang pernah ingin mencelakainya.
Pemeriksaan dilakukan dengan kebutuhan fisik Lina diperhatikan. Ia memperoleh kesempatan berhenti ketika lelah, lalu melanjutkan setelah siap. Kondisi itu dicatat sebagaimana adanya. Tidak ada keajaiban yang membuat tangannya pulih karena ingin menandatangani, dan tidak ada alasan menghapus pertanyaan hanya karena jawaban akan membuatnya tertekan.
Sebelum melanjutkan, ia sendiri memberitahu bila posisi duduk membuat bahunya sakit. Petugas mengatur jeda dan tempat yang lebih sesuai. Rusman baru menyerahkan informasi kesehatan melalui orang yang menerimanya, tanpa masuk untuk menjawab pertanyaan tentang kebakaran atas nama istrinya. Ia dapat membantu Lina memahami jadwal obat dan kebutuhan fisik, sementara perbuatan yang sedang diperiksa tetap harus dijelaskan oleh orang yang melakukannya. Keduanya belajar membedakan bantuan yang diperlukan dari kebiasaan mengambil alih percakapan agar keluarga terhindar dari malu.
Lina mengenali surat yang diperlihatkan. Ia menyatakan tulisan itu dibuat sendiri dengan waktu yang cukup, sebelum pertemuan keluarga. Ia tidak disuruh Mita mengaku atau diberi janji akan terbebas dari akibat bila menulis. Ia membicarakan perbuatannya sebagai keputusan yang dahulu diambil, termasuk maksud memaksa Rangga dan Mita pindah serta keinginannya terhadap kehamilan menantu.
Pertanyaan mengenai keadaan sesudah kebakaran membuatnya lama diam. Ia ingat menyambut mereka ke dalam rumahnya, mendengar kebutuhan mengganti barang dan membiarkan orang lain menganggapnya sedang berbuat baik. Ia juga menerima rasa terima kasih yang sebenarnya tumbuh di atas sesuatu yang disembunyikannya. Bagian itu terasa lebih sulit diucapkan daripada kata menyesal.
'Saya membiarkan mereka mengira saya menolong dari musibah,' katanya akhirnya. 'Padahal saya yang membuat rumah itu terbakar.'
Ia diminta menjelaskan mana yang diingat langsung dan mana yang baru diketahuinya dari keluarga. Lina tidak memakai percakapan sekarang untuk mengisi bagian masa lalu yang kabur. Ia dapat menerangkan perbuatan serta maksudnya sendiri. Ia tidak dapat memastikan apa yang dipikirkan tetangga atau mengaku tahu semua barang yang rusak hanya karena setelah itu menerima laporan dari anaknya.
Ketika penjelasan tertulis dibacakan, ada satu bagian yang terdengar seolah ia hanya ingin pasangan muda menempati rumah keluarga. Lina meminta ditambahkan bahwa ia tahu tindakan terhadap rumah mempunyai bahaya dan keinginannya saat itu juga menyangkut kandungan Mita. Ia tidak ingin niat yang paling buruk hilang di antara kalimat yang terdengar seperti urusan tempat tinggal.
Orang yang mendampinginya selama proses meminta ia memeriksa sebelum menyetujui. Lina membaca dengan lambat. Ia menanyakan arti satu kalimat, mendapat penjelasan dan mengoreksi bagian yang tidak sesuai ingatan. Kesempatan memahami keterangannya tidak berarti ia harus diberi jawaban yang membuat tindakannya terlihat lebih ringan.
Pada jeda berikutnya, Rusman menunggu di tempat yang ditunjukkan. Ia melihat istrinya menutup mata sebentar. Ia ingin mengatakan semua akan baik-baik saja, tetapi tidak mempunyai dasar menjanjikan hasil tersebut. Ia hanya menanyakan kebutuhan air serta apakah petugas sudah mengetahui keluhan fisiknya. Untuk pertama kali, perhatian suami tidak disertai perintah agar orang lain membuat kenyataan lebih menyenangkan.
Rangga menerima panggilan dari kantor dan menepi untuk menjawab. Ia sudah mengatur pekerjaan yang dapat ditunda dan orang yang menangani kebutuhan mendesak. Ia tidak mengirim keluhan kepada Mita bahwa mengantar ibunya membuat hari berantakan. Jika diperlukan pengantaran berikutnya, ia akan membaginya dengan Dimas serta Rusman sesuai kemampuan masing-masing.
Pemeriksaan selesai menjelang sore, dengan beberapa hal masih perlu ditindaklanjuti. Lina menyimpan informasi yang diberikan mengenai tahap berikutnya dan memastikan nomor yang dapat dihubungi benar. Tidak ada janji bahwa mengaku membuatnya dapat pulang dari setiap tahap tanpa konsekuensi lain. Ia membawa tubuh yang lelah kembali ke kendaraan, dibantu sesuai kebutuhan tanpa diperlakukan seolah sudah dihukum oleh kelelahan itu sendiri.
Di perjalanan pulang, Rusman bertanya apakah ada yang ingin diubah dari pengakuan kepada keluarga. Lina menggeleng. Ia mengatakan mungkin ada hal yang tidak sanggup diingat persis, tetapi perbuatan utama tidak berubah. Ia telah menyampaikan itu dalam pemeriksaan, dan keluarganya tidak perlu mengirim cerita baru untuk menutupi kata-kata yang baru diucapkan.
Mita menerima kabar singkat dari jalur pendamping bahwa keterangan Lina telah diberikan. Ia tidak meminta Rangga menceritakan percakapan ibunya secara rinci. Malam itu ia masih perlu menyelesaikan rencana pembelian bahan tahap kedua pesanan katering. Ia menaruh kabar di map perkara, lalu membuka buku kerja yang menunggu di meja.
Rival mendekat dan menanyakan kapan Ayah akan mengantarnya berenang lagi. Mita memeriksa jadwal yang telah disepakati, kemudian mengatakan mereka dapat menanyakan akhir pekan melalui telepon. Kebutuhan anak tidak dihapus karena ayahnya sedang menghadapi hari berat, tetapi jawabannya juga tidak dipakai untuk memaksa Rangga meninggalkan tanggung jawab kepada ibunya.
Di rumah orang tuanya, Sinta menyiapkan makan untuk dirinya sendiri dan menawarkan bagian yang memang tersedia. Ia tidak menunggu Lina bercerita untuk memutuskan apakah dapat menyayangi ibunya malam itu. Setelah makan, ia kembali ke kamar. Lina duduk bersama Rusman, menyimpan salinan dokumen di tempat yang dapat ditemukan lagi. Keterangan telah diberikan. Ketakutan masih ada, dan kali ini ia membiarkannya tetap menjadi bagian hidup yang harus ditanggungnya sendiri.