Telepon pertama datang ketika Mita sedang menyematkan peniti pada seragam contoh. Nama kerabat Rangga muncul di layar, diikuti pesan bahwa pembicaraan hanya sebentar. Mita melepaskan peniti dari mulutnya, meminta pelanggan berdiri santai dan membiarkan panggilan berhenti. Ia akan menjawab sesudah pekerjaan yang sedang disentuhnya selesai.
Pesan berikutnya lebih panjang. Tante Neni, sepupu Rusman yang beberapa kali ditemuinya pada acara keluarga, meminta agar ia memikirkan umur Lina. Perkara sudah cukup memalukan. Rumah tangga mempunyai masalah masing-masing; membawa ibu mertua ke hadapan petugas dianggap membuat seluruh keluarga ikut menanggungnya.
Mita membaca sampai akhir. Pelanggannya menanyakan apakah perlu melanjutkan esok hari. Ia mengatakan ukuran tinggal satu bagian, kemudian merapikan lipatan lengan yang sempat terlepas. Sesudah pelanggan pergi, tangannya baru mulai gemetar. Ia duduk di bangku dekat meja potong dan menghubungi Laras untuk menyampaikan adanya tekanan tersebut.
Ia menyimpan pesan sebagaimana diterima. Balasannya singkat: urusan perkara sedang ditangani melalui jalurnya, dan ia tidak bersedia menerima tekanan untuk mengubah keterangan. Bila ada keperluan keluarga lain, Tante Neni dapat menghubungi Rangga. Setelah mengirim, Mita tidak membuka lagi layar setiap kali muncul tanda pesan baru.
Rangga mengetahui kejadian itu dari Tante Neni sendiri. Ia sedang makan siang dekat kantor ketika kerabatnya menelepon dan meminta ia membuat istrinya mengerti. Ia membawa piring ke meja yang lebih sepi agar dapat menjawab tanpa memperdengarkan perkara kepada teman-teman kerja.
'Kamu masih suaminya,' kata Tante Neni. 'Masak tidak bisa meminta baik-baik? Ibumu sakit. Kalau kejadian apa-apa, kamu mau bagaimana?'
'Saya bisa meminta banyak hal, Tante. Tapi saya tidak berhak memerintahkan Mita menghentikan laporan agar keluarga kita nyaman.'
'Dia sekarang malah tinggal sendiri dan kamu mengalah terus.'
Rangga memandang nasi yang mulai dingin. Cara bicara itu dahulu akan membuatnya merasa wajib menunjukkan siapa yang mengatur rumah. Kali ini ia menyebut sebab mereka tinggal terpisah: ia pernah melakukan kekerasan, dan Mita berhak menentukan rasa aman. Ia tidak menyampaikan detail perawatan atau percakapan pribadi istrinya sebagai bahan perdebatan.
'Soal Ibu, pengakuannya sudah diberikan. Yang memeriksa perlu mendengar keadaan sebenarnya. Kalau Tante ingin mengetahui kebutuhan Ibu, bicara dengan saya atau Bapak. Jangan minta Mita menanggung ketakutan kita.'
Tante Neni tetap merasa ia sedang durhaka. Rangga mengakhiri percakapan setelah mengulangi batasnya sekali, lalu melanjutkan makan. Tidak ada perasaan menang. Kerabat itu pernah membawakan makanan ketika ia kecil dan menjenguk saat ayahnya sakit. Menolak permintaannya tetap menyakitkan, meskipun permintaan tersebut jelas tidak patut diikuti.
Sore harinya Rusman menerima kunjungan dua kerabat, termasuk Neni. Lina sedang beristirahat, sedangkan Sinta belum pulang dari urusan restoran. Mereka duduk di ruang depan dan mulai membicarakan cara agar persoalan dapat diselesaikan di antara keluarga. Rusman mendengarkan sampai disebut bahwa Mita selama ini terlalu dimanjakan oleh suaminya.
'Saya dahulu juga merasa boleh membuat dia diam,' katanya. 'Saya pernah menamparnya sebelum mau mendengar. Itu bukan hal yang ingin saya teruskan dengan memakai mulut kalian.'
Neni menatapnya, terkejut karena teguran itu datang begitu tenang. Rusman tidak meninggikan suara atau memakai usia untuk memenangkan pembicaraan. Ia menjelaskan bahwa ia baru mengetahui perbuatan Lina dari pengakuannya. Ia tidak akan sekarang memilih menyembunyikannya demi mempertahankan gambaran bahwa rumah mereka selalu baik-baik saja.
Percakapan memanjang sampai teh di gelas tinggal dingin. Salah satu kerabat bertanya apakah Rangga mempunyai kesulitan membayar pengobatan ibunya. Untuk urusan tersebut Rusman bersedia menjelaskan pembagian kebutuhan. Begitu pembicaraan kembali kepada Mita, ia menghentikan. Dukungan kepada Lina harus berbentuk bantuan yang dapat diterima, bukan daftar alasan mengapa orang lain seharusnya menghapus akibat perbuatannya.
Malamnya Rangga memberi tahu Mita bahwa ia sudah menanggapi telepon serta meminta kerabat berhenti menghubunginya untuk perkara tersebut. Ia tidak meminta pujian. Ia juga menyampaikan bahwa Neni belum setuju, sehingga Mita dapat bersiap bila ada pesan baru. Orang itu tidak tiba-tiba berubah hanya karena satu percakapan.
'Aku sedang mengerjakan pesanan yang harus selesai,' jawab Mita. 'Kalau ada keperluan ibumu, atur lewat kamu dan Bapak. Jangan hanya memindahkan teleponnya besok lagi kepadaku.'
'Iya. Aku akan menangani bagian itu.'
Besok siang Neni mengirim satu pesan terakhir. Ia masih mengatakan kecewa, tetapi tidak lagi meminta Mita menemui orang untuk mencabut laporan. Mita menyimpannya bersama pesan sebelumnya dan tidak menjawab perasaan orang lain dengan janji yang akan membuat dirinya kembali terdesak. Ia melanjutkan memeriksa ukuran sepuluh set kelompok awal.
Wanda kemudian memberitahu ada seorang perempuan menelepon nomor toko dan menanyakan kapan pemiliknya sendirian. Ia tidak memberikan jadwal atau nomor pribadi tambahan. Sesuai kebiasaan untuk urusan pesanan, ia meminta nama serta keperluan. Perempuan itu menyebut nama Neni dan mengatakan urusan keluarga. Mita berterima kasih karena Wanda tidak menjawab pertanyaan di luar pekerjaan, lalu meneruskan kabar tersebut kepada Rangga.
Rangga menelepon kerabatnya lagi setelah pulang kantor. Ia menyebut panggilan ke butik sebagai bagian tekanan yang harus dihentikan. Kalau Neni datang, Mita berhak menolak percakapan, dan pegawai tidak perlu memberi jalan karena tamu mempunyai hubungan keluarga. Neni mengatakan hanya ingin memastikan ia dapat bicara baik-baik. Rangga menjawab bahwa permintaan Mita sudah jelas. Ia tidak akan membantu mencari waktu ketika istrinya kesulitan menghindar. Sesudah itu tidak ada panggilan serupa ke toko. Mita tetap mencatat kejadian tersebut, sebab berhenti mengganggu merupakan hal yang dapat dilihat, sedangkan janji melalui orang lain belum cukup untuk membuatnya menurunkan kewaspadaan.
Rival pulang membawa wadah bekal yang tutupnya macet. Mita membantunya membuka di dapur. Di balik suara air, ia menyadari sudah hampir satu jam tidak memikirkan telepon kerabat. Ada rasa lega yang sangat kecil, berasal dari pekerjaan yang dapat diteruskan karena seseorang benar-benar menghalangi tekanan sampai kepadanya. Sore itu ia memasak lauk yang disukai anaknya, lalu menyimpan ponsel agak jauh dari meja makan. Perkara masih berlangsung, tetapi rumahnya tidak harus menampung seluruh kemarahan orang yang baru mendengar.