Mita bertemu Nur setelah jam sibuk toko berlalu. Ia membawa pesan pemesanan, nota dan catatan penerimaan yang berkaitan dengan pengantaran. Wanda memilih tetap berada di butik, tidak ikut duduk bersama orang yang kembali menjadikan masa lalunya alasan untuk mencurigai pekerjaannya. Keputusan itu diterima tanpa menyebut ia takut menghadapi kebenaran.
Nur mula-mula mengatakan bahwa foto diambilnya sendiri, sehingga kali ini ia tidak hanya mendengar cerita. Mita menyatakan tidak memperdebatkan keberadaan Rangga dan Wanda dalam gambar. Yang keliru adalah kesimpulan yang dibagikan tanpa memasukkan penjelasan mengenai pekerjaan yang memang dimintanya.
'Aku melihat amplop diberikan di belakang toko. Wajar aku curiga,' ujar Nur.
'Kamu boleh bertanya apa isinya. Tapi setelah aku menjelaskan, kamu tetap membagikan foto tanpa penjelasan itu. Curiga tidak sama dengan mengetahui.'
Mita menunjukkan permintaan pengambilan kain sebelum foto dibuat. Nota dan buku penerimaan sesuai dengan barang yang datang. Ia tidak membuka seluruh percakapan perkawinan atau urusan pribadi pegawainya untuk memperoleh pengakuan bahwa pengantaran tersebut mempunyai alasan yang jelas.
Rangga datang sesuai waktu yang telah dibicarakan dan menyampaikan bagian yang dilakukannya. Ia mengambil barang dari pemasok, membawa kuitansi dalam amplop dan menyerahkannya kepada Wanda karena Mita belum kembali. Ia tidak membicarakan rumah tangga dengan pegawai tersebut atau meminta sesuatu dirahasiakan dari pemilik butik.
'Saya bisa menjelaskan pekerjaan saya. Saya tidak akan mengatakan seluruh hidup seseorang dapat dibuktikan hanya dari satu foto. Tetapi foto yang ini sudah diberi cerita yang tidak terjadi,' katanya.
Nur memandang kertas di meja. Ia masih ingin mengatakan bahwa semua orang dapat menyiapkan alasan. Namun, kali ini ia harus menjelaskan mengapa dugaan yang tidak dapat dibantah apa pun dianggap lebih bernilai daripada pesan yang telah dibuat sebelum kejadian. Ia tidak mempunyai informasi lain yang menyatakan ada hubungan pribadi di luar pengantaran.
'Kalau aku mengaku salah, orang-orang malah menertawakan aku,' katanya akhirnya.
'Wanda yang harus menghadapi pertanyaan pelanggan karena kesimpulanmu. Aku juga harus menjelaskan pekerjaan toko. Rasa malu saat mengoreksi bukan alasan membiarkan akibatnya tetap berada pada orang lain,' jawab Mita.
Mita meminta Nur menyampaikan koreksi kepada orang yang menerima gambar darinya. Isinya mengenai konteks kerja serta pengakuan bahwa ia menambahkan kesimpulan yang tidak mempunyai dasar. Tidak perlu menceritakan lagi hubungan lama Wanda atau kehidupan Dewi untuk membuat orang tertarik membaca.
Nur mengambil telepon dan menulis pesan. Kalimat pertama masih menyebut bila ada yang salah paham. Mita memintanya memperhatikan bagian yang dipilih. Bukan penerima foto yang tiba-tiba membuat cerita sendiri; Nur yang mengirim dengan keterangan yang mengarahkan mereka pada tuduhan. Koreksi perlu menyebut tindakan itu, bukan menjadikannya kesalahan umum yang tidak mempunyai pelaku.
Setelah beberapa saat, Nur mengubah pesannya. Ia menyatakan pengantaran dilakukan atas pesanan Mita dan tidak ada bukti dari foto tersebut mengenai hubungan yang dituduhkan. Kesimpulan yang pernah dikirimnya keliru. Ia meminta agar gambar serta dugaan itu tidak diteruskan. Pesan dikirim kepada dua pemilik usaha yang sebelumnya menerima, dengan permintaan memberitahukan jika telah diteruskan kepada orang lain.
Tidak semua balasan datang dengan permintaan maaf. Seorang mengatakan hanya menerima lalu menghapus, yang lain mengaku sempat memperlihatkan kepada pegawainya. Nur perlu mengoreksi lingkaran yang memang telah dibuatnya, tanpa menjamin semua salinan di luar jangkauannya sudah hilang. Mita menyimpan percakapan yang berkaitan dengan gangguan tersebut dan tidak mengedarkannya sebagai hiburan baru.
Pemilik usaha yang memperlihatkan gambar akhirnya menelepon. Ia meminta agar pembicaraan diteruskan kepada pegawainya saat itu juga. Nur mengucapkan koreksi dengan suara yang terdengar oleh mereka, tanpa kembali mengatakan bahwa niat baik membuat dugaan semula dapat dibenarkan. Mita mendengarkan dari kursinya. Ia tidak menyusun kalimat pujian untuk menutup percakapan tersebut. Setelah sambungan berakhir, ia hanya memastikan orang yang telah menerima tuduhan juga menerima penjelasannya. Seorang penerima terusan masih belum menjawab pesan. Nur mencatat namanya dan berjanji menanyakan kembali esok hari. Pekerjaan itu menjadi tanggung jawabnya, bukan tugas tambahan Wanda untuk berkeliling meminta orang percaya. Mita akan memeriksa kabarnya sekali lagi, bukan menganggap koreksi pasti selesai hanya karena sebuah pesan telah diketik.
Mita kemudian menetapkan batas mengenai tempat kerjanya. Nur tidak diundang memotret kegiatan di ruang kerja atau mengganggu pegawai dengan pertanyaan pribadi. Bila mempunyai keluhan mengenai layanan, ia dapat menyebut kejadian kepada Mita. Mereka masih bertetangga usaha, tetapi kedekatan itu tidak memberi kewenangan mengawasi semua orang yang datang dan pergi.
Nur menyatakan ingin meminta maaf kepada Wanda. Mita menanyakan dahulu apakah pegawainya bersedia menerima percakapan singkat. Wanda setuju mendengar di dekat pintu, dengan Mita tetap hadir. Ia tidak diminta memeluk, memberi maaf saat itu atau meyakinkan Nur bahwa hidupnya sudah berubah.
'Aku salah mengambil kesimpulan dan mengirimkannya kepada orang lain,' kata Nur. 'Pengantaran itu pekerjaan yang diminta Mita. Aku seharusnya memeriksa sebelum menuduh.'
Wanda mengangguk. 'Saya dengar. Tapi saya perlu melihat apakah setelah ini saya bisa bekerja tanpa cerita lama dipakai untuk menjelaskan semua gerakan saya.'
Nur menerima jawaban itu meskipun wajahnya menunjukkan kecewa. Ia tidak mendapatkan keadaan kembali akrab dalam satu sore. Permintaan maaf memang memperjelas kesalahannya, tetapi orang yang menerima akibat tidak wajib membuat pengakuan tersebut terasa nyaman untuk dibawa pulang.
Sesudah Nur pergi, Rangga berpamitan tanpa meminta berbicara lebih lama dengan Mita mengenai perkawinan. Urusan pengantaran telah dijelaskan. Ia tidak akan menjadikannya alasan bahwa mereka seharusnya dapat kembali tinggal bersama karena satu tuduhan lain terbukti tidak berdasar.
Wanda merapikan catatan penerimaan dan kembali membantu pelanggan yang datang. Mita melanjutkan pengukuran yang sudah dijadwalkan. Belum semua pandangan di sekitar toko berubah, tetapi ada tindakan yang telah diselesaikan: kesimpulan dikoreksi kepada penerima, pegawai tidak dihukum dan pekerjaan tetap dinilai dari hasilnya. Kepercayaan yang dipilih Mita bukan kesediaan menutup mata. Ia berdiri di atas hal yang dapat diperiksa, sambil menolak membiarkan kebencian lama menjadi alasan untuk membuat orang kehilangan tempat mencari nafkah.