Pertanyaan petugas kali ini membawa ingatan Rangga kembali pada halaman rumah yang sudah tidak mereka tempati. Yang dicari bukan keadaan tempat itu sekarang. Mereka perlu memastikan peristiwa kebakaran yang terjadi ketika ia dan Mita pergi ke pasar malam, jauh sebelum Rival dapat menceritakan sendiri apa yang dilihatnya di dunia.
Mita datang sesuai panggilan, didampingi Laras. Ia membawa foto asli bekas rumah dan catatan bantuan yang selama ini disimpannya. Surat pengakuan asli Lina sudah berada pada petugas sejak laporan pertama; Mita membawa salinan serta tanda penerimaannya. Ia tidak ingin salah menyebut benda mana yang masih dipegangnya ketika ditanya.
Ada foto sudut dapur, rangka atap dan barang yang tidak dapat dipakai lagi. Mita mengenali sebagian barang, tetapi tidak dapat memastikan harga belinya dari foto. Catatan bantuan menunjukkan orang yang memberikan uang atau bahan sesudah kebakaran. Catatan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan siapa yang menyalakan api.
'Saya tahu rumah terbakar ketika kami pergi. Saya tidak melihat Ibu berada di dalam saat api mulai,' katanya.
Petugas menuliskan, kemudian membacakan bagian yang perlu dipastikan. Mita memeriksa bahwa pengakuan Lina yang diterimanya bertahun-tahun kemudian tidak berubah menjadi kesaksian bahwa ia pernah melihat perbuatan tersebut langsung. Ia mengoreksi satu kalimat yang membuat dua waktu itu terdengar berdekatan.
Rangga menjalani pemeriksaan pada waktu berbeda. Ia memberikan penjelasan tentang pembangunan rumah dan uang yang dikeluarkan, termasuk bagian yang tidak lagi mempunyai kuitansi. Tidak semua biaya dapat dibuktikan dengan ingatan suami istri. Ia tidak meminta Mita menyetujui angka yang dibuat lebih tinggi agar ganti rugi kelak terasa setimpal dengan kemarahan mereka.
Urusan tanah memerlukan langkah tersendiri. Rusman menemukan berkas lama yang disimpan bersama dokumen keluarga. Rangga meminta pemeriksaan serta salinan pencatatan melalui tempat yang menyimpan dokumen tersebut. Hasilnya menegaskan pemberian tanah dari Lina telah dicatat atas namanya. Kepemilikan tanah berbeda dari bangunan yang rusak, dan berkas itu diserahkan untuk diperiksa, bukan dijadikan alasan agar Lina berhak membakar rumah di atasnya.
'Ibu dahulu memberikan tanahnya,' ujar Rangga ketika menjelaskan kepada Laras. 'Bukan berarti setelah itu bisa mengambil keputusan atas keselamatan istri saya.'
Mereka tidak menyelesaikan seluruh pemeriksaan dalam satu pagi. Foto disalin dan dicocokkan, beberapa dokumen diminta lagi. Saat foto asli diperlukan untuk disimpan dalam penanganan perkara, Mita menerima catatan penyerahan yang menyebut berkasnya. Ia membawa pulang salinan yang sudah disiapkan, bersama catatan bantuan asli yang saat itu belum diminta untuk ditinggalkan.
Beberapa hari kemudian, Pak Saleh menerima permintaan memberikan keterangan. Ia dahulu tinggal tidak jauh dari rumah yang terbakar. Rangga mengenal namanya dari catatan bantuan, tetapi tidak menghubunginya untuk menyusun jawaban. Orang itu diberi kesempatan mengingat tanpa kalimat pembuka bahwa keluarga sudah tahu siapa yang bersalah.
Pak Saleh mengingat asap dan orang-orang yang berteriak meminta air. Ia ingat Mita pulang dalam keadaan sangat terkejut. Ia tidak dapat memastikan siapa yang terakhir keluar sebelum api terlihat. Ada ingatan tentang orang lewat di ujung gang, tetapi wajahnya tidak jelas dan waktu bertahun-tahun tidak membuatnya tiba-tiba lebih yakin.
'Kalau saya bilang melihat Bu Lina menyalakan, itu saya mengarang,' katanya. 'Saya baru tahu tuduhan itu sekarang. Yang saya lihat waktu itu rumah sudah berasap.'
Keterangan itu tidak memberi keluarga adegan yang mudah dipakai untuk memastikan segalanya. Namun, petugas mencatatnya sebagaimana diucapkan. Kejujuran seseorang mengenai batas ingatannya lebih berguna daripada cerita lengkap yang tumbuh karena ingin membantu tetangga lama.
Penelusuran arsip juga mendapatkan catatan penanganan kebakaran yang masih tersimpan. Ada alamat dan gambaran kerusakan, tetapi tidak ada hasil yang menetapkan pelaku pada masa itu. Sebagian hal yang diharapkan Rangga memang tidak tersedia. Tidak ada rekaman kamera yang muncul setelah sekian tahun atau hasil pemeriksaan teknis yang tidak pernah dilakukan.
Rusman ikut diminta menjelaskan kapan pertama kali mendengar pengakuan istrinya. Ia menyebut pertemuan keluarga, bukan malam kebakaran. Dahulu ia percaya kejadian itu musibah dan membantu mengumpulkan sisa barang. Kini pengetahuannya bertambah dari perkataan Lina, tetapi ia tetap tidak menjadi orang yang menyaksikan api dinyalakan. Ia perlu beberapa kali berhenti sebelum meneruskan jawaban. Rasa malu mengetahui apa yang dilakukan istrinya membuatnya ingin mengatakan ia semestinya sudah curiga sejak lama. Petugas meminta ia kembali kepada hal yang benar-benar diingat. Rusman mengikuti permintaan itu, membiarkan penyesalannya tetap disebut penyesalan tanpa mengubahnya menjadi penglihatan yang dahulu tidak pernah ada.
Di rumah sewa, Mita membuka kembali map salinan. Rival sedang belajar di meja lain. Ia tidak membentangkan foto kerusakan untuk dilihat anak tanpa penjelasan. Ketika Rival bertanya mengapa banyak kertas, ia mengatakan sedang mengurus kejadian lama yang merusak rumah, dan orang dewasa akan menangani pertanyaannya.
'Rumah kita yang ini terbakar juga?' tanya Rival.
'Tidak. Ini rumah lama, sebelum kamu lahir. Kamu boleh bertanya kalau takut. Tapi kamu tidak perlu mencari jawabannya untuk Ibu.'
Mita menutup map dan duduk di sampingnya sampai pertanyaan mengenai tugas sekolah kembali mengambil tempat. Pembicaraan singkat itu tidak menghapus ketakutannya sendiri. Api yang dahulu menghilangkan barang kini hadir lagi dalam foto yang sudah menguning. Ada malam ketika ia perlu berhenti memeriksa kertas karena tubuhnya ikut mengingat.
Rangga datang menjemput Rival sesuai jadwal sore berikutnya. Ia tidak masuk tanpa izin atau meminta melihat seluruh catatan Mita untuk memastikan mereka memberi jawaban serupa. Mereka hanya mencocokkan waktu keperluan anak dan dokumen yang memang perlu diserahkan oleh masing-masing.
'Pak Saleh tidak melihat siapa yang menyalakan,' kata Mita ketika nama tetangga itu disebut.
'Kalau begitu itu yang harus dia katakan,' jawab Rangga.
Mita memandangnya sebentar. Dulu, begitu banyak hal harus terdengar sesuai dengan keinginan orang yang lebih keras berbicara. Kali ini ia tidak perlu membuat cerita lebih pasti agar tindakannya melapor dianggap layak. Surat Lina, keterangan tiap orang dan dokumen yang tersedia sedang diperiksa melalui bagiannya sendiri. Ia dapat melanjutkan tanpa mengambil ingatan orang lain lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka saksikan.