Senin setelah pembicaraan Dimas dengan Sinta, Wanda meminta waktu kepada Mita seusai toko tutup. Ia mengingat janji menjelaskan cerita yang disampaikan Nur Laila. Selama beberapa pekan keadaan keluarga Mita begitu berat sehingga ia memilih menunggu. Tetapi menunggu juga memberinya alasan untuk terus menghindari percakapan yang ditakutkannya.
Mita memeriksa apakah masih ada pelanggan yang akan mengambil pakaian, kemudian mempersilakannya duduk. Ia tidak meletakkan buku gaji di meja atau membuat pembicaraan itu terasa seperti pemeriksaan untuk menentukan hukuman. Namun, ia mengingatkan bahwa ia akan tetap menanyakan hal yang berpengaruh pada pekerjaan mereka.
'Saya pernah berhubungan dengan laki-laki yang sudah menikah,' kata Wanda. 'Bagian itu bukan karangan Bu Nur.'
Mita mendengarkan. Ada kekecewaan yang muncul, tetapi ia tidak ingin menutupi kekosongan cerita dengan dugaan. Ia bertanya apakah Wanda mengetahui keadaan lelaki itu sejak awal. Wanda menggeleng, lalu menambahkan bahwa ketidaktahuan itu tidak berlangsung sampai akhir.
Wanda ketika itu bekerja menjaga toko dan tinggal di kamar sewa. Lelaki bernama Fajar sering datang mengurus barang, kemudian mengenalnya lebih dekat. Ia mengaku belum menikah. Wanda mempercayainya tanpa banyak bertanya, terutama karena beberapa orang yang mengenal Fajar tidak pernah mengatakan sesuatu yang berbeda. Ia kini memahami diam mereka bukan bukti bahwa ceritanya benar.
Sekitar tiga bulan kemudian, seorang perempuan datang menanyakan hubungan mereka. Perempuan itu istri Fajar. Wanda mula-mula menyangkal karena takut, lalu menghubungi lelaki tersebut untuk meminta penjelasan. Fajar tidak membantah perkawinannya. Ia mengatakan hubungannya dengan istri sudah berakhir dan mereka hanya belum menyelesaikan urusan berpisah.
'Saya seharusnya berhenti waktu itu,' ujar Wanda. 'Tapi saya ingin percaya bahwa yang dijanjikannya kepada saya masih bisa benar. Saya bertahan sekitar dua minggu lagi, meskipun sudah tahu dia mempunyai istri.'
'Itu bagian yang kamu sesali?'
'Iya. Bukan hanya malu karena ketahuan. Saya membuat perempuan itu harus menghadapi kebohongan lagi, setelah dia datang meminta kejelasan.'
Wanda menunduk. Ketika akhirnya memutus hubungan, ia mengirim pesan kepada istri Fajar bahwa ia tidak akan melanjutkan. Ia tidak memperoleh pengampunan atau jawaban yang menenangkan. Perempuan itu marah, dan Wanda tidak dapat meminta kemarahannya berhenti hanya karena ia sudah mengatakan menyesal. Ia kemudian meninggalkan pekerjaannya dan pindah, mencari tempat yang tidak membuat setiap langkahnya menjadi pembicaraan.
Nur melihat sebagian kejadian di lingkungan tersebut. Ia mengenal istri Fajar dan mengetahui ada pertengkaran, tetapi tidak pernah berbicara dengan Wanda. Kabar yang kemudian dibawanya ke depan butik memuat sesuatu yang benar sekaligus membuang urutan yang membedakan apa yang dilakukan Wanda, apa yang dibohongkan Fajar dan kapan Wanda memilih berhenti.
'Saya tidak mau Ibu menganggap saya sama sekali tidak bersalah,' kata Wanda. 'Kalau saya mengatakan semuanya hanya fitnah, berarti saya memakai kebohongan lain supaya tetap diterima di sini.'
Mita memandang tangannya yang masih memegang sisa benang. Ia menghargai bahwa Wanda tidak memberinya jawaban yang paling mudah dibela. Namun, ia juga tidak ingin rasa iba mengubah pengakuan tersebut menjadi bukti otomatis bahwa semua perbuatannya sesudah itu pasti benar.
'Apakah hubungan itu masih berjalan? Ada orang yang mungkin datang menagih sesuatu atau mengancam di tempat kerja?'
'Tidak berjalan lagi. Saya tidak mengambil uang atau barang milik keluarganya. Yang membuat saya takut sekarang adalah cerita itu terus mengikuti, bukan ada urusan yang masih saya jalankan diam-diam.'
Mita bertanya apakah ada hal mengenai pekerjaan di butik yang selama ini disembunyikan. Wanda mengatakan tidak. Mereka dapat memeriksa catatan barang dan pembayaran seperti biasa. Ia tidak meminta diberi kepercayaan yang tidak boleh diuji hanya karena telah menangis dan mengaku.
Di meja sebelah ada pakaian pelanggan yang selesai diperbaiki. Mita mengingat berapa kali Wanda mengembalikan kelebihan pembayaran, mencatat kesalahan ukuran sebelum kain dipotong, atau tetap tinggal untuk menyelesaikan pekerjaan yang memang sudah dibagi. Catatan tiga tahun itu nyata. Riwayat sebelum mereka bertemu juga nyata. Ia tidak perlu menghapus salah satu untuk memutuskan bagaimana hubungan kerja dijalani sekarang.
'Saya tidak akan memecatmu karena orang datang menyebut masa lalumu,' kata Mita. 'Saya juga tidak mengatakan yang pernah kamu lakukan tidak penting. Di sini kita tetap mempunyai aturan tentang kejujuran, pekerjaan dan cara memperlakukan orang lain. Kalau ada tindakan baru yang melanggarnya, kita bicarakan tindakan itu.'
Wanda mengusap pipi. 'Kalau pelanggan tidak mau dilayani saya?'
'Saya tidak bisa mengatur semua pendapat orang. Tapi saya tidak akan mengumumkan ceritamu untuk mencari dukungan. Kalau ada masalah di toko, saya yang bicara sebagai pemilik. Kamu tetap harus bekerja dengan benar, bukan membuktikan kamu pantas hidup dengan mengambil semua beban yang diberikan.'
Mita mengatakan ia akan berbicara kepada Nur mengenai ucapannya di depan pelanggan. Bila diperlukan penjelasan dari pihak lain, ia akan membicarakannya dahulu dengan Wanda. Mereka tidak berhak menyeret istri Fajar ke dalam percakapan baru hanya agar kisah lama memperoleh akhir yang menyenangkan bagi pegawai butik.
Wanda menyanggupi. Ia juga mengatakan bersedia meminta maaf atas bagian yang memang pernah dilakukannya jika perempuan itu suatu hari menginginkan komunikasi, tetapi tidak akan terus menghubunginya untuk meminta jawaban. Ada orang yang paling berhak menjaga jarak, meskipun orang yang bersalah ingin didengar penjelasannya.
Sesudah pembicaraan selesai, Wanda mengambil tas dan menawarkan merapikan kain sebelum pulang. Mita mengatakan pekerjaan hari itu sudah selesai. Ia tidak perlu bekerja lebih lama sebagai pembayaran atas keputusan tidak dipecat. Wanda berdiri dengan wajah masih letih, tetapi ia tidak lagi membawa cerita yang hanya diketahui orang lain sementara dirinya terus pura-pura tidak mempunyai masa lalu.
Mita mengunci toko setelah pegawainya pergi. Di teleponnya ada pesan mengenai jadwal Rival dan satu pengingat pertemuan dengan Laras. Ia menyadari bahwa memeriksa kebenaran tidak selalu menghasilkan orang yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya salah. Yang dapat dijaganya adalah keputusan berdasarkan perbuatan yang diketahui, pertanyaan yang layak diajukan, dan keberanian menolak ketika kebencian orang lain meminta dipakai sebagai satu-satunya jawaban.