Kiriman kain tiba pada Rabu pagi, ketika Mita sedang mengantar Rival ke sekolah. Wanda menghitung jumlahnya bersama kurir, menandatangani penerimaan dan menaruhnya di meja potong. Warna pada label sesuai pesanan. Namun, begitu bungkus dibuka dan kain didekatkan ke contoh yang tersimpan, ia melihat perbedaan yang tidak dapat dianggap perubahan cahaya saja.
Satu potongan berwarna biru tua, sedangkan potongan lain mempunyai warna yang lebih kelabu. Pesanan enam kemeja kerja harus menggunakan bahan yang sama. Wanda menghentikan persiapan dan mengirim foto kepada Mita, lalu menyimpan bungkus serta nota. Ia tidak mencoba menukar posisi kain agar perbedaannya sulit dilihat pelanggan.
Ketika tiba, Mita membawanya ke dekat pintu untuk memeriksa dengan cahaya yang lebih terang. Mereka menandai kedua potongan tanpa memotong atau mencucinya. Label memang sama, tetapi warna bahan berbeda. Mita menghubungi toko pemasok dan menjelaskan apa yang diterima, termasuk kapan bungkus dibuka.
'Barang sudah diterima pegawai Ibu. Kalau dibawa kembali, biasanya sulit kami terima,' jawab petugas toko.
'Jumlahnya diterima. Kesesuaian bahan baru dapat kami periksa setelah bungkus dibuka. Kami tidak memakai atau memotongnya. Saya akan membawa contoh yang dipesan dan barang yang datang supaya kita melihatnya bersama.'
Wanda berdiri di dekat telepon. Setelah sambungan berakhir, ia meminta maaf karena menandatangani penerimaan. Ia takut keputusan tersebut membuat Mita harus menanggung seluruh kerugian. Di wajahnya masih ada kecemasan dari cerita mengenai masa lalunya, seolah satu kesalahan pekerjaan akan menjadi alasan agar semua tuduhan lama dinyatakan benar.
'Kita periksa apa yang dilakukan, bukan semua kemungkinan paling buruk,' kata Mita. 'Kamu menghitung jumlah, lalu menghentikan pekerjaan ketika menemukan masalah. Sekarang kita selesaikan persoalan barangnya.'
Mereka menuliskan urutan kejadian, menyiapkan nota dan contoh bahan yang disetujui pelanggan. Mita juga memeriksa batas waktu pesanan. Masih ada kesempatan mengganti kain jika urusannya selesai hari itu, tetapi ia tidak akan menjanjikan tanpa mengetahui persediaan pemasok. Ia menelepon pelanggan untuk memberi tahu bahwa bahan sedang dikonfirmasi sebelum dipotong.
Pelanggan bertanya apakah kemeja tetap selesai pada tanggal yang dijanjikan. Mita mengatakan akan memberi jawaban setelah melihat bahan pengganti, paling lambat sore. Ia tidak menyalahkan Wanda atau bercerita bahwa pegawainya kurang teliti. Pelanggan memerlukan kepastian mengenai pesanan, bukan perselisihan di belakang meja toko.
Mita berangkat ke pemasok dengan membawa barang. Wanda menjaga butik dan mengerjakan perbaikan yang tidak berhubungan dengan pesanan baru. Sebelum pergi, Mita menunjukkan pekerjaan yang boleh diteruskan serta pakaian yang menunggu pemeriksaan. Ia tidak meminta pegawainya mengambil semua keputusan ketika ia sedang tidak dapat dihubungi.
Di toko kain, petugas mula-mula mengulang alasan mengenai tanda terima. Mita membuka dua potongan di atas meja dan meletakkan contoh di antaranya. Seorang pekerja gudang datang, membandingkan nomor kiriman, lalu memeriksa bahan dari dua tumpukan yang berbeda. Ada kesalahan ketika barang dibungkus, meskipun label pesanan yang ditempel sama.
'Yang kelabu ini bukan dari tumpukan yang Ibu pilih,' katanya kepada petugas penjualan.
Mita menunggu mereka menyelesaikan pemeriksaan. Ia tidak meminta seseorang dipecat agar keberatannya dianggap sungguh-sungguh. Yang dibutuhkannya adalah bahan yang benar dengan jumlah yang cukup, catatan penggantian dan kepastian biaya yang tidak berubah karena kesalahan kiriman.
Persediaan biru tua ternyata tidak cukup. Setelah melihat pilihan yang tersedia, Mita menelepon pelanggan dan mengirim foto serta keterangan bahwa warna yang sama dengan contoh hanya dapat diperoleh sebagian. Pelanggan memilih menunggu pasokan berikutnya selama tambahan waktunya jelas. Mita menolak membeli bahan yang hampir sama lalu berharap tak seorang pun memperhatikan.
Mereka akhirnya menyepakati pengembalian kiriman dan pembelian kembali setelah stok sesuai tersedia. Toko menuliskan barang yang diterima serta jumlah uang yang dikembalikan. Mita memeriksa bahwa dana telah masuk melalui rekeningnya sendiri, bukan hanya menyimpan gambar yang dikatakan sebagai bukti transfer. Ia pulang dengan nota, jadwal pasokan dan sebagian hari kerja yang tidak dapat dikembalikan.
Rangga mengirim pesan menawarkan mengambilkan bahan jika Mita kesulitan. Ia mengetahui urusan tersebut ketika menanyakan jadwal Rival, bukan karena memeriksa telepon istrinya. Mita menjawab bahwa tahap pengembalian telah selesai dan ia belum memerlukan bantuan mengambil barang. Rangga tidak datang untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih pandai menghadapi pemasok.
Di butik, Wanda menunggu kabar dengan pakaian perbaikan yang sudah siap diperiksa. Mita menjelaskan hasilnya dan bersama-sama mengubah jadwal produksi sesuai keputusan pelanggan. Mereka menuliskan bahwa tanda terima jumlah berbeda dari pemeriksaan kesesuaian bahan, supaya kiriman berikutnya tidak diteruskan ke meja potong hanya karena kertasnya telah ditandatangani.
'Jadi saya tidak harus mengganti harga semua kain?' tanya Wanda.
'Tidak. Ada kesalahan kiriman yang sudah diakui pemasok. Kalau kamu menyembunyikan perbedaan lalu tetap memotong, persoalannya lain. Hari ini kamu justru menghentikannya sebelum menjadi pakaian yang salah.'
Wanda mengangguk. Ia tidak diminta bekerja tanpa upah untuk membuktikan rasa bersalah. Ia perlu lebih jelas mencatat apa yang diperiksa, sementara Mita perlu menjaga agar pengetahuan tentang kebiasaan pemasok tidak hanya tersimpan dalam kepalanya sendiri.
Sore itu pelanggan menerima perubahan jadwal secara tertulis. Mita menyimpan persetujuan bersama pesanan, kemudian memeriksa hasil pekerjaan Wanda yang lain. Ada jahitan yang perlu dirapikan, dan ia menunjukkannya tanpa mengaitkan kesalahan kecil dengan cerita tentang Fajar. Pekerjaan dapat diperbaiki karena bagian yang salah disebut dengan jelas. Tidak ada gunanya membuat seseorang merasa seluruh hidupnya rusak ketika yang perlu dibuka hanya beberapa sentimeter jahitan.
Rival menunggu dengan buku cerita di pangkuan ketika Rangga selesai mengantarnya. Mita baru ingat ia berjanji membaca bersama sebelum makan malam. Anak itu mengatakan ia kesal karena selalu diminta menunggu pekerjaan selesai. Mita tidak menjawab dengan cerita betapa sulit harinya atau meminta Rival mengerti lebih dahulu. Ia meminta maaf karena belum memberi kabar bahwa waktunya berubah, kemudian menyimpan nota dan menutup pekerjaan yang dapat dilanjutkan esok.
Mereka membaca satu cerita pendek di kursi pelanggan. Rival menunjuk gambar yang menurutnya lucu, masih sesekali menggerutu karena menunggu. Mita mendengarkan. Menjaga usaha tidak menghapus tanggung jawabnya kepada anak, sama seperti menjadi ibu tidak berarti ia harus berpura-pura semua pekerjaan dapat ditinggalkan tanpa rencana. Hari itu ia tidak menyelesaikan semuanya dengan sempurna, tetapi ia dapat berhenti menjanjikan dua kehadiran pada waktu yang sama.
Sepekan kemudian bahan pengganti tersedia. Mita memeriksa kesamaan warna sebelum membelinya, lalu Wanda memotong sesuai ukuran yang sudah disetujui. Pekerjaan diselesaikan dalam tiga hari berikutnya, mengikuti tanggal baru yang diterima pelanggan. Ketika keenam kemeja diambil, pelanggan memeriksa satu per satu dan melunasi sisa pembayaran. Mita membayarkan upah yang telah disepakati kepada Wanda. Kesalahan kiriman sempat mengubah rencana, tetapi tidak ditinggalkan sebagai janji yang terus menunggu. Ada pakaian yang diserahkan, uang yang diterima dan orang yang memperoleh bayaran atas pekerjaan yang benar-benar selesai.