Pada Rabu di pekan kelima perawatan, Sinta pulang ke rumah Lina dan Rusman. Keputusan itu dibuat setelah tim perawatan menilai keadaannya dan membicarakan kelanjutan pendampingan. Sinta masih mempunyai jadwal pemeriksaan dan bantuan yang perlu diikuti. Tidak ada yang menyebut kepulangannya sebagai bukti bahwa kehilangan Aldo telah selesai diterima.
Ia membawa tas cokelat dari Ati, map pemeriksaan, serta beberapa pakaian yang diberikan keluarga. Petugas membantu memastikan barangnya tidak tertinggal. Sinta memeriksa buku belanja kecil di dalam tas, kemudian meminta map disimpan di bagian yang mudah dijangkau. Ia ingin mengetahui letak barangnya sendiri.
Dimas mengurus perjalanan pulang bersama Rusman. Mita tidak berada di rumah sakit pagi itu karena harus menyerahkan pakaian pelanggan. Ia sudah menjelaskan akan datang sore hari. Kali ini Lina tidak meminta suami Mita memaksanya berangkat lebih cepat. Ia lebih sibuk memastikan kamar tamu di rumahnya tidak penuh tumpukan barang.
Kamar itu bukan kamar Sinta dan Aldo. Gorden yang tergantung dipilih Rusman beberapa tahun sebelumnya, dan lemari di sudut masih menyimpan sebagian seprai keluarga. Sinta mengetahui tempat yang akan didatanginya. Ia memilih tinggal sementara di sana karena belum siap kembali ke rumah Ati, bukan karena orang lain memutuskan rumah suaminya telah menjadi terlarang.
Di perjalanan, ia meminta berhenti sebentar ketika merasa mual. Rusman mencari tempat yang aman untuk menepi. Mereka tidak mengubah jeda itu menjadi pertanyaan apakah Sinta sebenarnya belum pantas pulang. Setelah minum dan beristirahat, ia sendiri mengatakan dapat melanjutkan perjalanan.
Lina menunggu di teras dengan tongkat di dekat kursi. Ia ingin memeluk anaknya, tetapi berhenti ketika melihat Sinta memandangi pintu. 'Mau masuk dulu, Nak? Makanan sudah ada. Kalau belum ingin makan, boleh disimpan.'
'Aku ingin lihat kamar dulu.'
Rusman mengantar tasnya dan menunjukkan letak kamar mandi. Dimas menaruh nomor yang diperlukan di tempat yang sebelumnya disepakati bersama Sinta. Mereka telah membicarakan siapa yang dapat dihubungi jika ia membutuhkan bantuan dan apa yang harus dilakukan ketika muncul keadaan yang memerlukan pertolongan. Kertas itu tidak berisi daftar tuntutan agar Sinta membuktikan dirinya sudah baik.
Sinta duduk di tepi ranjang. Ia memandang tas cokelat, lalu meminta keluarganya keluar sebentar. Lina terlihat hendak bertanya mengapa ia justru ingin sendiri setelah lama berpisah. Namun, Rusman menyentuh tangannya dan mengajaknya menunggu di ruang tengah. Mereka tetap berada di dekatnya tanpa berdiri di depan pintu seperti menunggu kesalahan.
Ada pendamping rumah bernama Yuni yang akan membantu pada waktu tertentu. Rusman mengaturnya setelah mendiskusikan kebutuhan dan biaya dengan keluarga. Yuni tidak menggantikan tenaga kesehatan atau memutuskan pengobatan. Ia membantu kebutuhan sehari-hari yang tidak sanggup ditangani Lina sendiri ketika Rusman perlu pergi.
'Mita tidak tinggal di sini?' tanya Sinta ketika ia keluar untuk makan.
'Mita punya rumah dan pekerjaan sendiri,' jawab Rusman. 'Dia akan berkunjung pada waktu yang sudah dibicarakan. Kamu tetap punya orang yang dapat dimintai bantuan di sini.'
Sinta mengangguk. Ia memang merindukan kakak iparnya, tetapi tidak meminta kamar lain dikosongkan untuk menampung Mita. Ada masa ketika ia dapat menyuruh dan mengadu sampai orang lain menurut. Kini ia berusaha menyatakan kebutuhan tanpa menganggap orang yang menolak otomatis berhenti menyayanginya.
Sesudah makan, ia mengeluarkan pakaian dari tas cokelat. Selendang yang dibawa Ati masih berbau lemari kamar lamanya. Sinta memegangnya cukup lama, kemudian memilih meletakkannya di rak, bukan kembali memasukkan semua benda ke dalam tas. Ia meminta satu gantungan untuk baju yang ingin dipakai besok. Yuni mengambilkan tanpa membongkar barang lain. Kamar itu belum terasa sebagai tempatnya sendiri, tetapi untuk pertama kalinya Sinta menaruh sesuatu karena ia memang akan menjalani hari berikutnya di sana. Ia tidak harus memindahkan seluruh kenangan rumah Aldo untuk mempunyai pakaian bersih dan tempat beristirahat malam itu.
Mita datang sore hari bersama Rival. Anaknya membawa gambar kebun yang dibuat di sekolah. Sebelum memberikannya, ia bertanya apakah tantenya ingin menerima. Sinta melihat beberapa bunga yang lebih besar daripada rumah dalam gambar dan tersenyum tipis.
'Ini kebunnya siapa?'
'Aku belum tahu. Aku cuma ingin menggambar banyak warna.'
Sinta mengucapkan terima kasih, lalu meletakkan kertas di meja. Ia tidak harus mengatakan gambar itu membuatnya bahagia. Rival segera meminta izin bermain di halaman dan Mita mengawasi dari teras. Anak itu dapat membawa sesuatu karena ingin, kemudian kembali menjalani sore sebagai anak-anak.
Ketika mereka duduk sebentar berdua, Sinta bertanya apakah Mita akan datang ke pertemuan keluarga Sabtu. Lina telah menyebut akan ada pembicaraan, tetapi tidak mengatakan isinya. Mita menjawab ia memang perlu berbicara dengan ibu dan kakak-kakak Sinta. Itu bukan pembahasan perawatan Sinta dan bukan sesuatu yang perlu ia bantu selesaikan.
'Kalau ada yang marah, aku tidak ingin dikumpulkan juga,' ujar Sinta.
'Kamu tidak perlu ikut. Urusan orang dewasa yang lain tidak otomatis menjadi tugasmu karena kamu sudah pulang.'
Mita tidak mengatakan semuanya akan berlangsung tenang. Ia sendiri masih memikirkan ucapan Lina mengenai kebakaran. Namun, ia dapat memastikan Sinta tidak disuruh menjadi alasan semua pembicaraan ditunda atau semua kesalahan dimaafkan.
Malam pertama di rumah tetap sulit. Sinta terbangun setelah bermimpi Aldo mengetuk jendela. Ia memanggil Rusman, yang datang dan mendengarkan tanpa mengatakan mimpi itu pertanda suaminya meminta sesuatu. Mereka mengikuti rencana bantuan yang telah dijelaskan dan mencatat hal yang perlu disampaikan pada pemeriksaan berikutnya.
Pagi harinya, Sinta keluar membawa gelas kosong. Ia tampak lelah dan tidak ingin menerima kunjungan tambahan. Lina menyimpan keinginan mengundang kerabat untuk menyambut kepulangannya. Ia hanya menawarkan sarapan dan bertanya apakah anaknya mau duduk di teras.
Sinta memilih makan di ruang tengah. Ia tidak pulang menjadi perempuan yang sama seperti sebelum Aldo meninggal. Ia pulang membawa duka, perawatan yang masih berlangsung, dan kesempatan membuat beberapa pilihan yang kecil tetapi nyata. Di meja dekatnya, gambar Rival belum ditempel. Kertas itu tetap dapat menunggu sampai ia menentukan tempatnya sendiri.