Jumat malam, setelah Rival tidur, Mita menaruh dua gelas air di meja. Ia tidak menyiapkan makanan untuk memperhalus pembicaraan. Sejak telepon Lina mengenai kebakaran, pikirannya berulang kali kembali pada masa ketika rumah mereka masih berdiri dan ia merasa mempunyai tempat yang aman bersama Rangga.
'Besok kita mendengar Ibu,' katanya. 'Tapi ada sesuatu di antara kita yang tidak bisa terus menunggu kesalahan orang lain dibuka dulu.'
Rangga memandang gelas di depannya. Ia mengira Mita hendak membicarakan telepon ketika ia meminta butik ditutup. Ia mulai mengatakan bahwa ia sudah mengakui sikapnya tidak adil, tetapi Mita mengangkat tangan, memintanya mendengar sampai selesai.
'Kamu pernah menamparku karena percaya aku menyakiti Sinta. Aku menjelaskan, kamu tidak mau mendengar. Lalu ketika aku benar-benar marah kepada adikmu, kamu mencengkeram rahangku, menampar dan mendorongku ke ranjang.'
Tidak ada suara dari kamar Rival. Rangga menoleh ke arah pintu, seperti mencari bagian lain rumah yang dapat membuatnya lepas dari kalimat tersebut. Mita menunggu. Ia tidak menaikkan suara agar suaminya tidak dapat menyebut nada bicaranya sebagai persoalan baru.
'Waktu itu aku sangat emosi,' jawab Rangga.
'Aku tahu kamu emosi. Aku menanyakan perbuatanmu, bukan apakah kamu mempunyai perasaan saat melakukannya.'
Rangga mengusap wajah. Bertahun-tahun ia lebih mudah menyebut dirinya terjepit antara ibu, adik dan istri. Kata itu memberinya tempat berdiri sebagai orang yang sama-sama terluka oleh keadaan. Namun, Mita sedang menyebut tindakannya sendiri, sesuatu yang tidak dilakukan oleh ibu atau adiknya melalui tangan orang lain.
'Aku yang memukulmu,' katanya akhirnya. 'Aku yang memilih tidak mendengar dan menggunakan kekerasan. Ibu atau Sinta tidak membuat tanganku bergerak.'
Mita merasakan napasnya tertahan. Ia sudah pernah menerima maaf, bahkan memaafkan dalam keadaan yang jauh lebih sempit daripada sekarang. Kehamilan, kelahiran Rival dan kebutuhan bertahan di rumah keluarga membuatnya sering berpikir bahwa melanjutkan hari adalah satu-satunya jawaban yang tersedia.
'Waktu menikah denganmu, aku berharap mempunyai keluarga yang lengkap,' katanya. 'Ibuku meninggal ketika aku masih sangat kecil. Nenek yang merawatku juga sudah tidak ada sejak aku sekolah. Aku tahu rasanya pulang tanpa ada orang yang menunggu. Karena itu aku bertahan lebih lama daripada yang sanggup kujelaskan.'
Rangga menatapnya. Ia mengetahui riwayat tersebut, tetapi dahulu kerap menganggap kesetiaan Mita sebagai kepastian bahwa istrinya akan selalu tinggal. Ia tidak pernah menyebut betapa sulitnya menolak keluarga ketika seseorang takut kembali hidup sendirian.
'Sekarang aku punya pekerjaan, rumah yang kusewa dan teman yang bisa dihubungi,' lanjut Mita. 'Aku tidak ingin Rival belajar bahwa rumah hanya dapat dipertahankan dengan membiarkan ibunya takut. Kalau aku memilih tinggal bersamamu, pilihan itu harus berarti aku dapat merasa aman. Bukan karena aku tidak mempunyai tempat lain.'
'Aku tidak mengatakan enam tahun ini tidak berarti,' ujarnya. 'Kamu bekerja, kita pindah dan membesarkan Rival. Ada hari-hari baik. Tapi ketika aku menolak sesuatu dan kamu langsung menuduhku kurang peduli, tubuhku masih mengingat apa yang dulu terjadi setelah kamu merasa berhak marah.'
Rangga hendak meraih tangannya. Mita menarik tangan ke pangkuan, dan ia berhenti. Mengetahui dirinya ingin menenangkan tidak memberinya hak menentukan bagaimana istrinya menerima sentuhan. Ia duduk kembali tanpa meminta Mita membuktikan bahwa ia masih mencintainya.
'Kamu ingin aku bagaimana?'
'Aku ingin kamu mencari bantuan untuk perilakumu sendiri. Jangan menjadikan aku pengingat bahwa kamu harus berhenti. Jangan menunggu sampai aku ketakutan baru menyebut dirimu terlalu emosi.'
Rangga mengangguk. Ia bertanya apakah konseling pasangan dapat membantu, tetapi Mita mengatakan ia belum ingin menjadikannya pembicaraan yang menyamakan semua kesalahan. Ada tindakan Rangga yang harus diakui dan ditangani tanpa meminta Mita mencari bagian dirinya yang dapat dianggap penyebab.
'Aku juga pernah marah dan berbicara tajam. Aku bertanggung jawab atas itu. Tapi kamu tidak boleh memakai pengakuanku untuk membuat tamparanmu menjadi pertengkaran biasa.'
'Aku tidak akan mengatakan begitu.'
'Itu yang perlu kamu jalani. Bukan hanya kamu katakan malam ini.'
Mereka berhenti ketika Rival terbangun dan meminta air. Rangga mengambilkan gelas kecil, menemani anaknya kembali ke kamar, lalu menunggu sampai ia tenang. Mita tetap di ruang tengah. Ia tidak mengubah percakapan menjadi sesuatu yang harus didengar Rival agar anak itu memihak salah satu orang tua.
Ketika Rangga kembali, Mita mengatakan ia ingin mempunyai waktu untuk memutuskan bentuk hubungan yang dapat diterimanya. Ia tidak berjanji keputusan itu akan selalu sama. Untuk sementara mereka akan menjaga kebutuhan Rival dan tidak mengumumkan pertengkaran kepada keluarga sebagai cara memperoleh dukungan untuk menekan pihak lain.
'Kalau Ibu bilang semua ini sudah lama, apa yang kamu jawab?' tanyanya.
Rangga diam beberapa saat. 'Bahwa lamanya waktu tidak mengubah siapa yang melakukan. Dan Ibu tidak bisa meminta kamu menyelesaikannya untuk membuat aku lebih nyaman.'
Mita memandangnya, berusaha melihat apakah kalimat itu benar-benar dipahami atau hanya disusun agar pembicaraan selesai. Ia tidak dapat memastikan malam itu. Yang dapat dilakukannya adalah menyatakan apa yang tidak akan diterima dan melihat tindakan yang datang sesudahnya.
Rangga meminta kertas dan menuliskan hal yang diakuinya: tamparan, dorongan, tuduhan yang dipercaya tanpa mendengar, serta kebiasaan menyerahkan urusan keluarganya kepada Mita. Ia tidak menyerahkan kertas itu sebagai perjanjian yang mewajibkan istrinya bertahan. Ia menyimpannya untuk dibawa ketika mencari pendampingan profesional, setelah menanyakan tempat yang dapat dihubungi sendiri.
Mita kemudian menjelaskan tempat pertemuan Sabtu. Ia memilih rumah Dimas, supaya percakapan mengenai rumah yang terbakar tidak berlangsung di rumah Lina atau di depan Rival. Anisa telah mengatur agar anak-anak berada bersama Rina selama pembicaraan. Sinta akan ditemani Yuni di rumah orang tuanya.
Rangga menyetujui pengaturan itu. Ia tidak meminta Mita mengubah tempat supaya ibunya merasa lebih nyaman. Ketika malam semakin larut, mereka membereskan gelas masing-masing. Belum ada pelukan yang menutup semua urusan. Mita masuk kamar dengan kuncinya sendiri dan memastikan teleponnya berada dekat tempat tidur. Rangga tinggal di ruang tengah, membaca kembali perbuatan yang akhirnya disebutnya tanpa menyembunyikan diri di balik nama keluarganya.