Pada awal pekan itu, Aldi menghubungi Rangga. Ia telah menerima penjelasan mengenai kejadian yang menewaskan Aldo dan ingin membicarakannya dengan keluarga. Bukan untuk meminta Sinta diperiksa ulang tentang percakapan terakhir, melainkan memastikan dugaan yang selama ini beredar tidak terus dipakai untuk menyalahkan orang yang tidak berada di lokasi.
Mereka bertemu di rumah Ati. Mita datang bersama Rangga, sementara Rusman menemani Lina di rumah. Sinta belum pulang dari perawatan. Aldi telah meminta izin untuk menyampaikan informasi pokok kepada orang-orang yang menghubungi dan menunggu Aldo hari itu. Dokumen yang dibawanya disimpan dalam map tertutup, bukan dibagikan sebagai foto kepada semua kerabat.
Ati duduk di sisi meja. Sejak kunjungannya ke rumah sakit berakhir lebih cepat, ia belum menelepon Sinta lagi. Ia masih menangis ketika melihat barang anaknya, tetapi kini ada kalimat lain yang tidak dapat dilupakan: Sinta juga menunggu Aldo.
Aldi menjelaskan urutan yang diketahui. Mobil Aldo keluar dari jalur sebelum menabrak pembatas. Ada keterangan orang di sekitar lokasi dan catatan penanganan setelah kecelakaan. Tidak semua detik dapat mereka ketahui. Ia tidak akan mengisi bagian yang belum jelas dengan cerita bahwa Aldo pasti membaca pesan atau sedang marah kepada seseorang.
Rangga memeriksa jam ketika ia dan Dimas pertama kali menerima kabar. Mita menunjukkan waktu panggilannya kepada Aldo dari telepon sendiri. Percakapan itu berlangsung sebelum Aldo melanjutkan perjalanan. Sesudahnya ia mengirim alamat tempat mereka menunggu, tetapi tidak menerima balasan. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi setelah sambungan berakhir.
'Ketika saya menelepon, Sinta sedang dibawa untuk diperiksa,' ujar Mita. 'Saya mengatakan dia tidak sendirian. Saya meminta Aldo datang dengan tenang. Setelah kami tiba, saya mengirim alamat tempat kami menunggu.'
Ati memandangi layar yang disodorkan, lalu menunduk. Selama berminggu-minggu ia mengulang bahwa semua orang memanggil Aldo dengan panik dan mendesaknya datang. Ia tidak pernah menanyakan apa yang sebenarnya dikatakan. Kata-kata yang dibuatnya sendiri telah terasa seperti kenangan.
'Jadi bukan Sinta yang menelepon?'
'Saya. Karena ia sedang membutuhkan pertolongan. Mengabari suami tentang keadaan istrinya tidak sama dengan menyuruhnya membahayakan diri.'
Aldi menambahkan bahwa keluarga dapat mengurus pertanyaan yang masih tersisa melalui pihak yang menangani kejadian. Mereka tidak dapat menempatkan seluruh penyebab kematian pada satu panggilan hanya karena panggilan itu terjadi lebih dahulu. Sinta bukan pengemudi mobil tersebut, dan orang-orang di rumah sakit tidak menentukan cara kendaraan melaju di jalan.
Tidak ada yang mengatakan penjelasan itu akan membuat Ati langsung tenang. Ia memegang tepi meja dan menangis. Ayah Aldo duduk di sebelahnya, membiarkannya menyelesaikan tangis sebelum bertanya apa yang ingin ia sampaikan kepada Mita.
'Aku menuduhmu tanpa bertanya,' kata Ati akhirnya. 'Aku juga menuduh keluarga kalian membuat Aldo meninggal.'
Mita merapatkan kedua tangannya. Ia sudah membayangkan percakapan itu berkali-kali, tetapi ketika permintaan maaf mulai diucapkan, ia tidak merasakan kemenangan. Ia hanya merasa lelah karena sesuatu yang sejak awal belum terbukti telah membuat Sinta semakin takut.
'Saya menerima bahwa Tante mengakui tuduhannya salah. Tapi yang paling berat menerimanya adalah Sinta. Dia mendengar itu di makam suaminya, lalu mendengarnya lagi saat dirawat.'
Ati mengangguk. Ia tidak meminta Mita menjamin Sinta akan memaafkan. Ia bertanya bagaimana dapat menyampaikan permintaan maaf tanpa membuat menantunya harus menerima kunjungan baru. Mita menyarankan pesan singkat yang dapat disampaikan bila Sinta bersedia, bukan daftar alasan mengapa seorang ibu boleh mengatakan apa pun ketika kehilangan anak.
Ati mengambil kertas. Beberapa kali ia menulis kata tetapi, lalu mencoretnya. Ia akhirnya mengatakan bahwa ia salah menyalahkan Sinta dan keluarganya. Kesedihannya tidak membuktikan tuduhan tersebut. Ia tidak meminta jawaban dan tidak mengharuskan Sinta segera kembali ke rumah.
Rangga membaca pesan itu setelah Ati mengizinkan. Ia menyadari betapa sering dirinya dahulu membela tuduhan karena orang yang menyampaikannya adalah keluarga sendiri. Di hadapannya, Mita sudah terlalu banyak menerima kalimat yang ditarik kembali hanya setelah ia menanggung akibatnya.
Sebelum pulang, Mita membicarakan telepon Lina mengenai rumah. Rangga mengatakan ia juga baru mendengar bahwa ibunya ingin mengumpulkan mereka. Mita tidak ingin menunggu Sabtu tanpa mengetahui apakah suaminya pernah mengetahui sesuatu yang disembunyikan darinya.
'Aku tidak tahu apa yang Ibu maksud dengan perbuatannya dalam kebakaran,' jawab Rangga. 'Aku akan mendengar bersama kamu.'
'Kalau ternyata ada kesengajaan, aku tidak mau kamu memintaku diam hanya karena itu ibumu.'
Rangga tidak langsung memberikan jawaban besar. Ia mengatakan Mita berhak mendengar kebenaran dan tidak akan dipaksa memutuskan apa pun malam itu. Mita menerima kalimat tersebut sebagai sesuatu yang kelak harus dibuktikan, bukan pegangan yang otomatis menghapus riwayat mereka.
Pesan Ati diteruskan melalui cara yang disetujui Sinta dan petugas. Sinta memilih mendengarnya dibacakan dalam kunjungan berikutnya. Ia menangis, lalu mengatakan belum ingin membalas. Rangga menyampaikan keputusan itu tanpa mengubahnya menjadi permintaan maaf dari Sinta kepada ibu mertuanya.
Ati juga menghubungi dua kerabat yang sebelumnya mendengar tuduhannya. Pada panggilan pertama, orang itu menyarankan agar persoalan tidak diperpanjang karena semua keluarga sedang berduka. Ati menjawab bahwa ia tidak sedang meminta mereka berdebat. Ia ingin membetulkan perkataannya sendiri: ia tidak mempunyai dasar untuk menuduh Sinta dan keluarga Mita menyebabkan Aldo meninggal. Ia meminta agar tuduhan tersebut tidak diteruskan sebagai kabar yang telah terbukti.
Panggilan kedua lebih sulit. Ati harus mengulang karena suaranya patah, dan sempat ingin menyerahkan telepon kepada Aldi. Namun, ia melanjutkan sendiri sampai lawan bicaranya memahami. Ia tidak menceritakan isi perawatan Sinta atau memakai kehilangan kehamilan untuk meminta simpati baru. Setelah selesai, ia menaruh telepon di meja. Permintaan maaf kepada satu orang tidak cukup kalau kesalahan yang sama masih dibiarkan hidup di percakapan orang lain.
Malamnya, Ati merapikan kertas salinan yang disimpannya sendiri. Aldo tetap tidak dapat pulang. Ia tidak memperoleh orang yang dapat membuat kehilangan itu terasa adil. Namun, ia telah berhenti menuntut Sinta membayar kesedihannya dengan menerima tuduhan. Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, pertanyaan yang tersisa dibiarkannya menjadi pertanyaan, bukan hukuman bagi orang yang masih hidup.