Seminggu setelah mulai dirawat, Sinta meminta bertemu Mita. Permintaan itu disampaikan petugas kepada Rangga pada pagi hari, lalu diteruskan tanpa tambahan bahwa Mita harus segera datang. Mereka mengatur waktu setelah butik tutup. Untuk kunjungan tersebut, Mita tidak membawa anak atau benda yang dipilihkan keluarga agar Sinta terlihat senang.
Sinta sudah makan sedikit ketika Mita masuk. Ia duduk dekat meja, memegang map tipis yang dibawa dari rumah. Di dalamnya ada salinan pemeriksaan awal kehamilan dan beberapa lembar yang diberikan setelah kehilangan itu. Ia belum membuka semua isinya. Sudut kertas yang paling atas tampak kusut karena terlalu sering dipegang.
'Aku ingin menyimpan yang ini,' katanya sambil menunjukkan catatan pemeriksaan pertama.
'Kamu boleh membicarakan tempat menyimpannya dengan petugas. Tidak perlu memutuskan semua isi map sekarang.'
'Bukan itu maksudku.' Sinta menatap wajah kakak iparnya. 'Aku ingin ada yang menunjukkan bahwa kali ini aku tidak berbohong.'
Mita diam. Ia baru memahami mengapa Sinta terus meminta map tersebut. Keluarga memang tidak menuduhnya mengarang kehamilan sekarang, tetapi ingatan pada perbuatannya dahulu telah berubah menjadi sesuatu yang membuatnya takut kehilangan hak untuk dipercaya.
'Aku ikut mengantarmu ke klinik. Kami tahu kamu mengandung,' kata Mita. 'Kamu tidak perlu memakai kertas ini untuk membuktikannya kepadaku.'
Sinta menunduk. Ia mengatakan bahwa ia masih mengingat cara Aldo menatapnya ketika kebohongan bertahun-tahun lalu terbongkar. Sesudah mereka rujuk, ada waktu yang panjang untuk memperbaiki hubungan. Namun, sejak kehilangan suami dan kehamilannya, kejadian lama itu muncul lagi ketika ia berusaha tidur.
'Apa sekarang aku merasakan apa yang dulu kubuat orang lain rasakan?'
Mita menarik kursi sedikit mendekat, menjaga map itu tetap di tangan Sinta. 'Kamu pernah menyakiti orang. Itu benar. Tapi aku tidak bisa menyebut kehilangan ini sebagai balasannya. Tidak ada orang di ruangan ini yang berhak menentukan begitu.'
'Dulu Mbak pernah bilang suatu hari aku akan merasakan hidup dengan keluarga suami yang jahat.'
Kalimat itu membuat Mita sulit menjawab cepat. Ia memang pernah berkata demikian ketika tak seorang pun mendengarkannya. Ia pernah berharap orang yang menghina dan memfitnahnya memahami rasa sakit yang ditinggalkan. Mengingkari ucapan tersebut hanya akan membuatnya memakai kebohongan untuk menenangkan Sinta.
'Aku pernah mengatakannya,' jawab Mita akhirnya. 'Aku sangat marah. Aku ingin kamu tahu rasanya tidak dipercaya. Tetapi ucapanku tidak membuatku berhak menjelaskan kematian Aldo atau kehilangan kehamilanmu sebagai hukuman.'
Sinta menyeka pipinya. Mita melanjutkan bahwa ia tidak akan mengatakan semua perbuatan dahulu menjadi tidak penting karena Sinta sedang menderita. Perbuatan itu dapat dibicarakan ketika mereka sanggup, dengan orang yang terkena akibatnya. Perawatan sekarang tidak perlu menunggu semua urusan lama selesai.
'Aku juga pernah menamparmu ketika mendengar kamu berbohong kepada tetangga,' kata Mita. 'Aku tidak membenarkan tamparan itu. Tapi mengakui kesalahanku juga tidak mengubah fitnah yang kamu lakukan menjadi benar.'
Sinta mengangguk. 'Kita dulu sudah minta maaf. Aku ingat. Aku tidak ingin tiap bertemu kamu harus mengulangnya lagi.'
'Aku juga. Yang ingin kulihat adalah bagaimana kita memperlakukan orang sekarang.'
Mereka berhenti ketika petugas datang memastikan keadaan Sinta. Mita tidak melanjutkan pembicaraan sampai Sinta sendiri berkata masih ingin duduk sebentar. Ia tidak memanfaatkan waktu kunjungan untuk memperoleh pengakuan sebanyak mungkin.
Sinta kemudian menanyakan apakah restoran masih buka. Ia ingat ada pembayaran pemasok yang harus diperiksa, tetapi tidak tahu apakah Dimas sudah mengambil alih. Mita hanya menyampaikan bagian yang benar-benar diketahuinya: layanan berjalan dan pembelian dicatat oleh Dimas bersama kepala dapur. Ia tidak menjanjikan semua urusan sudah selesai. Sinta meminta kakaknya membawa ringkasan sederhana ketika ia merasa lebih sanggup, bukan seluruh nota hari itu. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada pekerjaannya tanpa diminta segera kembali mengelola. Mita mencatat permintaan tersebut untuk diteruskan bersama pesan bagi Ati.
Di luar jendela terdengar suara roda kereta makanan. Sinta menatap map, lalu meletakkannya di meja. Untuk pertama kalinya sejak Mita masuk, tangannya tidak terus-menerus meremas kertas. Ia bertanya apakah semua orang mengetahui bahwa ia kehilangan kehamilannya.
'Orang yang membantu pendampingan sudah tahu bagian yang perlu mereka ketahui. Kami tidak mengirim catatan pemeriksaanmu ke grup keluarga,' jawab Mita.
'Mama Ati sudah tahu?'
'Kabar pokoknya sudah disampaikan kepada keluarganya. Tapi aku belum berbicara lama dengannya. Kamu ingin bertemu atau hanya memberi pesan?'
Sinta tidak langsung memilih. Ia masih mengingat tuduhan di pemakaman. Di sisi lain, Ati juga orang yang terakhir mendengar Aldo bercerita sebelum berangkat kerja pada hari itu. Ada bagian kehidupan suaminya yang ingin ia tanyakan, tanpa sanggup menghadapi tuduhan baru.
Mita tidak menjanjikan Ati pasti akan datang dengan sikap berbeda. Ia mengatakan mereka dapat menyampaikan permintaan Sinta, kemudian mengatur pertemuan bersama petugas apabila keadaan memungkinkan. Sinta boleh mengakhirinya bila pembicaraan membuatnya sangat kewalahan.
Setelah beberapa saat, Sinta meminta selembar kertas. Ia menulis bahwa ia ingin bertemu Ati sebentar, tetapi belum sanggup membicarakan penyebab kematian Aldo. Ia tidak menambahkan permintaan maaf karena jatuh sakit. Kertas itu dibacanya kembali sebelum diserahkan kepada Mita untuk diteruskan.
'Kalau Mama tidak mau, jangan bujuk dia,' ujarnya.
'Aku akan menyampaikan pesanmu. Selebihnya bukan keputusan yang bisa kuambil untuk kalian.'
Sebelum kunjungan berakhir, Sinta memilih meletakkan salinan pemeriksaan awal dalam sampul terpisah. Lembar lain tetap berada di map untuk dibahas sesuai kebutuhan perawatannya. Pilihan sederhana itu bukan bukti bahwa dukanya berakhir. Ia hanya berhenti memegang semua kertas seperti harus mempertahankan kebenaran hidupnya setiap menit.
Mita membawa pesan tersebut keluar. Rangga menunggu dan langsung bertanya apa yang diceritakan Sinta. Mita mengatakan bahwa ada permintaan untuk bertemu Ati yang perlu diteruskan. Ia tidak mengulang seluruh percakapan. Setelah menyerahkan urusan penjadwalan kepada Rangga bersama petugas, ia pulang sebelum Rival selesai makan malam. Sinta telah menceritakan sesuatu yang sulit, dan Mita ingin menjaganya sebagai kepercayaan, bukan kabar baru untuk dibahas sekeluarga.