Rangga menelepon setelah Mita memastikan Rival telah makan dan mengerjakan bagian tugas yang perlu ditemani. Mereka tidak bertemu mendadak di rumah. Foto berada di telepon masing-masing, sementara catatan barang dan nota sudah dilihat Mita. Yang belum dibicarakan adalah bagaimana gambar itu dipakai serta mengapa pertanyaan mengenai pekerjaan segera dianggap tuduhan terhadap suami.
'Aku mengantar sesuai yang kamu minta,' kata Rangga. 'Sekarang masih harus menjelaskan juga?'
'Aku tahu kamu mengantar. Aku yang memintanya. Aku memberi tahu foto sudah beredar dan ingin memastikan apa yang dapat dijelaskan kepada orang yang dituduh. Aku tidak bilang aku melihat bukti kamu berselingkuh.'
Rangga terdiam, lalu mengatakan ia merasa semua tindakannya sedang diperiksa karena pernah bersalah. Mita mendengarkan tanpa menarik kembali haknya bertanya. Ada perbedaan antara menuduh sesuatu yang tidak diketahui dan meminta informasi ketika nama pegawai serta pekerjaan mereka dibawa ke percakapan orang lain.
'Aku tidak dapat menjawab atas namamu kalau belum mendengar. Aku juga tidak akan menyuruh Wanda membuka seluruh hidupnya karena orang memotret dia menerima barang,' ujarnya.
Mereka menyusun urutan yang singkat: permintaan Mita, pengambilan kain, nota yang dimasukkan dalam amplop dan penerimaan di butik. Rangga menjelaskan ada pelanggan melintas ketika mereka menurunkan bahan. Ia tidak mengaku orang itu dapat bersaksi mengenai seluruh percakapan atau semua perbuatan yang tidak dilihatnya.
Mita mengatakan bukti pengantaran cukup untuk menjelaskan konteks foto tersebut. Ia tidak memerlukan kata sandi telepon atau salinan percakapan pribadi yang tidak berhubungan. Ia juga tidak ingin orang lain menjadikan keterbukaan urusan kerja sebagai izin memeriksa seluruh bagian kehidupan pegawai.
'Kalau begitu mungkin lebih mudah ganti pegawai daripada terus diganggu,' ujar Rangga, lalu menyadari kalimatnya terlambat berhenti.
Mita meletakkan pena yang dipegang. 'Wanda tidak membuat gosip itu. Dia menerima pekerjaan dariku. Kalau setiap orang yang dituduh harus kehilangan penghasilan supaya orang yang menyebarkan berhenti bicara, kita sedang menaruh akibat pada orang yang salah.'
'Aku cuma mencari cara agar kamu tidak capek.'
'Aku tahu kamu ingin cepat selesai. Tapi jangan menawarkan keputusan atas pekerjaan orang lain sebagai cara membuat kita lebih nyaman. Aku yang mengelola butik dan aku perlu mempertimbangkan perbuatannya, bukan hanya kejengkelan kita.'
Rangga menghela napas. Ia tidak dapat menyebut semua kalimatnya sekadar salah dimengerti. Ia memang sempat memilih jawaban yang paling mudah bagi dirinya: menghilangkan orang yang menjadi sasaran, bukan menghadapi orang yang menuduh. Ia menarik kembali usul tersebut dan mengatakan akan menjelaskan bagian pengantaran yang dilakukannya jika diperlukan.
Mita tidak memujinya karena mengoreksi satu kalimat. Ia mengatakan percakapan akan dihentikan bila kembali berubah menjadi tuduhan bahwa ia kurang percaya atau sengaja memperpanjang. Mereka dapat berbicara mengenai fakta tanpa meminta salah satu pihak menyerahkan seluruh kewenangannya untuk membuktikan cinta.
Setelah urusan foto selesai, Mita menanyakan mengapa respons pertama Rangga begitu cepat menyebut dirinya sedang disalahkan. Rangga mengakui ia takut sesuatu yang dilakukan dengan benar tidak akan diperhatikan karena masa lalu. Ketakutan itu membuatnya ingin memperoleh penilaian baik sebelum mendengar apa yang sebenarnya ditanyakan.
'Aku tidak bisa menjanjikan semua orang akan memandangmu dengan cara yang kamu inginkan,' kata Mita. 'Aku bisa memastikan tidak membuat tuduhan tanpa dasar. Tapi aku tetap boleh bertanya dan menetapkan keputusan mengenai hidupku.'
Rangga menyatakan ia akan membicarakan reaksi tersebut pada pendampingan berikutnya. Ia tidak meminta Mita terus memilih kata yang membuatnya tidak perlu merasakan malu. Hubungan mereka belum kembali, dan mengantar beberapa potong kain tidak menjadi pembayaran yang harus dibalas dengan kesimpulan tertentu.
Esok pagi, Mita berbicara dengan Wanda sebelum toko dibuka. Ia menjelaskan bahwa pekerjaan penerimaan tidak menjadi pelanggaran dan tidak ada rencana memberhentikannya karena foto. Wanda boleh mengatakan bila membutuhkan waktu sebentar, tetapi tidak diminta menghilang dari tempat kerja agar orang lain mudah dilayani.
'Kalau pelanggan bertanya?' tanya Wanda.
'Katakan itu pengantaran kain yang saya minta. Kalau ada pertanyaan lain yang mengganggu, arahkan kepada saya. Kamu tidak perlu mengulang cerita Fajar kepada setiap orang yang ingin membenarkan dugaan.'
Wanda mengangguk. Ia menyerahkan salinan catatan penerimaan, lalu meminta agar cerita lama tentang Dewi tidak ikut dipakai sebagai pembelaan baru. Mita menyetujuinya. Mereka perlu menjelaskan satu foto dan tindakannya sekarang, bukan menghadirkan kembali orang yang sudah meminta urusannya tidak diedarkan.
Seorang pelanggan datang mengambil pesanan dan memandang Wanda dengan ragu. Ia menanyakan kepada Mita apakah cerita yang didengarnya benar. Mita meminta ia menyebut kejadian yang dimaksud, lalu menjelaskan pengantaran yang dilakukan atas pesanan toko. Ia tidak mengatakan mengetahui seluruh kehidupan pegawainya atau menjamin seseorang tidak mungkin berbuat salah. Untuk foto tersebut, urusannya jelas dan catatannya ada.
Pelanggan itu tetap canggung. Wanda membawa pakaian yang sudah selesai dan mempersilakannya memeriksa ukuran. Ada satu bagian yang perlu dicoba kembali, lalu dipastikan sesuai. Pembayaran diselesaikan tanpa permintaan bahwa pelanggan harus ikut mengucapkan maaf atau memuji keteguhan Wanda. Ketika ia pergi, rasa tidak nyaman masih tertinggal. Namun, Mita tidak membiarkan keraguan tersebut diubah menjadi keputusan kerja yang tidak didasarkan pada hasil pekerjaan. Pegawainya menerima tugas dan upah seperti sebelumnya, tanpa dipindahkan ke belakang agar orang lain dapat berpura-pura tidak pernah melihatnya.
Mita kemudian menghubungi Nur untuk meminta pertemuan setelah memastikan siapa saja yang menerima gambar darinya. Ia membawa nota dan pesan pemesanan secukupnya, tanpa membuka seluruh keuangan toko. Bila seseorang mengambil gambar dengan kesimpulan keliru, tanggung jawab mengoreksi tidak dapat diserahkan kepada orang yang difoto lalu dituduh terlalu sensitif.
Sebelum bekerja, Mita menerima pesan Rangga yang menyatakan ia siap menjelaskan pengantaran dengan waktu dan barang yang benar. Ia juga menulis bahwa usul mengganti pegawai tadi malam tidak adil. Mita membalas telah membaca, kemudian meletakkan telepon. Hari itu toko dibuka oleh dua orang yang masih merasa tidak nyaman, tetapi tidak lagi dipaksa menerima ketidaknyamanan tersebut sebagai bukti bahwa pekerjaan mereka patut dicurigai.