Ati datang dua minggu setelah Sinta mulai dirawat. Aldi mengantarnya, tetapi menunggu di ruang keluarga bersama Rangga. Mereka sudah menerima pesan Sinta dan penjelasan mengenai batas kunjungan. Ati menyatakan bersedia datang sebentar. Ia membawa tas kecil yang disiapkan malam sebelumnya, setelah lama duduk di kamar Aldo.
Sinta mengetahui siapa yang akan masuk. Ia meminta Mita tetap berada di dekatnya, sementara petugas mendampingi sesuai kebutuhan. Ketika pintu terbuka, ia langsung melihat tas kain berwarna cokelat di tangan ibu mertuanya. Tas itu biasa dipakai Aldo membawa barang ketika menginap di rumah orang tua Sinta.
'Mama membawa pakaianmu,' ujar Ati. 'Yang belum sempat diambil.'
Sinta mengangguk. Ia tidak segera menyentuh tas itu. Ati duduk dan memandang wajah menantunya, yang tampak lebih kurus daripada pada hari pemakaman. Ada pertanyaan yang sudah disiapkannya, tetapi ketika berada di kamar, kata-katanya menjadi sulit disusun.
'Bagaimana makanmu?'
'Masih sedikit. Kadang bisa lebih banyak.'
Ati mengangguk, lalu melihat map di meja. Ia bertanya apakah itu catatan mengenai kehamilan. Sinta menaruh telapak tangan di atasnya, bukan untuk menyembunyikan, melainkan menandai bahwa ia belum ingin membuka isinya. Mita mengingatkan bahwa mereka dapat berbicara tentang pakaian yang dibawa dulu.
Di dalam tas ada tiga baju Sinta, selendang dan sebuah buku kecil yang biasa digunakan untuk mencatat belanja rumah. Tidak ada pakaian bayi. Ati mengatakan ia tidak ingin memilihkan benda lain tanpa tahu apakah Sinta ingin menerimanya. Sinta berterima kasih. Untuk beberapa saat, kunjungan itu berjalan lebih tenang daripada yang dikhawatirkannya.
Kemudian Ati menanyakan apakah Sinta masih mengingat telepon keluarga kepada Aldo. Bahu Sinta menegang. Mita menoleh kepada Ati dan mengatakan bahwa permintaan Sinta sudah disampaikan sebelum kunjungan. Mereka belum akan membahas penyebab kecelakaan di kamar perawatan.
'Aku hanya ingin tahu mengapa harus Aldo yang datang saat kalian semua sudah ada,' ujar Ati.
Sinta menarik tangannya dari map. 'Karena dia suamiku, Ma.'
Kalimat itu keluar pelan, lalu disusul tangis yang mulai sulit dikendalikannya. 'Aku tidak menyuruh dia meninggal. Aku juga menunggu dia.'
Ati terdiam. Ia tampak hendak membalas, tetapi petugas menghentikan pembicaraan dan membantu Sinta menenangkan diri. Mita tidak mencoba memenangkan perdebatan. Ia hanya mengatakan bahwa mereka akan mengakhiri kunjungan seperti yang sebelumnya telah disepakati.
'Aku baru sebentar di sini,' kata Ati.
'Sinta sudah mengatakan topik yang belum sanggup dibahas. Sebentar pun bisa terlalu berat kalau batas itu dilewati,' jawab Mita.
Ati memandang tas yang belum dibongkar seluruhnya. Untuk pertama kali sejak masuk, ia tidak menemukan kalimat yang dapat mempertahankan kemarahannya tanpa melihat akibatnya pada orang di depannya. Ia berdiri, lalu mengatakan bahwa pakaian itu boleh disimpan. Sinta tidak diminta menjawab ucapan perpisahan.
Di luar, Rangga segera bangkit ketika melihat mata Mita merah. Ati berjalan mendekati Aldi dan mengatakan kunjungan selesai lebih cepat. Ia tidak menceritakan bahwa ia kembali bertanya tentang kecelakaan. Mita menjelaskannya ketika Rangga menanyakan apakah Sinta masih bersedia menerima tamu.
'Saya cuma bertanya. Apa keluarga suaminya sekarang tidak boleh tahu apa-apa?' Ati menatap mereka satu per satu.
Aldi memegang tas ibunya yang lain. 'Boleh meminta penjelasan, Ma. Tapi kita sudah tahu Sinta belum siap membicarakannya di sini. Aku masih mengurus informasi yang diperlukan. Jangan membuat dia jadi satu-satunya orang yang harus menjawab.'
Rangga terlihat marah. Ia mengatakan Ati sebaiknya tidak datang lagi. Mita tidak serta-merta mengiyakan larangan itu. Sinta perlu mendapat kesempatan menyatakan keinginannya setelah merasa lebih tenang, dan petugas akan membantu menilai bentuk kunjungan berikutnya. Keputusan itu tidak boleh hanya menjadi cara kakak-kakaknya menyalurkan kemarahan.
'Yang harus berhenti sekarang adalah tuduhan,' kata Mita. 'Bukan hak Sinta menentukan siapa yang ingin ditemuinya.'
Ati duduk kembali di kursi lorong. Ia menatap ujung sepatunya. 'Aku baru kehilangan anak. Semua orang ingin aku bicara dengan baik.'
'Tidak ada yang meminta Mama tidak sedih,' jawab Aldi. 'Aku juga kehilangan adik. Tapi kita tidak boleh membuat kesedihan itu menjadi bukti bahwa Sinta bersalah.'
Pembicaraan itu tidak menghasilkan pelukan atau permintaan maaf mendadak. Ati meminta pulang. Sebelum berangkat, ia menanyakan kepada Aldi kapan penjelasan tentang kecelakaan dapat diperoleh. Aldi mengatakan akan memberi kabar setelah informasi yang diterimanya dapat dipahami, tanpa menjanjikan sesuatu yang belum ada di tangannya.
Di mobil, Ati membuka tas lain yang dibawanya. Sebuah kemeja Aldo masih terlipat di sana. Ia semula ingin menyerahkannya kepada Sinta, tetapi mengurungkan niat ketika melihat keadaan menantunya. Jemarinya meraba kerah yang sudah dicuci. Aldi tidak bertanya mengapa benda itu belum diberikan. Ia hanya menunggu ibunya memasang sabuk sebelum berangkat. Ati akhirnya memahami bahwa ia datang membawa dua keinginan yang berbeda: memberi Sinta barang yang mungkin dibutuhkan, dan memperoleh seseorang untuk menanggung kemarahan yang tidak tahu harus diletakkannya di mana.
Di kamar, Sinta bertanya kepada Mita apakah ia tidak sopan karena kunjungan dihentikan. Mita menjawab bahwa menyatakan keberatan atas suatu pertanyaan tidak sama dengan menghina orang yang bertanya. Sinta boleh mengakui Ati berduka sekaligus menolak dijadikan penyebab semua kehilangan.
'Aku masih ingin bertemu Mama suatu hari,' katanya setelah lama diam. 'Tapi jangan sekarang.'
Mita menyampaikan pilihan itu kepada petugas dan Rangga, sesuai permintaan Sinta. Ia tidak menyusun kunjungan baru untuk membuktikan keluarga dapat segera akur. Tas pakaian disimpan oleh Sinta dengan bantuan petugas. Buku belanja yang dibawa Ati diletakkan dalam laci, belum dibuka.
Rangga kemudian meminta Mita menelepon semua anggota keluarga Ati agar persoalan itu jelas. Mita menggeleng. 'Aku datang menemani Sinta. Aku tidak sanggup menjadi penghubung seluruh orang yang sedang marah. Kamu dan Aldi bisa berbicara langsung.'
Rangga membuka daftar kontak dan meminta nomor yang diperlukan kepada Aldi melalui pesan. Ia tidak lagi menyerahkan telepon kepada istrinya. Mita pulang setelah mengetahui Sinta telah didampingi. Di dalam mobil, ia menyadari bahwa menjaga seseorang kadang memerlukan keberanian untuk menghentikan percakapan, sekaligus menolak pekerjaan baru yang kembali ditaruh di tangannya tanpa ditanya.