Rusman menghubungi Mita sebelum datang ke butik pada Rabu sore. Ia meminta waktu untuk berbicara, tetapi tidak mengatakan dirinya sedang berada di depan pintu sehingga Mita sulit menolak. Mita menyetujui setelah pekerjaan pelanggan selesai. Ia memilih kursi dekat etalase, tempat ia masih dapat melihat orang yang lewat.
Wanda sudah pulang ketika Rusman tiba. Lampu depan tetap menyala dan pintu tidak dikunci dari dalam. Rusman melihat contoh pakaian yang digantung di dekat meja. Bertahun-tahun ia lebih sering mendengar Mita disebut istri Rangga daripada melihat pekerjaan yang dikerjakannya sendiri.
'Bapak datang tidak untuk membujukmu kembali kepada Rangga,' katanya setelah duduk.
'Saya perlu mendengar itu. Karena saya belum ingin menerima pembicaraan yang berakhir dengan kewajiban saya menjaga keluarga.'
Rusman mengangguk. Ia meletakkan tas kecil di samping kursi, tidak menyodorkan hadiah untuk membuka percakapan. Ia mengatakan ada perbuatan yang harus disebutnya sendiri, sebelum menawarkan pertolongan apa pun mengenai kebakaran.
'Bapak pernah menamparmu karena percaya Sinta menuduh kamu. Bapak tidak bertanya apa yang kamu alami. Bapak memaki dan meninggalkanmu begitu saja.'
Mita memegang ujung kursi. Selama ini, permintaan maaf Rusman lebih sering berupa pengakuan bahwa ia salah membela anak. Kalimat tersebut benar, tetapi tidak selalu sampai pada tindakan yang membuat wajah dan hatinya sakit pada hari itu.
'Waktu itu Dimas yang menampar Sinta. Saya berusaha menjelaskan. Bapak tidak ingin mendengar,' ujarnya.
'Iya. Bahkan kalau Sinta mengatakan sesuatu yang berbeda, itu tidak memberi Bapak hak memukulmu. Bapak memilih melakukan itu.'
Ia tidak mengatakan Lina yang memanas-manasi atau ketidakhadirannya di rumah membuatnya tidak tahu apa-apa. Pada hari tersebut ia berada di sana dan menggunakan kemarahannya terhadap orang yang kedudukannya paling mudah ditekan. Ia kini menyadari bahwa sering bepergian juga tidak menghapus tanggung jawab memeriksa apa yang terjadi ketika ia pulang.
Mita menatap garis jahitan pada pakaian di dekatnya. Ia mengingat bagaimana dirinya dulu berusaha menjadi menantu yang tidak merepotkan. Ia memasak, merawat orang sakit dan mencari alasan agar ia tetap dapat menyebut rumah itu keluarga. Ia tidak dapat memisahkan rasa sayang yang tumbuh sesudahnya dari kenyataan bahwa ia pernah diperlakukan seperti tidak memiliki tempat untuk membela diri.
'Saya tidak tahu kapan saya bisa merasa biasa lagi di depan Bapak,' katanya.
'Bapak tidak akan meminta tanggal. Bapak hanya perlu menerima bahwa kamu yang menentukan apakah mau bertemu.'
Rusman kemudian menjelaskan keadaan rumah. Yuni tetap membantu sesuai waktu yang disepakati dan kebutuhan Lina akan diaturnya sendiri. Ia sudah membicarakan biaya dengan anak-anak yang bersedia terlibat, tanpa memasukkan nama Mita sebagai orang yang otomatis mengganti setiap giliran kosong.
'Kamu tidak perlu kembali merawat Lina untuk menunjukkan bahwa kamu lebih baik daripada yang pernah kami katakan. Itu bukan ukuran yang berhak Bapak tetapkan.'
Mita mendengarkan sampai selesai. Ia tetap menyayangi Sinta, tetapi tidak mau menjadikan keadaan adik iparnya sebagai jalan yang membuat semua batas terhadap Lina kembali dibuka. Rusman menyanggupi untuk membedakan kedua urusan itu ketika ada kerabat menanyakannya.
Tentang kerugian rumah, Rusman menawarkan membantu mencari catatan yang masih ada dan menyusun bagian yang belum diketahui. Ia juga bersedia membantu biaya yang memang menjadi kewajiban keluarga, tetapi Mita tidak perlu mengubah keputusan agar menerima tawaran tersebut.
'Saya ingin memahami pilihan saya dahulu,' jawab Mita. 'Dan saya tidak ingin tanggung jawab Ibu diam-diam dipindahkan kepada Bapak lalu dianggap lunas.'
'Bapak mengerti. Bantuan Bapak tidak membuat perbuatan Lina hilang. Bapak juga punya kesalahan sendiri yang tidak dapat ditutup dengan membayar sesuatu.'
Mereka tidak menghitung kerugian malam itu. Mita menunjukkan bahwa ia telah menyimpan amplop dan pengakuan asli di tempat aman. Rusman tidak memintanya membawa surat itu ke rumah orang tua untuk disimpan bersama. Ia hanya mengatakan jika dibutuhkan untuk menjelaskan sesuatu, ia akan memberi keterangan yang diketahuinya, termasuk batas pengetahuannya.
Rusman kemudian menanyakan apakah ia masih boleh menjemput Rival dari sekolah seperti pernah dilakukan ketika Rangga bekerja. Mita menjawab bahwa untuk sementara ia ingin meninjau kembali siapa yang dapat membawa anaknya dan ke mana. Ia tidak ingin perubahan itu dilakukan diam-diam karena ada orang dewasa yang merasa tersinggung.
Wajah Rusman menunjukkan kesedihan, tetapi ia tidak mengatakan Mita sedang menghukum seorang kakek. Ia pernah memukul ibu anak tersebut dan kini mengetahui istrinya menyembunyikan perbuatan yang jauh lebih berat. Ketidaknyamanan menunggu keputusan Mita tidak sebanding dengan meminta korban memberikan kepercayaan hanya demi menjaga perasaannya. Ia mengatakan akan menghubungi dahulu bila ingin bertemu dan tidak akan memakai Rival untuk meneruskan pesan kepada Lina. Mita mendengar jawabannya tanpa segera membuka kembali semua kebiasaan lama. Ada keputusan yang perlu dibangun dari rasa aman, bukan dari ketakutan dianggap menantu yang tidak tahu terima kasih.
Ketika Rusman berdiri, ia bertanya apakah Mita ingin dibantu menutup toko. Mita memilih melakukannya sendiri karena ia masih perlu memeriksa uang kas. Rusman menerima jawaban itu tanpa mengatakan seorang menantu sebaiknya mengizinkan orang tua menunjukkan kebaikan. Ia berpamitan setelah memastikan kendaraannya tidak menghalangi pintu toko.
Mita menurunkan etalase penutup perlahan. Percakapan tadi tidak mengembalikan rasa aman yang pernah hilang. Namun, untuk pertama kali, orang yang menamparnya tidak meminta ia mengubah ingatan supaya terdengar lebih mudah dimaafkan. Ia dapat mengakhiri pertemuan tanpa membayar pengakuan itu dengan pelukan.
Kamis, Rangga menghadiri pertemuan konseling awal yang telah diaturnya. Ia datang membawa catatan Jumat malam, lalu menyampaikan perbuatannya tanpa mengganti kata menampar dengan bertengkar. Ketika ditanya apa yang ingin dicapai, ia semula ingin menjawab agar Mita kembali menerimanya. Ia kemudian menyadari bahwa penerimaan istrinya bukan sesuatu yang dapat dijanjikan orang lain.
Ia mengatakan ingin berhenti memakai kemarahan, tuduhan dan kedudukannya sebagai suami untuk mengatur Mita. Pertemuan itu menjadi awal pekerjaan yang harus dilanjutkan, bukan pemeriksaan yang sekali lewat membuatnya pantas pulang. Sesudah selesai, ia kembali bekerja dan mengurus pembayaran yang menjadi tanggung jawabnya. Ia mengabari Mita bahwa ia telah hadir, tanpa meminta istrinya menilai apakah satu pertemuan cukup sebagai bukti.