Sabtu berikutnya, Sinta meminta Dimas datang. Ia sudah mengetahui Rangga tidak tinggal di rumah bersama Mita, tetapi penjelasan yang didengarnya hanya bahwa pasangan itu sedang membutuhkan jarak. Lina lebih sering diam dan menolak menjawab ketika Sinta menanyakan mengapa Mita tidak lagi berkunjung pada waktu ibunya ada.
Dimas tidak ingin mengadakan pertemuan keluarga mendadak. Ia mengatakan ada urusan mengenai perbuatan Lina kepada Mita yang tidak dapat diceritakan untuk sekadar meredakan rasa ingin tahu. Ia akan menanyakan kepada Mita bagian yang boleh dibagikan, lalu berbicara dengan Sinta dalam waktu yang sesuai.
'Aku takut aku yang membuat semua orang bertengkar lagi,' ujar Sinta.
'Ini bukan akibat kamu pulang dari perawatan. Ada perbuatan lama orang lain yang baru terungkap. Kamu tidak diminta menyelesaikannya.'
Pada percakapan dengan petugas yang mendampinginya, Sinta menyampaikan bahwa ia ingin mengetahui kabar keluarga tanpa mendengar semua rincian yang membuatnya kewalahan. Mereka membicarakan cara menghentikan percakapan bila diperlukan. Hal itu tidak menjadikan tenaga kesehatan orang yang menentukan benar atau salahnya perkara; mereka membantu Sinta menjaga keadaan dirinya ketika menerima kabar berat.
Mita menyetujui informasi pokok disampaikan. Ia tidak mau Sinta dibiarkan berpikir dirinya penyebab perpisahan sementara atau dipakai sebagai alasan agar ia menerima kembali semua orang. Namun, ia meminta tidak ada foto, surat pengakuan atau rincian kekerasan yang disodorkan tanpa kebutuhan dan persetujuan.
Sore hari, Dimas duduk bersama Sinta di teras. Lina dan Rusman berada di dalam, sedangkan Yuni membantu menyiapkan kebutuhan malam. Tidak ada lingkaran orang dewasa yang menunggu Sinta memberi tanggapan paling baik.
'Ibu mengaku sengaja membakar rumah Mas Rangga dan Mbak Mita dulu,' kata Dimas perlahan. 'Mbak Mita baru mengetahui kebenaran itu sekarang. Ia berhak menjauh dan memikirkan langkahnya.'
Sinta tidak langsung berbicara. Ia memandang pintu ruang tengah, lalu kembali kepada kakaknya. 'Rumah yang terbakar waktu mereka di pasar malam?'
'Iya. Itu pengakuan Ibu sendiri. Kami mendengarnya langsung.'
'Kenapa?'
Dimas menjelaskan bahwa Lina ingin mereka pindah agar lebih mudah diatur dan kebenciannya kepada Mita ikut mendorong tindakannya. Ia tidak memindahkan tanggung jawab dengan mengatakan ibu mereka hanya salah mengambil keputusan karena menyayangi anak. Ia juga tidak meminta Sinta memutuskan apakah Lina masih pantas disayangi.
Sinta memegang sandaran kursi. Ia ingat hari-hari ketika Mita tinggal menumpang dan ia menggunakannya sebagai alasan untuk merendahkan. Rumah yang menjadi dasar kesombongannya sendiri ternyata berdiri di dalam cerita yang telah dirusak ibunya. Ia ingin mengatakan tidak tahu apa-apa, tetapi kalimat itu terasa seperti upaya meninggalkan semua bagian yang memang pernah dilakukannya.
'Aku tidak tahu soal api,' ujarnya akhirnya. 'Tapi aku tahu bagaimana aku memperlakukan Mbak Mita setelah itu. Aku tidak bisa memakai ketidaktahuan ini untuk mengatakan aku tidak punya kesalahan.'
Sinta kemudian menatap kakaknya. 'Mas juga pernah menamparku waktu aku menghina Mbak Mita.'
Dimas mengangguk. Ia tidak mengatakan tamparan itu diperlukan agar Sinta mengerti. 'Aku ingat. Aku salah menggunakan tangan untuk menghentikanmu. Aku boleh marah dan menegur, tetapi tidak berhak memukul. Aku minta maaf untuk tindakan itu.'
Sinta mendengarkan. Ia tidak memakai pengakuan kakaknya untuk mengembalikan dirinya menjadi orang yang dahulu selalu dibela tanpa syarat. Ada perbuatan yang diterimanya dan ada yang dilakukannya kepada orang lain. Keduanya dapat disebut tanpa saling menghapus. Ia mengatakan ingin keluarganya berhenti menganggap orang yang paling benar dalam satu pertengkaran otomatis boleh bertindak sesukanya. Dimas menyanggupi untuk menjaga sikapnya sendiri. Ia tidak meminta adiknya mengingatkan terus-menerus atau menganggap satu permintaan maaf membuatnya berhak menilai semua orang dari tempat yang lebih tinggi.
Dimas tidak meminta Sinta kembali menjelaskan seluruh perlakuannya. Mereka sudah pernah membicarakan dan meminta maaf bertahun-tahun sebelumnya. Yang sedang dihadapi adalah kebenaran baru serta cara keluarga menghormati keputusan orang yang terkena akibatnya.
Sinta meminta jeda. Dimas mengambilkan air dan membiarkannya duduk tanpa pertanyaan. Ketika ia kembali ingin berbicara, ia menanyakan apakah Mita akan kehilangan rumah yang sekarang. Dimas mengatakan Mita dan Rival tetap tinggal di rumah sewa mereka. Rangga berada di rumah Dimas dan tetap bertanggung jawab atas kebutuhan anaknya.
'Jadi aku tidak perlu meminta Mbak Mita menerima Mas Rangga kembali?'
'Tidak. Itu keputusan mereka. Bahkan kalau kamu rindu mereka makan bersama, rasa rindu itu tidak menjadi kewajiban Mbak Mita.'
Sinta mengangguk, tetapi air matanya turun. Ia masih menghadapi dukanya sendiri, dan kabar itu membuat rumah orang tuanya terasa berbeda. Ia tidak ingin berteriak atau menghadapi Lina malam tersebut. Dimas menyampaikan bahwa ia dapat menjaga jarak percakapan sambil tetap memperoleh bantuan sehari-hari.
Lina keluar setelah Dimas memberi tahu bahwa percakapan telah berhenti. Sinta memandang ibunya, lalu berkata ia belum sanggup membicarakan pengakuan itu. Lina tidak meminta dirinya dibela sebagai ibu yang sedang sakit. Ia mengatakan akan menghormati permintaan Sinta dan tidak akan memakai keadaannya untuk menghubungi Mita secara paksa.
Malam itu Sinta menulis pesan pendek kepada Mita. Ia mengatakan sudah mendengar informasi pokok dan tidak akan meminta Mita mengabaikan apa yang dirasakannya. Ia tidak menyisipkan permintaan agar ibunya diselamatkan dari akibat yang mungkin datang. Setelah membaca ulang, ia mengirim dan meletakkan telepon tanpa menunggu balasan segera.
Mita membacanya sesudah Rival tidur. Ia membalas bahwa ia menghargai pesan tersebut dan berharap Sinta tetap mengikuti perawatannya. Ia belum menjanjikan kunjungan, tetapi menyatakan dapat berbicara pada waktu yang disepakati. Untuk pertama kalinya, dukungan Sinta tidak datang sebagai air mata yang meminta Mita memaafkan sesuatu. Ia memberi tempat bagi keputusan kakak iparnya, meskipun belum tahu bagaimana keluarga akan hidup sesudahnya.
Dimas pulang setelah memastikan Sinta telah makan dan Yuni masih berada di rumah sesuai jadwal. Di mobil, ia menelepon Anisa untuk memberi kabar waktu kepulangannya. Ia tidak mengulang semua kata yang diucapkan adiknya. Kebenaran itu perlu diketahui orang yang terkena akibatnya, tetapi tidak harus dijadikan percakapan yang berkeliling sampai tak seorang pun mempunyai ruang untuk merasakannya sendiri.