'Sinta di mana, Dek? Sudah enakan atau belum? Mas bawakan alat pengecek kehamilannya ini,' ujar Dimas sambil mendorong kantong biru ke tengah meja.
'Di kamar tamu. Tadi aku menemaninya, sekarang dia ingin berbaring,' jawab Anisa. 'Jangan bangunkan hanya karena kita ingin cepat tahu. Setelah dia bangun, biar dia memutuskan mau mencoba atau tidak.'
Dimas mengangguk. Ia masuk ke dapur untuk mengambil air minum, sementara Mita mendengarkan cerita Anisa. Sinta sudah beberapa hari merasa mual, tetapi mengira terlambat makan karena sibuk di restoran. Pagi tadi ia berusaha memeriksa stok, kemudian meminta kepala dapur menggantikannya ketika bau masakan membuatnya hampir muntah.
Mita teringat masa ketika keluhannya sendiri selalu dianggap kemalasan. 'Apa dia sudah menelepon Aldo lagi?'
'Sudah. Aldo sedang menyelesaikan berkas yang harus diserahkan hari ini. Setelah itu menjemputnya. Aku bilang jangan buru-buru, karena Sinta ada bersama kita.'
Aqila datang membawa boneka kecil dan bertanya apakah Tante Sinta sakit seperti Daniel ketika harus dibawa ke dokter. Anisa menjelaskan bahwa mereka belum tahu penyebabnya dan sedang menunggu Sinta merasa cukup kuat untuk berbicara. Ia kemudian meminta Dimas menemani Aqila makan. Anak itu tidak perlu berjaga di depan kamar orang dewasa.
Sekitar setengah jam kemudian, pintu kamar terbuka. Sinta berdiri dengan wajah pucat, meminta air hangat. Mita mempersilakannya duduk dan mengambil gelas. Anisa menunjukkan kantong yang dibawa Dimas tanpa langsung menyerahkannya ke tangan Sinta.
'Mas Dimas ingat kamu bilang terlambat. Kamu ingin mencoba sekarang?'
Sinta melihat kotaknya cukup lama. 'Aku takut.'
'Takut hasilnya?' tanya Mita.
'Takut kalian mengira aku mengarang lagi.'
Tidak ada yang menjawab dengan tertawa. Dimas meletakkan sendok Aqila, lalu berkata bahwa mereka membeli alat itu untuk mengetahui keadaan sekarang. Kebohongan lama sudah diakui Sinta bertahun-tahun sebelumnya. Membicarakannya kembali tidak boleh membuat keluarga menolak memeriksa keluhan yang nyata.
'Kalau hasilnya tidak seperti yang kamu harapkan, kita juga tetap cari tahu kenapa kamu mual,' tambah Anisa. 'Aku sudah lama tidak bekerja. Kita perlu pemeriksaan klinik, bukan menebak dari ingatanku saja.'
Sinta akhirnya mengambil kotak tersebut. Anisa menjelaskan petunjuk pada kemasan, kemudian membiarkannya masuk kamar mandi sendiri. Mita menunggu di ruang tengah. Ia tidak merasa berhak berdiri di depan pintu untuk memastikan Sinta melakukan segala sesuatu dengan benar.
Ketika Sinta keluar, tangannya sedikit gemetar. Ia meminta Anisa melihat bersamanya. Dua garis tampak pada alat itu setelah mereka menunggu sesuai petunjuk. Sinta menatapnya, lalu menangis tanpa mengeluarkan suara.
'Jadi aku hamil?'
'Hasil ini perlu diperiksa lebih lanjut,' jawab Anisa lembut. 'Kita bisa menghubungi klinik dan minta jadwal. Kamu ingin Aldo tahu sekarang?'
Sinta mengangguk. Ia menelepon suaminya dengan pengeras suara dimatikan. Mita membawa Aqila ke meja makan agar percakapan itu tetap menjadi milik pasangan tersebut. Dari tempatnya duduk, ia hanya mendengar Sinta mengatakan bahwa ia ingin ditemani memeriksakan diri.
Aldo datang menjelang sore. Sebelum masuk, ia menelepon Sinta karena tidak ingin membunyikan klakson dan membangunkan Daniel. Sinta berjalan sampai ruang depan dengan bantuan Mita. Begitu melihat suaminya, ia mengulurkan alat tes yang tadi disimpan di dalam wadah.
'Kali ini sungguhan, Mas,' katanya lirih.
Aldo tidak menanggapi kalimat itu dengan mengungkit kesalahan. Ia memeluk Sinta sebentar, kemudian bertanya klinik mana yang dapat menerima mereka. Dimas sudah mendapat informasi dari tempat yang biasa digunakan keluarganya. Masih ada jadwal sore, dan Sinta menyetujui untuk pergi.
Anisa tetap di rumah bersama anak-anak. Mita menemani Sinta dan Aldo karena Sinta memintanya ikut. Dalam perjalanan, Aldo memilih jalan yang lebih sepi meskipun sedikit memutar. Sinta beberapa kali memejamkan mata, lalu membuka kembali ketika rasa mual berkurang.
Pemeriksaan berlangsung tanpa keributan. Setelah menanyakan riwayat dan melakukan pemeriksaan yang diperlukan, dokter menjelaskan bahwa kehamilan Sinta masih dini, sekitar enam minggu. Mereka perlu mengikuti jadwal pemeriksaan berikutnya dan menyampaikan keluhan yang memburuk. Dokter tidak menjanjikan bahwa setiap kehamilan pasti berjalan sama.
Aldo mencatat tanggal kontrol. Sinta bertanya beberapa hal yang membuatnya cemas, termasuk bagaimana menyesuaikan pekerjaan. Ia tidak menyembunyikan bahwa kadang ia lupa makan ketika layanan restoran sedang sibuk. Mereka membicarakan perubahan yang dapat dilakukan, kemudian pulang membawa catatan pemeriksaan.
Di dalam mobil, Sinta memegang tangan Aldo. 'Aku ingin memberi tahu Mama sendiri.'
'Kita pulang ke rumah Mama sekarang. Tidak perlu mengabari semua orang malam ini,' jawab Aldo.
Mita meminta diturunkan di rumah Dimas untuk mengambil kendaraannya. Ia mengucapkan selamat tanpa menambahkan bahwa kehamilan itu membuktikan Sinta akhirnya menjadi perempuan yang baik. Anak bukan hadiah untuk pertobatan, seperti kehilangan juga tidak dapat dipakai untuk menilai kadar kesalahan seseorang.
Sebelum berpisah, Sinta meminta agar kabar itu belum dimasukkan ke grup keluarga besar. Ia ingin memberi tahu Lina dan Rusman setelah berbicara dengan Ati. Dimas dan Anisa menerima permintaan tersebut. Aqila hanya diberi tahu bahwa tantenya sudah diperiksa dan akan beristirahat.
Ati menunggu di ruang tengah ketika mereka pulang. Ia melihat catatan yang disodorkan Sinta, kemudian duduk karena mendadak merasa perlu memastikan apa yang dibacanya. Aldo menjelaskan hasil pemeriksaan tanpa menjadikan ibunya orang pertama yang harus memberi keputusan.
'Mama senang,' ujar Ati akhirnya. 'Tapi kalau kamu sedang mual, bilang. Jangan memaksakan diri hanya karena pekerjaan belum selesai.'
Sinta mengangguk. Ia mengingat hari-hari pertama perkawinan mereka, ketika pekerjaan rumah dipakai untuk mengujinya dan ia membalas dengan kebohongan. Kini ia dapat menerima tawaran makan dari Ati tanpa merasa harus memenangkan perdebatan. Enam tahun tidak memperbaiki semuanya dengan sendirinya; ada percakapan sulit dan tindakan yang harus diulang sebelum mereka dapat duduk setenang itu.
'Besok aku akan mengatur jadwal dengan Mas Dimas,' katanya. 'Aku masih ingin bekerja, hanya perlu lebih tertib makan dan beristirahat.'
Malam itu, Sinta menyimpan catatan klinik di laci kamarnya, terpisah dari pembukuan restoran. Aldo menaruh segelas air di meja dan menawarkan mengambilkan makan sedikit. Mereka belum memilih nama atau merencanakan kamar bayi. Untuk malam tersebut, cukup mengetahui bahwa penantian mereka mempunyai awal yang nyata.