'Makanlah, Nak. Sejak tadi kamu belum menyentuh apa pun,' pinta Lina di depan kamar Sinta.
Tidak ada sahutan. Ia mengetuk lagi, kemudian menempelkan telinga ke pintu. Dari dalam hanya terdengar isak tertahan. Pada hari ketiga setelah pemakaman, Lina mulai takut setiap kali rumah menjadi terlalu sunyi. Ia ingin membuka pintu, tetapi takut tindakannya membuat Sinta semakin menolak semua orang.
Rusman membawa kursi agar istrinya tidak terus berdiri dengan tongkat. Ia duduk di samping Lina dan memanggil Sinta dengan suara yang lebih rendah. Sinta menjawab bahwa ia ingin sendiri. Jawaban itu membuat mereka sedikit lega karena setidaknya mereka tahu ia mendengar.
'Bapak ingin memastikan kamu bisa minum. Boleh Bapak masuk sebentar?'
Setelah menunggu, mereka mendengar kunci diputar. Rusman membuka pintu perlahan. Makanan semalam masih di meja, hampir tidak berkurang. Sinta duduk di tepi tempat tidur dengan pakaian yang sama. Matanya bengkak dan rambutnya kusut. Ia tidak memandang ayahnya ketika Rusman mengambil gelas kosong.
'Aku tidak lapar, Pak.'
'Baik. Tapi keadaanmu perlu diperiksa kalau minum pun sulit. Bapak akan menghubungi tempat kamu dirawat kemarin.'
Sinta menoleh tajam. 'Aku tidak mau ke rumah sakit lagi. Mas Aldo tidak sampai ke sana.'
Rusman berhenti. Ia tidak memaksa dengan mengatakan Sinta harus segera melupakan kejadian itu. Ia keluar setelah memastikan anaknya tidak membutuhkan bantuan mendesak, kemudian menelepon Dimas. Mereka perlu mencari cara agar Sinta mendapat pertolongan tanpa menjadikan ketakutannya alasan untuk terus menunda.
Rangga datang dari kantor menjelang siang. Mendengar cerita Lina, ia langsung berjalan ke kamar dan mengetuk lebih keras daripada yang dimaksudkannya. Sinta tidak menjawab. Lina menyentuh lengannya, meminta ia tidak membentak.
'Aku hanya ingin dia makan, Bu.'
'Ibu juga ingin. Tapi dia makin diam kalau kita terlalu banyak bicara.'
Rangga memandang pintu. Ia ingat bagaimana dahulu ia menganggap tangisan Mita sebagai gangguan yang membuatnya tidak betah di rumah. Ia pernah pergi begitu saja ketika istrinya meminta tolong. Sekarang ia berdiri di sisi lain, tidak mampu menyuruh kehilangan Sinta berhenti dengan satu kalimat.
Mita datang setelah menyerahkan urusan butik kepada Wanda. Ia tidak membawa Rival karena anak itu sedang bersekolah. Di ruang tengah, ia mendengar Rangga menyarankan agar mereka mengumpulkan semua anggota keluarga dan menasihati Sinta bersama-sama.
'Dia baru kehilangan suami. Banyak orang mengelilingi kamar belum tentu membuatnya merasa tertolong,' ujar Mita. 'Sudah dapat jawaban dari rumah sakit?'
Rusman menunjukkan catatan yang dibuatnya ketika menelepon. Mereka diminta membawa Sinta untuk penilaian lebih lanjut karena kesulitan makan, minum, dan tidur perlu ditangani. Jika keadaan mendadak memburuk, mereka tidak boleh menunggu jadwal. Keterangan itu membuat Mita meminta agar keluarga membagi tugas sebelum berbicara lagi dengan Sinta.
Dimas menghubungi tempat pemeriksaan, Rusman menyiapkan kendaraan, dan Rangga akan menemani tanpa mengambil alih seluruh percakapan. Lina diminta beristirahat. Tidak perlu semua orang ikut dan meninggalkan anak-anak maupun pekerjaan tanpa pengaturan.
Telepon Dimas berbunyi ketika ia sedang mencatat jadwal. Beni, kepala dapur restoran yang dikelola Sinta, menanyakan siapa yang boleh menyetujui pembelian selama pengelolanya beristirahat. Dimas meminta nota dikirim kepadanya dan membatasi pembelian pada kebutuhan layanan yang sudah direncanakan. Ia tidak menghapus nama Sinta dari pembukuan. Ketika nanti adiknya sanggup melihat laporan, ia harus tetap menemukan catatan yang dapat dipahami, bukan tumpukan keputusan yang diambil atas namanya tanpa jejak.
Mita mengetuk pintu kamar, memperkenalkan suaranya, lalu menunggu. Sinta memintanya masuk. Di dalam, ia melihat sandal Aldo yang dibawa seseorang bersama tas pakaian. Benda itu diletakkan tepat di dekat pintu, seolah pemiliknya dapat pulang dan memakainya lagi.
'Aku dengar kamu takut kembali diperiksa,' kata Mita setelah duduk.
Sinta mengangguk. 'Di sana aku menunggu, lalu kalian datang bilang dia meninggal.'
'Kita akan memberi tahu petugas tentang ketakutan itu. Kamu boleh mengatakan bagian yang belum sanggup kamu ceritakan. Tapi kami tidak tahu bagaimana membantumu kalau keadaan badanmu tidak diperiksa juga.'
Sinta mengusap pipinya. 'Apa aku harus berhenti menangis dulu?'
'Tidak. Kamu tidak perlu terlihat baik untuk mendapat pertolongan.'
Percakapan itu tidak langsung mengubah keadaan. Sinta beberapa kali menolak, kemudian meminta waktu untuk mengganti pakaian. Mita keluar dan menunggu sampai ia memanggil. Ketika akhirnya Sinta berjalan ke ruang tengah, Rangga tidak menyambutnya dengan ceramah. Ia hanya membantu membawa tas yang dipilih adiknya.
Pemeriksaan berlangsung sore itu. Tenaga kesehatan menilai kondisi fisik Sinta dan menanyakan keluhan yang dirasakannya. Keluarga kemudian mendapat penjelasan mengenai pendampingan lanjutan, termasuk bantuan untuk menghadapi duka yang sangat mengganggu kesehariannya. Mereka diberi kesempatan bertanya, bukan sekadar membawa pulang nasihat agar Sinta kuat.
Dalam perjalanan kembali, Sinta meminta mereka tidak memberi tahu semua kerabat tentang percakapannya. Rusman menyanggupi. Ia hanya akan menyampaikan informasi yang diperlukan kepada orang yang membantu merawat. Rangga bertanya apakah Sinta ingin makan sedikit sebelum pulang. Sinta memilih bubur yang dapat dibawa ke rumah.
Malam itu ia menghabiskan beberapa sendok. Lina menangis lega, tetapi tidak memuji seolah satu mangkuk dapat menyelesaikan seluruh dukanya. Sinta kemudian meminta sandal Aldo tetap berada di tempatnya. Keluarga tidak menggunakannya untuk menguji apakah ia telah menerima kematian suaminya.
Mita pamit setelah memastikan siapa yang berada di rumah malam itu. Rangga menanyakan apakah ia akan tinggal lebih lama. Mita menjawab bahwa Rival menunggunya dan ia perlu bekerja esok pagi. Untuk sesaat wajah Rangga tampak tidak puas. Namun, sebelum ia mengatakan sesuatu, Rusman menyela bahwa mereka masih mempunyai orang dewasa yang dapat berbagi giliran.
Di kamar, Sinta mendengar pintu depan ditutup. Ia memeluk tas berisi pakaian yang belum dirapikan dan menangis lagi. Kali ini, di meja dekatnya ada nomor yang dapat dihubungi keluarga dan jadwal yang tidak disusun hanya dari dugaan. Itu belum membuat malam menjadi ringan, tetapi mereka telah berhenti memperlakukan penderitaannya sebagai sesuatu yang harus disembunyikan di balik pintu.