Karung kentang yang datang pagi itu tidak sesuai pesanan. Beni membuka bagian atasnya dan menunjukkan beberapa umbi yang lembek kepada Dimas. Pemasok meminta mereka menerima dahulu, menjanjikan potongan pada pengiriman berikutnya. Di dapur, dua pekerja sudah menunggu bahan untuk persiapan makan siang.
'Kalau dipakai, makanan yang kita sajikan juga tidak baik,' kata Beni.
Dimas memeriksa nota, memotret kondisi barang untuk dikirim kepada pemasok, lalu menolak bagian yang tidak layak. Ia mencari pengganti dengan jumlah lebih sedikit dan meminta menu yang tidak dapat disiapkan diberi tahu sebelum pelanggan memesan. Keputusan itu mengurangi pilihan hari tersebut, tetapi tidak memaksa dapur menyembunyikan keadaan bahan.
Biasanya Sinta yang menangani percakapan semacam itu. Beni baru menyadari banyak keputusan kecil yang tidak tercatat sebagai pekerjaan ketika pengelolanya tidak ada. Ia bersedia membantu, tetapi tidak sanggup memeriksa dapur sekaligus menjawab semua pemasok dan mengatur pelayan.
'Saya takut ada yang terlewat, Mas. Bukan tidak mau membantu Mbak Sinta.'
'Aku tahu. Kita bagi pekerjaan yang benar-benar bisa dikerjakan, bukan menambahkan nama saja pada jadwalmu.'
Dimas meminta petugas kas menyiapkan daftar barang masuk setiap pagi. Ia sendiri akan menyetujui pembelian yang berbeda dari rencana. Untuk tambahan waktu Beni selama masa penggantian, ia mencatat biaya yang disepakati, bukan menganggap kesetiaan kepada keluarga pemilik cukup sebagai pembayaran.
Seorang pelanggan tetap masuk ketika mereka masih berdiri dekat meja kas. Perempuan itu menanyakan Sinta, lalu memesan ikan dengan saus terpisah seperti biasanya. Pelayan baru tidak mengetahui kebiasaan tersebut dan hampir mencatat satu porsi lengkap. Beni membetulkannya sebelum pesanan masuk dapur, kemudian meminta Dimas menambahkan ruang catatan khusus pada lembar pesanan.
'Mbak Sinta biasanya ingat. Kalau hanya disimpan di kepala satu orang, kami kewalahan ketika beliau tidak ada,' katanya.
Dimas melihat pelanggan itu duduk sendirian sambil membuka buku. Restoran tidak bertahan hanya karena nama pemilik terpasang di depan. Ada orang yang kembali karena pesanannya diingat dan keluhannya ditangani. Ia meminta pelayan mengulang pesanan sebelum menyerahkannya ke dapur, lalu memeriksa satu meja yang baru selesai digunakan. Beni tidak dapat meninggalkan kompor untuk mengurus semua bagian itu juga. Dimas menulis tugas yang perlu ditangani petugas layanan, agar tambahan tanggung jawab tidak terus mengalir kepada pekerja yang kebetulan paling sering berada di dekatnya.
Sesudah layanan siang dimulai, Dimas duduk dengan buku keuangan. Ia memisahkan penjualan, pembelian bahan, kewajiban usaha dan hasil yang dapat dibagikan. Bagian Sinta tidak dihapus hanya karena perempuan itu belum dapat datang. Namun, Dimas juga tidak ingin menggunakan angka yang tidak dipahami adiknya untuk menunjukkan bahwa dirinya sedang bermurah hati.
Ia membuat ringkasan dua halaman sesuai permintaan Sinta. Lembar pertama berisi uang masuk dan pengeluaran yang telah dibayar. Lembar kedua memuat keputusan sementara yang perlu dibicarakan setelah Sinta sanggup: siapa menangani pekerjaan, berapa lama penggantian berjalan, dan kapan mereka akan meninjau kembali. Bukan kontrak baru yang diam-diam harus diterima pasien.
Anisa menelepon ketika ia hendak berangkat ke rumah sakit. Aqila perlu dijemput karena kegiatan sekolah selesai lebih cepat. Dimas melihat jam dan menyadari ia tidak dapat berada di dua tempat pada waktu yang sama. Ia mengatur ulang kunjungannya, menjemput anaknya, lalu pulang untuk menyerahkan Aqila kepada Anisa sebelum berangkat lagi.
'Ayah selalu pergi karena Tante Sinta?' tanya Aqila di mobil.
'Ayah juga mengurus pekerjaan dan menjemput kamu. Tante sedang dirawat, jadi Ayah mengunjunginya. Tapi Ayah tidak boleh membuat kamu terus menunggu tanpa kabar.'
Aqila meminta ayahnya melihat bangunan balok yang dibuatnya nanti malam. Dimas menyanggupi untuk waktu setelah makan, kemudian menuliskannya di pengingat. Ia tidak ingin janji kepada anak menjadi bagian yang paling mudah dihapus ketika urusan lain terasa lebih mendesak.
Sinta menerima kunjungan Dimas sore itu. Ia melihat map yang dibawanya, lalu bertanya apakah restoran merugi karena dirinya. Dimas menjawab dengan menunjukkan ringkasan, bukan mengatakan semuanya baik agar ia berhenti bertanya. Ada hari yang lebih sepi, ada biaya penggantian pekerjaan, tetapi layanan tetap berjalan.
'Yang tiga puluh persen itu masih bagianku?' tanya Sinta.
'Pembagian yang kita sepakati tidak diubah diam-diam. Untuk hasil periode ini, bagianmu tetap dicatat. Kalau nanti perlu susunan kerja berbeda, kita bicara ketika kamu bisa menilainya.'
'Aku belum sanggup tanda tangan apa-apa.'
'Aku tidak membawa kertas untuk ditandatangani. Kamu minta tahu keadaan usaha. Ini jawabannya.'
Sinta membaca halaman pertama perlahan. Ia menemukan angka pembelian yang lebih besar daripada biasanya dan langsung menanyakan kentang. Dimas menjelaskan kejadian pagi tadi. Sinta mengangguk, mengatakan Beni pernah mengeluhkan kiriman dari pemasok yang sama. Ia tidak diminta menelepon orang itu dari ruang perawatan.
'Catatan lama ada di laci kantor restoran. Bukan di tas ini,' ujarnya.
Dimas menuliskan tempatnya dan mengatakan akan memeriksa. Mereka berhenti setelah satu halaman karena Sinta mulai kesulitan mengikuti angka. Lembar kedua boleh menunggu. Dimas menawarkan menyimpan map kembali, tetapi Sinta ingin salinannya tetap ada agar ia dapat melihatnya pada waktu yang sesuai.
Sebelum pulang, ia menanyakan apakah ada pembayaran pribadi yang perlu dibantu. Sinta menyebut satu tagihan telepon dan mengatakan ia ingin membayarnya dari rekeningnya sendiri. Dimas membantu mencatat tanggal, lalu menyerahkan urusan penggunaan telepon kepada Sinta bersama petugas. Ia tidak mengambil kata sandi atau menganggap sakit membuat adiknya kehilangan hak atas semua uangnya.
Dalam perjalanan pulang, Dimas mendapat pesan Beni bahwa persediaan pengganti cukup sampai layanan malam dan pemasok telah mengakui kesalahan kiriman. Dimas meminta bukti pengembalian disimpan. Tindakan Sinta dahulu memeriksa hal-hal kecil ternyata meninggalkan pekerjaan yang dapat dilanjutkan orang lain jika catatannya dijaga.
Di rumah, Aqila sudah menunggu di dekat bangunan balok. Dimas mencuci tangan dan duduk di lantai. Anisa memandangnya dari sofa sambil menyusui Daniel. Untuk malam itu, restoran mempunyai orang yang bertanggung jawab dan Sinta mengetahui bagiannya tetap dicatat. Dimas tidak perlu membuktikan kepedulian dengan terus meninggalkan rumahnya sendiri. Ia mendengarkan cerita Aqila sampai anak itu selesai, sebelum membuka pesan kerja yang tidak mendesak.