Tiga hari setelah pemeriksaan itu, keluarga berkumpul di rumah Dimas untuk makan siang. Sinta datang lebih awal. Ia membawa catatan persediaan restoran, tetapi belum sempat membukanya karena rasa mual kembali muncul. Anisa mempersilakannya beristirahat di kamar tamu, sedangkan Dimas menyimpan map tersebut agar tidak terkena makanan.
Aldo akan menyusul setelah urusan kerjanya selesai. Ia sudah memberi tahu Sinta bahwa kemungkinan terlambat. Sinta membalas bahwa ia akan tidur sebentar, lalu meletakkan telepon di meja samping tempat tidur.
Menjelang siang, Mita tiba bersama Rangga dan Rival. Rusman mengantar Lina tidak lama kemudian. Aqila membawa Rival melihat mainannya, sementara Daniel tertidur dalam gendongan Dimas. Mereka berbicara tentang makanan yang mulai dingin dan apakah Sinta perlu dibangunkan.
Anisa semula mengira adik iparnya sedang menikmati istirahat. Namun, ketika ia melihat gelas air yang masih penuh di depan kamar, perasaannya berubah. Ia tidak mendengar suara apa pun sejak kembali dari dapur.
'Mas, kok Sinta belum bangun? Tadi dia bilang mau makan sedikit sebelum minum yang diberikan dokter.'
'Biar aku tengok,' kata Mita.
Ia mengetuk pintu dua kali, memanggil nama Sinta, kemudian membuka perlahan karena tidak mendapat jawaban. Sinta berbaring miring dengan wajah jauh lebih pucat daripada ketika Mita melihatnya tiga hari sebelumnya. Keningnya basah. Ketika dipanggil dari dekat, ia hanya mengerang lemah.
'Astagfirullah. Anisa, tolong kemari.'
Anisa datang, menanyakan apa yang terjadi dan mencoba mengajak Sinta merespons. Mereka tidak menghabiskan waktu membahas apakah itu pingsan sungguhan. Dimas menghubungi layanan pertolongan medis, menjelaskan keadaan yang dilihatnya, lalu mengikuti arahan petugas sambil menunggu bantuan.
Rangga mengajak Rival dan Aqila menjauh dari pintu kamar. Ia mengatakan bahwa Tante Sinta sedang tidak sehat dan ada orang yang akan membantu. Dimas menyerahkan Daniel kepada Anisa sebelum petugas datang. Rumah yang tadi ramai menjadi sibuk dengan tugas yang berbeda-beda.
Lina hendak masuk untuk melihat, tetapi Rusman menahan lengannya agar tidak berdesakan. 'Beri mereka tempat dulu. Kita tunggu kabar di ruang depan.'
Mita menemukan catatan klinik dalam tas Sinta dan menyerahkannya kepada petugas setelah Sinta cukup sadar untuk mengizinkan. Ia lalu menelepon Aldo. Panggilan pertama tidak terjawab. Pada panggilan kedua, lelaki itu mengatakan baru keluar dari tempat urusannya.
'Sinta sedang dibawa untuk diperiksa, Do. Tadi lemas sekali. Kami ikut mendampingi,' ujar Mita.
'Ke rumah sakit mana, Mbak?'
Mita menyebut nama dan alamatnya. Ia menegaskan bahwa Sinta tidak sendirian, lalu meminta Aldo datang dengan tenang. Aldo mengatakan akan menyusul. Sambungan ditutup sebelum ia melanjutkan perjalanan.
Di rumah sakit, petugas menangani Sinta dan memeriksa kondisinya. Mita menunggu di luar bersama Dimas. Ia mengirim pesan kepada Aldo bahwa mereka telah sampai, berikut tempat menunggu agar ia tidak kebingungan mencari. Pesan itu terkirim, tetapi belum dibalas.
Anisa mengabari bahwa anak-anak sudah makan dan Lina berada bersama Rusman. Tidak ada yang perlu meninggalkan mereka tanpa pendamping. Dimas menghela napas, lalu menerima telepon dari restoran. Ia meminta kepala dapur melanjutkan layanan dan menghubunginya hanya bila ada persoalan yang tidak dapat diputuskan di tempat.
Dokter kemudian menjelaskan bahwa Sinta mulai lebih baik setelah mendapat penanganan. Pemeriksaan masih dilanjutkan, termasuk pemantauan kehamilannya. Saat Mita diperbolehkan masuk, Sinta langsung menanyakan Aldo.
'Sudah dikabari. Dia sedang menyusul,' jawab Mita.
Sinta memejamkan mata. Ia tampak lega mendengar bahwa suaminya tahu. Mita merapikan tas di kursi, lalu keluar ketika petugas meminta ruang untuk pemeriksaan berikutnya.
Waktu bergerak lebih lama daripada perkiraan mereka. Dimas mencoba menelepon Aldo, tetapi tidak tersambung. Ia mengira Aldo sedang berkendara dan menyimpan teleponnya. Mita tidak mengirim pesan berkali-kali. Ia hanya memastikan alamat yang tadi diberikan sudah benar.
Sekitar satu jam kemudian, nomor yang tidak dikenal menelepon telepon Sinta. Mita menunjukkannya kepada petugas yang sedang mendampingi Sinta, lalu menjawab dengan izin adik iparnya. Seorang laki-laki meminta berbicara dengan keluarga Aldo.
Suara di seberang tidak segera memberikan penjelasan panjang. Ia menanyakan hubungan Mita dengan Aldo, kemudian menyampaikan bahwa telah terjadi kecelakaan dan Aldo dibawa ke rumah sakit lain. Ia meminta seorang anggota keluarga datang untuk memastikan identitas.
Dimas berdiri begitu melihat wajah Mita berubah. Mita mengulang nama rumah sakit dan menuliskannya, takut satu suku kata keliru. Setelah sambungan ditutup, mereka menghubungi Rangga. Dimas akan pergi bersama Rangga, sedangkan Mita tetap mendampingi Sinta.
'Jangan menyimpulkan dulu,' kata Dimas, lebih kepada dirinya sendiri.
Mita mengangguk. Ia belum tahu bagian perjalanan mana yang terputus, kendaraan apa yang terlibat, atau bagaimana keadaan Aldo. Ketidaktahuan itu membuat menunggu terasa hampir tidak tertahankan, tetapi ia tidak ingin mengisi ruang kosong dengan dugaan.
Kabar berikutnya datang melalui Rangga. Ia tidak menyampaikannya lewat pesan kepada Sinta. Dengan suara patah, ia meminta Mita memberi tahu petugas bahwa keluarga membutuhkan bantuan untuk menyampaikan kabar duka.
Aldo tidak terselamatkan.
Mita duduk sebelum lututnya kehilangan kekuatan. Ia memegang telepon dengan kedua tangan, berusaha memahami kalimat yang baru didengar. Pagi tadi Aldo masih membalas pesan istrinya. Sekarang Rangga menanyakan siapa yang akan menemani Ati menerima kabar tentang anaknya.
Rusman bersedia menjemput Ati, sementara Anisa tetap menjaga anak-anak dan Lina. Mita mencatat pembagian itu karena pikirannya sulit menahan banyak hal sekaligus. Ia meminta Rangga tidak menceritakan dugaan penyebab kecelakaan kepada siapa pun. Mereka belum mendapat penjelasan lengkap, dan sebuah keluarga akan menerima kehilangan yang terlalu besar untuk ditambah kabar yang belum pasti.
Petugas di dekat Mita menanyakan apakah ia sanggup mendampingi Sinta. Mita mengangguk, lalu meminta beberapa saat untuk menenangkan napas. Ia tidak perlu menjadi orang yang paling kuat di ruangan tersebut, tetapi ia ingin dapat menyampaikan kebenaran dengan jelas.
Di dalam ruang pemeriksaan, Sinta menoleh ketika Mita kembali bersama petugas. Ia memandang pintu di belakang mereka, mencari orang yang belum juga muncul. 'Mas Aldo sudah datang?'
Mita menarik kursi ke samping ranjang. Ia menyebut nama Sinta, lalu menunggu adik iparnya menatapnya. Tidak ada cara yang membuat kabar itu menjadi ringan. Mereka hanya dapat memastikan Sinta tidak mendengarnya sendirian.