Suasana pemakaman Aldo sore itu begitu memilukan. Sinta duduk dekat gundukan tanah merah, memegangi saputangan yang sejak pagi tidak lepas dari tangannya. Pria yang beberapa hari lalu masih menaruh air di samping tempat tidurnya kini tidak akan pulang. Ia memandang nama pada penanda makam, kemudian melihat jalan masuk seolah ada orang yang belum datang.
Mita berjongkok di sampingnya. Mereka telah meminta penjelasan tenaga kesehatan sebelum Sinta meninggalkan rumah sakit. Setelah pemeriksaan, Sinta diperbolehkan pulang dengan pendamping dan jadwal pemeriksaan berikutnya. Keputusan menghadiri pemakaman datang dari Sinta sendiri. Ia tidak ingin ditahan di kamar sementara suaminya diantar untuk terakhir kali.
'Kamu yang kuat, Dek. Ada calon anakmu yang juga perlu kita jaga,' ujar Mita, lalu berhenti ketika melihat Sinta menegang. 'Maaf. Kamu tidak harus menahan tangis. Aku hanya ingin memastikan kamu tidak sendirian.'
Sinta menutup wajah. 'Kemarin dia bilang sebentar lagi datang, Mbak.'
'Aku tahu.'
'Aku menunggu di rumah sakit. Seharusnya aku menunggu dia di rumah saja.'
Mita tidak membenarkan kesimpulan itu. Ia mengatakan bahwa Sinta membutuhkan pertolongan ketika tidak sehat. Mereka tidak mengetahui apa yang akan terjadi di jalan setelah Aldo menerima kabar. Sinta boleh merindukan suaminya tanpa mengambil tanggung jawab atas setiap hal yang terjadi sebelum kematiannya.
Para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Rangga menyalami beberapa orang, sementara Dimas menunggu tidak jauh dari mereka. Rival dan Aqila berada bersama Anisa di rumah. Sebelum berangkat, Mita menjelaskan kepada Rival bahwa pamannya meninggal dan keluarga akan sangat sedih. Ia tidak meminta anak itu menjaga Sinta agar tantenya berhenti menangis.
Ati mendekat setelah dibantu Aldi berdiri. Kakak Aldo itu baru tiba pagi tadi dan hampir tidak melepaskan ibunya dari pandangan. Ayah Aldo berjalan di belakang, membawa botol minum yang belum tersentuh. Wajah mereka menunjukkan kelelahan yang sama, tetapi duka tidak membuat semua orang mengucapkan hal yang serupa.
'Kalian yang menyebabkan anakku meninggal,' kata Ati tiba-tiba.
Mita mendongak. Sinta menurunkan saputangannya.
'Dia terburu-buru pergi karena mengkhawatirkan Sinta. Kalau kalian tidak menelepon, mungkin dia masih ada.'
Aldi menyentuh bahu ibunya. 'Ma, kita belum tahu semua kejadiannya.'
'Aku tahu anakku pergi mau menemui istrinya. Sekarang lihat, siapa yang dikuburkan?'
Sinta seperti kehilangan suara. Ia mencoba berdiri, tetapi lututnya tidak cukup kuat. Mita dan Dimas membantunya duduk kembali. Tidak ada yang mengajak berdebat di depan makam, tetapi Mita juga tidak dapat membiarkan tuduhan itu menjadi satu-satunya kalimat yang dibawa pulang Sinta.
'Tante kehilangan Aldo. Kami juga berduka,' ujarnya pelan. 'Sinta tadi membutuhkan pertolongan. Mengabari suaminya bukan berarti kami menginginkan kecelakaan. Saya tidak akan mengatakan Sinta yang membunuh Aldo.'
'Kamu tidak tahu rasanya kehilangan anak.'
'Saya tidak akan mengaku tahu. Tapi saya tahu bagaimana rasanya disalahkan untuk perbuatan yang tidak saya lakukan.'
Rangga tiba di dekat mereka dan mendengar kalimat terakhir itu. Ia memandang Mita, lalu Sinta yang kembali menangis. Sesaat ia tampak ingin membalas Ati dengan suara keras. Namun, Aldi lebih dahulu meminta agar ibunya pulang bersamanya. Ayah Aldo menambahkan bahwa pembicaraan berikutnya harus dilakukan setelah mereka mendapat penjelasan yang lebih lengkap.
Ati belum meminta maaf. Ia hanya membuang pandangan ketika Aldi merangkulnya. Sebelum pergi, kakak Aldo itu menatap Sinta dan berkata ia akan menghubungi keluarga lagi. Ia tidak meminta Sinta menyebut ibunya benar agar suasana tenang.
Setelah mereka menjauh, Sinta berbisik bahwa mungkin Ati memang benar. Mita menjawab bahwa sekarang bukan saat mengambil keputusan tentang kesalahan seseorang. Sinta membutuhkan makan, istirahat, dan pendampingan, bukan sidang yang disusun dari rasa kehilangan.
Rina datang mendekat bersama Romi, suaminya. Mereka menghadiri pemakaman sebagai keluarga dekat Anisa, bukan untuk mengambil alih pemeriksaan yang sedang berjalan. Romi menawarkan mengantar Rusman mengambil beberapa keperluan yang tertinggal, sementara Rina menanyakan apakah Anisa masih membutuhkan bantuan di rumah. Dimas menerima tawaran menjaga anak-anak sebentar. Daniel belum terbiasa ditinggal lama, dan Aqila beberapa kali bertanya mengapa semua orang pergi bersamaan. Ada kebutuhan kecil yang tetap harus diurus, meskipun hari itu terasa berhenti bagi Sinta.
Lina mengusap punggung anaknya dengan tangan yang masih mudah lelah. Ia hendak mengatakan bahwa keluarga sudah mendapat cukup cobaan, lalu mengurungkannya. Melihat Sinta sedemikian lemah membuatnya takut pada kata-katanya sendiri. Dulu ia dapat menyebut penderitaan Mita sebagai keluhan perempuan manja. Hari itu ia tidak sanggup mendengar orang lain berbicara begitu kepada anaknya.
Rusman mengajak mereka pulang sebelum Sinta semakin kelelahan. Dimas membantu mengantarkan ibunya ke kendaraan. Mita menunggu sampai Sinta bersedia berdiri. Mereka meninggalkan makam perlahan, tanpa meminta Sinta mengucapkan kalimat perpisahan yang belum sanggup disusunnya.
Di mobil, Sinta meminta diantar ke rumah ibunya dahulu. Ia belum sanggup memasuki kamar yang ditempatinya bersama Aldo. Mita menghubungi Anisa agar ia tahu perubahan tujuan. Tidak ada yang mengambil barang dari rumah Ati tanpa izin; untuk malam itu, beberapa pakaian dapat dipinjamkan.
Makanan sederhana sudah disiapkan ketika mereka tiba. Sinta hanya sanggup minum beberapa teguk. Ketika Lina mulai membujuk dengan nada mendesak, Dimas mengingatkan agar mereka mengikuti arahan yang diberikan rumah sakit dan meminta bantuan bila keadaan Sinta memburuk. Rasa takut tidak membuat mereka lebih mampu menangani semuanya sendiri.
Malam datang bersama suara orang yang masih menyampaikan belasungkawa. Rangga menjawab beberapa pesan, kemudian mematikan suara telepon di ruang tempat Sinta beristirahat. Mita pamit untuk menjemput Rival dan pulang ke rumahnya sendiri. Sebelum pergi, ia duduk sebentar di dekat pintu kamar.
'Besok aku datang lagi. Sekarang Mas Dimas dan Bapak ada di sini,' katanya.
Sinta menatap kosong ke arah lemari. 'Kalau aku tidur, bagaimana kalau Mas Aldo datang?'
Mita merasakan tenggorokannya mengencang. Ia tidak mengatakan Aldo akan muncul untuk membuat Sinta tenang. Ia hanya menjelaskan bahwa mereka semua berada di dekatnya dan akan membantu melewati malam itu. Sinta menarik selimut, memeluknya erat, lalu kembali memanggil nama suaminya dalam suara yang nyaris tidak terdengar.