Senin pagi, Rangga terbangun oleh suara Daniel menangis dari kamar sebelah. Ia semula ingin memanggil Anisa untuk menanyakan sarapan, lalu melihat pesan Dimas bahwa makanan dapat diambil dari dapur dan bekasnya dibereskan masing-masing. Ia duduk beberapa saat sebelum berdiri. Kebiasaan yang dianggapnya kecil ternyata ikut dibawanya bahkan ketika ia sedang menumpang.
Di dapur, ia membuat minum dan memanaskan makanan yang tersedia. Aqila duduk di meja, mencari penghapus. Rangga menemukannya di bawah kursi dan menyerahkan tanpa mengubah percakapan menjadi keluhan tentang keluarganya. Anak itu tidak perlu mendengar bahwa pamannya merasa diperlakukan tidak adil.
Sebelum berangkat kerja, Rangga membuka kertas yang ditulis Jumat malam. Ia mencari layanan konseling yang mempunyai pengalaman menangani perilaku kekerasan dalam keluarga. Pada percakapan pertama, ia hampir mengatakan hanya ada kesalahpahaman dengan istri. Ia berhenti, kemudian menyebut bahwa ia pernah menampar dan mendorong Mita serta masih memakai tuduhan untuk membuatnya menurut.
Petugas menjelaskan cara mengatur pertemuan awal. Rangga mencatat jadwal Kamis yang masih tersedia dan menyatakan bersedia datang. Ia tidak meminta surat yang dapat dibawa kepada Mita sebagai jaminan telah berubah. Sesudah menutup telepon, ia menaruh jadwal dalam kalender kerjanya sendiri.
Telepon berikutnya datang dari Lina. Ia mengetahui Rangga tidak pulang bersama Mita setelah mengambil pakaian dan ingin memastikan anaknya tidak bermalam di kantor. Rangga mengatakan ia tinggal sementara di rumah Dimas atas permintaan Mita.
'Ibu akan meneleponnya. Jangan sampai rumah tanggamu ikut rusak karena kesalahan Ibu,' ujar Lina.
'Jangan, Bu. Mita sudah meminta jarak. Ada perbuatanku yang juga harus kuurus. Aku tidak mau Ibu datang untuk meminta dia menerima aku lagi.'
Lina terdiam. Rangga tidak membiarkan percakapan berakhir dengan janji akan membujuk istrinya setelah keadaan lebih tenang. Ia mengulang bahwa larangan kunjungan tetap berlaku dan ia tidak akan membawa Rival menemui neneknya diam-diam. Ia dapat menyayangi ibu tanpa membuat anak dan istrinya mengabaikan keputusan yang mereka perlukan sekarang.
Di butik, Mita menerima pesan bahwa Rangga sudah mengatur pertemuan konseling. Isinya singkat dan tidak meminta tanggapan. Ia membaca setelah menyelesaikan pembayaran seorang pelanggan, kemudian menyimpan telepon. Memulai bantuan adalah tindakan yang diperlukan, tetapi ia belum dapat menilai apa yang akan dilakukan Rangga sesudahnya.
Mita sendiri menghubungi pendamping untuk memperoleh penjelasan mengenai pilihan yang dapat diambil setelah menerima pengakuan Lina. Ia meminta waktu berbicara pada Selasa. Pertanyaan yang ditulisnya tidak berhenti pada apakah ia sebaiknya memaafkan. Ia perlu memahami cara menjaga bukti yang ada, mengurus keamanan anak, serta membedakan persoalan rumah tangganya dari perbuatan ibu mertua.
Wanda datang membawa hasil jahitan yang telah selesai. Ia melihat Mita menutup map dengan cepat dan bertanya apakah ada pekerjaan yang perlu ditunda. Mita menjawab bahwa ada urusan keluarga, tetapi ia belum ingin bercerita. Ia hanya memerlukan bantuan mengatur pengambilan pelanggan pada waktu pertemuan esok hari.
'Jam dua sampai tiga saya tidak menerima janji baru. Kalau pelanggan ingin mencoba pakaian, tawarkan sebelum atau sesudahnya,' kata Mita.
Wanda menuliskan waktu itu pada buku toko. Ia tidak bertanya lebih jauh atau mengatakan semua orang menikah pasti mengalami persoalan yang sama. Ada bentuk pertolongan yang cukup berupa melaksanakan pekerjaan dengan jelas.
Siang harinya Rangga mengirim pertanyaan mengenai jadwal menjemput Rival. Mita memberikan waktu dan tempat. Mereka menyepakati pertemuan di depan sekolah, kemudian Rival diantar ke butik. Tidak ada perubahan rencana mengunjungi orang tua atau mengambil barang tanpa sepengetahuan Mita.
Rangga datang sesuai waktu. Di perjalanan, Rival bertanya mengapa ayahnya tidak mengajak mereka makan bersama seperti biasa. Rangga mengatakan untuk sementara orang tuanya sedang mengatur cara tinggal dan berkomunikasi. Ia tidak menyebut Mita marah sehingga keluarga kehilangan makan malam. Ketika Rival kecewa, ia mendengarkan tanpa meminta anak itu menjadi alasan untuk membuka pintu rumah.
Di butik, Rangga menyerahkan tas sekolah dan memastikan kebutuhan yang dibawanya tidak tertinggal. Ia tidak masuk ke ruang kerja Mita atau menanyakan isi map yang tertutup. Sebelum pulang, ia mengatakan biaya sekolah tetap dibayarkan melalui cara yang biasa mereka gunakan. Tinggal terpisah tidak membuat tanggung jawab terhadap anak dapat dihentikan sampai istrinya memberi jawaban.
Mita memeriksa pemberitahuan pembayaran sendiri, lalu berterima kasih atas informasi yang diperlukan. Ia tidak merasa berutang pertemuan pribadi sebagai balasan. Mereka berpisah setelah Rival selesai menunjukkan gambar yang ingin diperlihatkannya kepada ayah.
Malamnya, Rangga hampir menulis pesan panjang tentang betapa sepinya kamar tamu. Ia membacanya kembali dan menyadari isi pesan itu meminta Mita menangani ketidaknyamanannya. Ia menyimpan tulisan tersebut untuk dibicarakan dalam pertemuan Kamis, kemudian membantu Dimas membereskan meja tanpa menunggu diminta.
Di rumah sewa, Mita menyimpan pengakuan asli dan amplop catatan rumah dalam tempat yang dapat dikuncinya. Ia membuat daftar pertanyaan untuk esok hari dan memastikan Rival mengetahui siapa yang akan menjemputnya. Tidak ada kepastian mudah mengenai akhir perkawinannya atau perkara kebakaran. Namun, dua orang dewasa itu mulai melakukan pekerjaan masing-masing tanpa menitipkan seluruh keputusan kepada orang yang paling lama diminta mengalah.
Selasa siang, Mita menemui Laras, pendamping yang menerimanya melalui layanan yang telah dihubungi. Ia membawa salinan pengakuan dan daftar kejadian yang masih diingatnya. Kertas asli tetap disimpannya sendiri. Laras tidak mengatakan satu lembar tulisan pasti menghasilkan keputusan tertentu. Ia meminta Mita membedakan apa yang dilihat sendiri, apa yang baru dikatakan Lina, serta bagian yang belum diketahui. Perbedaan itu membantu Mita menghentikan kebiasaan mengisi semua kekosongan dengan dugaan terburuk.
Mereka juga membicarakan kebutuhan tempat tinggal dan komunikasi mengenai Rival. Mita tidak diminta memilih bercerai atau kembali kepada suami pada pertemuan pertama. Ia dapat memperoleh penjelasan lebih lanjut tentang langkah yang tersedia, kemudian memutuskan dengan informasi yang cukup. Ketika keluar, persoalannya belum menjadi ringan. Tetapi ia membawa catatan yang dapat dibaca lagi, nama orang yang dapat dihubungi dan keyakinan bahwa ia tidak harus menjelaskan seluruh hidupnya kepada orang yang sama yang selama ini meminta ia berhenti mengungkitnya.