Lina mendengar sisa percakapan tentang Neni dari Rusman pada pagi berikutnya. Ia duduk di kursi dekat jendela, tongkat berkaki empat diletakkan dalam jangkauan tangan. Lengan kirinya masih lebih lambat bergerak. Waktu dan latihan membuat beberapa kegiatan dapat dilakukan kembali, tetapi ia tetap harus berpikir sebelum berdiri serta meminta bantuan untuk hal tertentu.
'Mereka kasihan sama Ibu,' ujar Rusman. 'Tapi caranya menekan Mita.'
Lina memandang halaman yang dulu sering dipakainya menghitung siapa datang dan siapa pergi. Ia ingin merasa lega bahwa masih ada kerabat membelanya. Perasaan itu datang lebih dahulu daripada malu. Sesudah beberapa saat, ia meminta Rusman mengambil telepon. Ia perlu mengatakan sendiri hal yang selama ini terlalu mudah dibiarkan menjadi tugas suami dan anak-anak.
Neni datang lagi dua hari kemudian bersama kerabat yang sebelumnya menemuinya. Kali ini mereka diberi tahu Lina ingin berbicara dan ia tidak akan ditemani Mita. Sinta berada di kamar, bersiap pergi sesuai jadwalnya. Ia sudah mengatakan tidak ingin menjadi saksi tambahan bagi percakapan yang menyangkut laporan kakak iparnya.
Lina memegang sandaran kursi ketika duduk lebih tegak. Ada bagian dari dirinya yang masih ingin membicarakan betapa ia dahulu takut kehilangan anak laki-laki. Kalimat itu terdengar akrab, sekaligus menyenangkan karena menempatkannya sebagai ibu yang terlalu menyayangi. Ia menelan ludah dan memulai dengan perbuatan yang selama ini selalu dicari alasan untuk mengecilkannya.
'Aku membakar rumah itu dengan sengaja. Mita dan Rangga sedang pergi. Aku ingin mereka pindah ke rumahku, dan aku juga ingin mencelakai kandungannya waktu itu.'
Kerabat di depannya terdiam. Lina tidak menambahkan cara yang dilakukannya atau merinci api untuk membuat pengakuan terasa lebih mengerikan. Ia perlu menyebut niatnya, sebab bagian itulah yang dahulu disembunyikan ketika ia membiarkan keluarga memandangnya sebagai orang yang hanya menawarkan tempat berlindung.
'Tapi kamu sekarang sudah menyesal,' kata Neni pelan.
'Aku menyesal. Tapi rumah itu tetap kubakar. Jangan minta Mita mencabut sesuatu atas nama aku. Aku akan memberikan keterangan ketika diminta.'
Neni menunduk memandang tasnya. Ia mengaku tidak mengetahui niat terhadap kehamilan Mita. Lina mengatakan ia memang baru membuka kebenaran sesudah bertahun-tahun. Ketidaktahuan orang lain berasal dari kebohongan yang dipeliharanya, bukan bukti bahwa Mita sekarang membesar-besarkan kejadian.
Sebelum pergi, Neni bertanya apa yang harus dikatakan kepada kerabat yang telanjur mendengar bahwa Mita menyeret ibu sakit demi uang. Lina meminta ia membetulkan cerita tersebut kepada orang yang memang sudah diajak bicara. Ia tidak meminta pengakuannya dijadikan pesan berantai ke seluruh keluarga. Neni mengeluarkan telepon dan menghubungi saudara yang sehari sebelumnya meneleponnya. Dengan suara pelan ia menyatakan bahwa Lina sendiri mengakui perbuatannya dan laporan itu bukan akal Mita untuk mengambil harta. Orang di ujung sambungan mengajukan beberapa pertanyaan. Lina mendengarkan sampai percakapan berakhir, menerima bahwa penjelasan tersebut membuat orang yang dahulu menyayanginya kini harus memikirkan hal yang sangat berbeda. Ia tidak dapat sekaligus meminta kebenaran disampaikan dan memastikan semua orang tetap memandangnya seperti dahulu. Kepada Neni ia menambahkan bahwa urusan kesehatan tetap akan ditangani oleh keluarga, terlepas dari ada atau tidaknya kunjungan Mita.
Mereka tidak langsung bersalaman dan menganggap pembicaraan selesai. Ada pertanyaan mengapa Lina dahulu sanggup menyembunyikannya ketika melihat Rangga mengumpulkan barang yang rusak. Ia menjawab bahwa saat itu ia lebih ingin mendapatkan apa yang dikehendaki daripada memikirkan akibat pada orang lain. Kata-kata itu membuat dadanya sesak, tetapi ia tidak meminta mereka berhenti bertanya demi menjaga perasaannya.
Sesudah tamu pulang, Lina meminta map simpanannya kepada Rusman. Di dalamnya ada catatan tabungan atas namanya serta beberapa perhiasan yang jarang dipakai. Ia ingin menyediakan bagian hartanya sendiri untuk mengganti kerugian, setelah jumlah serta bentuknya diperiksa bersama pihak yang membantu Mita. Ia tidak berhak menentukan sendiri berapa penderitaan seseorang layak dihargai.
Rusman mengambil kalkulator. Mereka memisahkan kebutuhan kesehatan yang masih berlangsung dari uang yang dapat disediakan. Ia bersedia membantu mengurus, tetapi Lina menyatakan pembayaran pertama harus berasal dari miliknya. Selama bertahun-tahun keluarga menutup kesalahan dengan memindahkan pekerjaan dan biaya kepada orang lain. Untuk kali ini ia perlu benar-benar melepaskan sesuatu.
Ada satu gelang yang dahulu dibeli ketika Rangga belum menikah. Lina memegangnya lama sebelum memasukkan ke kantong terpisah. Ia ingat pernah menganggap barang itu lebih pantas disimpan untuk anak perempuan daripada dipakai membantu menantu. Sekarang ia menelepon tempat yang dapat memeriksa nilai jualnya, lalu meminta Dimas mengantar pada waktu yang tidak mengganggu pekerjaannya.
Penaksiran dan penjualan dilakukan beberapa hari kemudian. Lina memeriksa hasilnya sebelum uang dimasukkan ke rekeningnya. Dimas menyimpan bukti sesuai permintaannya. Ia tidak membayar lebih dahulu lalu membiarkan ibunya merasa telah memberikan sesuatu yang sebenarnya masih diambil dari anak laki-lakinya.
Rangga menerima kabar mengenai dana itu dan meneruskannya kepada Mita melalui cara yang disepakati. Pesannya tidak berisi syarat tentang laporan, kunjungan atau kesempatan bertemu Rival. Mita meminta semua pembicaraan jumlah dilakukan bersama pendamping, dengan bukti yang tersedia. Ia belum menyatakan menerima penawaran pertama atau menjanjikan hubungan keluarga akan pulih.
Lina mendengar jawaban itu tanpa meminta balasan yang lebih hangat. Ketika hampir mengatakan setidaknya Mita dapat menghargai niatnya, ia berhenti. Dana pengganti datang setelah ia sendiri merusak rumah. Kesediaan korban memeriksa tawaran bukan penghinaan terhadap dirinya.
Sinta pulang menjelang petang dan melihat bekas tempat gelang di laci terbuka. Ia bertanya apakah ibunya memerlukan bantuan menghitung kebutuhan bulanan. Lina mengatakan sudah dikerjakan bersama Rusman. Ia tidak meminta putrinya melunakkan hati Mita melalui cerita tentang gelang atau rasa kehilangan benda lama.
Malam itu Lina melakukan latihan gerak yang memang masih perlu dijalaninya. Rusman menunggu di dekat kursi. Di antara hitungan yang pendek, pikirannya kembali kepada jawaban Mita. Ia masih takut menghadapi akibat perkara. Namun, untuk pertama kalinya rasa takut itu tidak dikirim menjadi permintaan agar orang lain mundur. Ia menyiapkan diri untuk panggilan berikutnya dan membiarkan uang tetap tersedia sampai pembicaraan kerugian dilakukan dengan benar.