Nur Laila baru membuka tokonya ketika Mita menghampiri pada Selasa pagi. Ia semula mengira tetangganya ingin meminjam uang kecil untuk kembalian. Senyum di wajahnya berubah canggung setelah Mita mengatakan perlu membicarakan ucapan mengenai Wanda yang disampaikan di depan pelanggan.
'Aku sudah bilang dari awal, Mit. Kalau kamu tidak percaya, nanti kamu sendiri yang menyesal.'
'Saya tidak datang untuk meminta kamu menyukai Wanda. Saya ingin tahu bagian mana yang kamu lihat sendiri dan bagian mana yang kamu ceritakan seolah pasti terjadi sekarang.'
Nur meletakkan lap di meja. Ia mengatakan pernah melihat Wanda berkunjung ke rumah Fajar dan mengetahui keributan yang menyusul. Ia juga mengenal istri lelaki tersebut, Dewi, yang mempunyai tempat usaha kecil di lingkungan lama mereka. Baginya, hubungan itu sudah cukup untuk memakai sebutan yang kemudian diucapkannya keras-keras di depan butik.
Mita tidak menyangkal bahwa Wanda pernah mempunyai hubungan dengan suami Dewi. Ia mengatakan telah mendengar pengakuan pegawainya, termasuk masa ketika ia tetap bertahan sesudah mengetahui perkawinan itu. Namun, hal tersebut tidak membuat Nur mengetahui setiap keputusan Wanda selama tiga tahun bekerja di toko Mita.
'Kamu bilang aku berani mempekerjakan dia seolah ada perbuatan di sini yang kamu lihat. Ada?' tanya Mita.
Nur terdiam. 'Aku mencegah sebelum terjadi.'
'Pencegahan tidak memberi kita hak menuduh perbuatan yang belum ada. Saya memeriksa barang dan pembayaran, saya punya aturan kerja. Kalau kamu melihat sesuatu sekarang, sampaikan kejadiannya. Jangan menyuruh saya menghukum orang berdasarkan dugaan yang tidak dapat diperiksa.'
Seorang pembeli datang dan pembicaraan berhenti. Mita mengatakan ia tidak akan mengulang cerita pribadi Wanda kepada orang lain untuk memenangkan perdebatan. Ia hanya meminta Nur berhenti membawa tuduhan ke depan tokonya serta mengoreksi kesan bahwa sudah ada masalah baru yang diketahuinya.
Setelah Mita pergi, Nur melayani pembeli dengan pikiran masih tertinggal pada pertanyaan tadi. Ia merasa sedang berbuat baik ketika memperingatkan tetangganya. Tetapi ia memang tidak melihat Wanda mengganggu rumah tangga siapa pun di sana, tidak kehilangan uang karena pegawai itu dan tidak pernah menerima keluhan pelanggan butik.
Menjelang siang, Nur menghubungi Dewi. Ia menanyakan lebih dahulu apakah perempuan itu bersedia membicarakan sedikit kejadian lama. Dewi tidak menjawab segera. Ketika akhirnya membalas, ia bertanya untuk apa cerita itu kembali diperlukan. Nur mengakui telah menyebutnya kepada pemilik tempat Wanda bekerja sekarang.
'Aku tidak ingin urusan rumah tanggaku dibawa ke toko orang lain,' kata Dewi dalam panggilan berikutnya.
Nur merasa wajahnya panas. Ia mulai menjelaskan bahwa ia hanya ingin melindungi Mita, tetapi Dewi mengatakan perlindungan kepada seorang tetangga tidak memerlukan pengumuman tentang luka hidup orang lain. Ia bukan orang yang harus terus memberi keterangan supaya orang-orang dapat memutuskan apakah Wanda sudah cukup dihukum.
Meski begitu, Dewi menjelaskan satu bagian yang diketahuinya. Fajar memang berbohong mengenai statusnya. Ia juga pernah mengatakan akan meninggalkan perkawinan ketika diminta menghentikan hubungan tersebut. Wanda tidak langsung berhenti setelah diberi tahu, dan bagian itu membuat Dewi marah. Tetapi akhirnya hubungan itu berakhir. Dewi tidak mempunyai kabar mengenai perbuatan Wanda sesudah pindah.
'Aku tidak bilang aku ingin bertemu atau memaafkannya,' ujar Dewi. 'Aku cuma tidak mau kamu mengubah cerita menjadi sesuatu yang juga tidak kamu ketahui.'
Nur mendengarkan sampai panggilan berakhir. Ia tidak meminta Dewi mengirim percakapan pribadi atau foto untuk diteruskan kepada pelanggan. Untuk pertama kalinya, orang yang dulu dianggapnya paling pantas membenarkan peringatannya justru meminta berhenti dijadikan alasan.
Sore hari, Nur datang ke butik ketika tidak ada pembeli. Wanda sedang merapikan pakaian di rak. Ia menatap Mita dahulu, seperti ingin meminta pemilik toko menjadi penengah, tetapi Mita menunggu Nur mengatakan maksud kedatangannya sendiri.
'Aku sudah bicara dengan Dewi,' kata Nur. 'Dia tidak mau kisahnya diedarkan. Aku juga tidak seharusnya berteriak di depan pelangganmu.'
Wanda meletakkan pakaian yang dipegang. 'Saya tidak akan mengatakan yang saya lakukan dulu benar. Tapi saya juga tidak ingin cerita itu jadi tuduhan baru setiap kali saya bekerja.'
Nur mengangguk. Ia tidak meminta Wanda bersumpah tidak akan mengulangi atau mengatakan perempuan baik seharusnya dapat menerima nasihat dengan tenang. Ia menyatakan tidak mempunyai bukti bahwa ada persoalan seperti itu di butik. Mita memintanya menyampaikan koreksi tersebut kepada orang yang sebelumnya diberinya kesan ada bahaya yang sudah terjadi sekarang.
'Tidak perlu menceritakan urutan hidup Wanda. Cukup betulkan bagian yang kamu tambahkan sendiri,' kata Mita.
Nur menyanggupi. Ia belum merasa nyaman dan masih mempunyai penilaian mengenai masa lalu Wanda. Namun, perasaan itu tidak harus diwujudkan menjadi pengawasan terhadap setiap tamu yang datang ke butik. Ia pulang tanpa memperoleh persetujuan bahwa niat baik membuat caranya benar.
Sesudah pintu tertutup, Wanda duduk sebentar. Ia bertanya apakah Mita percaya Nur akan berhenti. Mita menjawab bahwa mereka baru mendengar kesediaannya, belum melihat semua tindakannya. Karena itu pekerjaan tetap akan dijalankan dan bila muncul gangguan baru, mereka membicarakan kejadian yang benar-benar terjadi.
Wanda tidak diminta berterima kasih kepada Nur karena akhirnya berbicara lebih pelan. Ia kembali menyelesaikan pencatatan pakaian pelanggan, sementara Mita memeriksa pesanan kain untuk pekerjaan berikutnya. Di antara catatan ukuran, pembayaran dan jadwal pengambilan, kepercayaan mereka mempunyai sesuatu yang dapat dilihat selain cerita yang dibawa tetangga. Pagi esok mereka tetap harus membuka toko, menerima pelanggan, dan bertanggung jawab atas hasil kerja sendiri. Itulah yang dapat dijaga, tanpa menjadikan kehidupan siapa pun sebagai hukuman yang dipertontonkan setiap hari.
Petang itu Nur menemui dua pemilik toko yang sebelumnya mendengar peringatannya. Ia mengatakan bahwa ia membicarakan kejadian lama, bukan mengetahui pelanggaran baru di butik Mita. Salah satu dari mereka tertawa dan menyebutnya terlalu serius mengoreksi pembicaraan biasa. Nur tidak ikut tertawa. Ucapan yang dianggap biasa itu telah membuat orang lain bertanya apakah seorang pegawai harus kehilangan pekerjaan. Ia meminta mereka tidak meneruskan dugaan sebagai kabar yang sudah terbukti, kemudian kembali menutup tokonya tanpa menambah cerita mengenai Dewi.