'Hei, Mita! Tunggu sebentar. Itu bukannya Wanda? Beraninya kamu mempekerjakan dia di butikmu.'
Nur Laila tidak berusaha mengecilkan suaranya. Seorang pembeli yang hendak masuk menoleh. Mita segera meminta Rival masuk ke ruang belakang, tempat buku dan bekalnya biasa diletakkan. Setelah anak itu pergi, ia mendekati pemilik toko sebelah.
'Kalau ada urusan dengan saya, kita bicara pelan. Pelanggan sedang datang.'
'Aku cuma mau mengingatkan. Dia itu dulu merebut suami orang di kampungku.'
Mita memandang Wanda melalui kaca. Pegawainya sedang menjelaskan pilihan ukuran kepada seorang pembeli. Tangannya tetap bekerja, tetapi wajahnya menegang. Jarak mereka cukup dekat untuk membuat ucapan Nur terdengar sampai ke dalam.
'Wanda bekerja dengan saya selama tiga tahun. Kinerjanya baik,' kata Mita. 'Kalau kamu sedang membicarakan kejadian di tempat lain, jelaskan apa yang kamu ketahui sendiri.'
'Semua orang juga tahu. Setelah ketahuan jadi selingkuhan, dia langsung menghilang. Sekarang ternyata di sini.'
'Kamu melihat hubungan mereka? Atau mendengar dari tetangga?'
Nur tampak tersinggung. 'Jadi aku yang dituduh mengarang?'
'Saya sedang bertanya. Kamu menyebut nama orang di depan tempat kerjanya. Saya perlu tahu sebelum menyimpulkan.'
Nur melipat tangan. Ia mengaku pernah melihat Wanda datang ke rumah lelaki itu, kemudian mendengar pertengkaran pasangan tersebut. Selebihnya ia mengetahui cerita dari istrinya yang berjualan tidak jauh dari rumah Nur. Ia tidak pernah bertanya langsung kepada Wanda.
Mita tidak mengatakan bahwa semua itu pasti bohong. Ia juga tidak mempunyai alasan untuk menjadikannya bukti bahwa Wanda akan melakukan hal serupa di butik. 'Saya dengar peringatanmu. Sekarang jangan berteriak lagi di depan toko. Kalau ada masalah yang berhubungan dengan pekerjaan di sini, sampaikan kepada saya dengan jelas.'
'Nanti kalau dia berulah, jangan bilang tidak pernah diingatkan.'
Nur meninggalkan mereka. Mita masuk dan menyapa pembeli yang masih menunggu. Ia membantu mencari satu ukuran, menyelesaikan pembayaran, lalu menunggu sampai pintu kembali tertutup sebelum memanggil Wanda ke meja potong.
'Kamu mendengar?'
Wanda mengangguk. Ia melipat meteran kain berkali-kali, padahal benda itu tidak perlu dirapikan lagi. 'Maaf, Bu. Saya tidak ingin membawa masalah ke sini.'
'Saya perlu tahu apakah ada orang yang mungkin datang mengganggu toko, atau ada urusan yang memengaruhi pekerjaanmu. Kamu tidak harus menceritakan seluruh hidupmu sekarang.'
'Tidak ada yang mengejar saya. Saya tidak mengambil uang orang itu. Saya pindah karena tidak sanggup tinggal di sana lagi.'
Mita duduk, memberi Wanda kesempatan menyelesaikan ucapannya. Namun perempuan itu hanya menunduk. Beberapa kali ia mencoba membuka mulut, lalu berhenti. Mita mengenali keadaan orang yang takut satu penjelasan akan segera dipakai untuk memvonisnya.
'Kita bisa membicarakannya lain kali,' katanya. 'Untuk hari ini, saya tidak akan memberhentikanmu berdasarkan ucapan di jalan. Kalau ada yang perlu saya periksa, saya akan bertanya langsung.'
Wanda mengusap sudut matanya dengan punggung jari. 'Terima kasih, Bu.'
'Kepercayaan kita juga punya tanggung jawab. Kalau ada persoalan yang bisa membahayakan toko atau orang di sini, beri tahu saya. Jangan menunggu sampai saya mendengarnya dari orang lain.'
Wanda menyanggupi. Mereka kembali mengerjakan pesanan, meski suasananya belum sepenuhnya ringan. Mita memeriksa catatan pembayaran dan barang keluar seperti biasa. Ia tidak ingin rasa iba membuatnya mengabaikan pemeriksaan, sama seperti ia tidak ingin rumor menggantikan pemeriksaan itu.
Menjelang sore, Rangga datang menjemput Rival. Anak itu sedang membaca di ruang belakang. Sebelum memanggilnya, Rangga melihat wajah Wanda yang sedikit sembap dan bertanya kepada Mita apakah ada kesalahan pesanan.
'Ada orang membicarakan masa lalunya. Belum ada masalah pekerjaan yang terbukti,' jawab Mita.
'Kalau begitu hati-hati menerima orang, Dek.'
Mita menaruh gunting di meja. 'Aku memang berhati-hati. Karena itu aku bertanya dan memeriksa. Aku tidak akan langsung menyalahkan orang hanya karena ada yang bicara lebih keras.'
Rangga terdiam. Kalimat itu mengingatkan mereka pada perkara lain yang tidak pernah mereka bahas sampai tuntas. Ia hendak menjawab, tetapi Rival keluar membawa tas, meminta ayahnya melihat gambar mobil. Pembicaraan orang dewasa berhenti tanpa dilanjutkan di depan anak.
Setelah mereka pergi, Mita mengunci lemari uang. Wanda menawarkan menutup toko sendiri agar majikannya dapat pulang lebih cepat, tetapi Mita masih harus memeriksa satu potongan pakaian. Mereka menyelesaikannya bersama, lalu mematikan lampu etalase.
'Saya akan cerita, Bu,' kata Wanda sebelum berpisah. 'Hanya saja saya perlu menata kata-katanya dulu. Saya tidak mau membela diri dengan cerita yang juga tidak jujur.'
'Baik. Kita cari waktu ketika pekerjaan sudah selesai.'
Dalam perjalanan pulang, telepon Mita berdering. Anisa menanyakan apakah ia sempat mampir ke rumah. Sinta datang setelah dari restoran dan merasa sangat mual. Ia semula hendak pulang ke rumah Ati, tetapi Anisa memintanya beristirahat di kamar tamu dahulu.
'Aldo sudah diberi tahu?' tanya Mita.
'Sudah. Dia masih menyelesaikan urusan kerja. Sinta bilang hanya masuk angin, tetapi wajahnya pucat. Mas Dimas sedang membeli alat tes karena dia juga terlambat datang bulan.'
Mita mengurangi kecepatan sebelum berbelok. Ia tidak menjawab dengan dugaan bahwa Sinta pasti mengandung. Ia mengenal satu kebohongan lama yang pernah mengacaukan keluarga, tetapi enam tahun sesudahnya tidak memberi siapa pun hak untuk menganggap setiap keluhan Sinta sebagai sandiwara.
'Kalau kondisinya memburuk, jangan menunggu saya. Hubungi klinik atau minta pertolongan,' katanya. 'Saya ke sana sekarang.'
Di rumah Dimas, Aqila membukakan pintu bersama ayahnya. Anak itu segera diminta kembali kepada Anisa yang sedang menggendong Daniel. Dimas meletakkan kantong plastik kecil berwarna biru di atas meja.
'Sinta baru mau makan beberapa suap,' ujarnya. 'Sekarang tidur. Aku belum tahu hasilnya bagaimana.'
Mita menatap pintu kamar tamu yang tertutup. Untuk pertama kalinya hari itu, masalah di depan butik terlepas sejenak dari pikirannya. Mereka harus melihat apa yang sungguh-sungguh terjadi, bukan memakai cerita lama untuk menebak keadaan seseorang hari ini.
Ia meletakkan tas di kursi, mencuci tangan, lalu meminta Anisa menjelaskan sejak kapan Sinta mulai merasa tidak sehat.