Enam tahun berlalu. Anisa mempunyai seorang anak perempuan bernama Aqila, yang kini berusia lima tahun. Enam minggu sebelumnya, ia melahirkan bayi laki-laki bernama Daniel Nugraha. Pagi itu Aqila berdiri di samping tempat tidur neneknya, mengamati adiknya yang mulai menguap.
'Nenek, letakkan saja adik di kasur. Nenek pasti sudah lelah menjaga adik,' katanya.
Bu Lina tersenyum, tetapi tidak langsung berdiri. Ia menunggu Anisa mendekat dan mengambil Daniel dari pangkuannya. Tongkat berkaki empat bersandar pada kursi. Setelah bertahun-tahun menjalani terapi, ia dapat berjalan di dalam rumah dengan bantuan alat itu. Tangan kirinya masih mudah lelah. Kesembuhan yang dulu diharapkannya datang sekaligus ternyata harus diperjuangkan sedikit demi sedikit.
'Aqila benar. Nenek mau minum dulu,' jawabnya.
Anisa membaringkan Daniel, kemudian memberikan gelas kepada ibu mertuanya. Ia tidak lagi bekerja di klinik sejak menikah. Keputusan itu dulu diambilnya bersama Dimas, ketika mereka mulai menata kehidupan keluarga. Namun, sesekali ia masih membaca buku-buku keperawatan yang tersimpan di rak. Ia tidak menganggap pengetahuannya cukup untuk menggantikan pemeriksaan dokter bagi anak-anaknya.
Rumah mereka berada di sebuah perumahan di Jakarta. Tidak semegah bayangan orang yang mendengar Dimas mempunyai beberapa tempat usaha, tetapi cukup untuk dua anak dan rutinitas yang belakangan dipenuhi tangisan bayi. Ada cucian di dekat dapur dan mainan Aqila yang belum dibereskan. Pagi itu Dimas mencari satu kaus kaki anaknya sambil menerima telepon dari kepala dapur.
'Ayam untuk besok belum datang, Mas,' terdengar suara dari seberang.
'Periksa pesanan yang dikirim kemarin. Kalau pemasok tidak sanggup, kabari aku sebelum kita menjanjikan menu kepada pelanggan.'
Usaha Dimas berkembang dari satu tempat makan. Kini ia mengawasi rumah makan dengan hidangan dari berbagai daerah, sebuah cafe, dan restoran yang menyajikan masakan ala barat. Ia tetap menghitung pembelian bahan dan upah sebelum menyebut sesuatu sebagai keuntungan. Ada bulan yang baik, ada pula bulan ketika pengeluaran membuatnya harus menunda keinginan membeli kendaraan baru.
Restoran dikelola bersama Sinta. Dari hasil yang dibagikan setelah keperluan bahan makanan, Dimas memperoleh tujuh puluh persen dan Sinta tiga puluh persen. Angka itu tidak membuat Sinta sekadar datang mengambil uang. Ia memeriksa persediaan, menangani keluhan pelanggan, dan mengatur giliran staf. Beberapa pekerja yang dulu tidak percaya putri manja Bu Lina sanggup bertahan kini biasa meminta keputusannya sebelum membuka layanan siang.
Mita pernah melihat sendiri Sinta mengganti celemek seorang pelayan yang terkena saus, lalu membantu mengantarkan pesanan. Ia tidak melupakan Sinta yang dulu menyuruhnya memasak sambil menghina. Namun, perubahan yang berlangsung bertahun-tahun itu juga nyata. Mereka tidak lagi menghabiskan setiap pertemuan untuk mengulang permintaan maaf.
'Mas, kaus kakinya di bawah sofa,' kata Anisa.
Dimas mematikan telepon setelah urusannya selesai, mengambil kaus kaki tersebut, lalu berjongkok di depan Aqila. 'Nah, setelah dipakai, kita berangkat. Ibu tidak perlu mengantar kamu juga.'
'Ayah nanti jemput?'
'Hari ini Ayah. Kalau ada perubahan, Ayah beri tahu Ibu dan gurumu.'
Bu Lina memperhatikan mereka. Dulu ia akan segera menegur Anisa karena membiarkan pekerjaan Dimas bertambah. Sekarang ia tahu seorang ayah yang memakaikan kaus kaki tidak sedang kehilangan kehormatan. Kendati begitu, beberapa kebiasaan lamanya belum mudah hilang. Ada saat ketika ia masih memberi komentar sebelum memahami keadaan.
Siang harinya, Mita datang bersama Rival untuk menjemput Bu Lina. Rival sudah bersekolah. Ia membawa gambar kendaraan yang ingin ditunjukkannya kepada Aqila, tetapi menunggu sampai sepupunya selesai makan. Mita mengingatkan agar keduanya tidak berlari di dekat bayi yang tidur.
'Bapak sudah pulang dari pasar, Bu. Nanti beliau menunggu di rumah,' ujar Mita.
Rusman kini lebih sering berada di rumah daripada dahulu. Sesekali masih ada urusan yang membawanya ke luar kota, tetapi ia tidak lagi meninggalkan semua kebutuhan Lina kepada anak dan menantunya. Untuk perjalanan yang jauh, keluarga mengatur pendamping sebelum ia berangkat.
Mita dan Rangga sendiri sudah empat tahun menyewa rumah yang berjarak sekitar dua belas menit dari rumah orang tua Rangga. Mereka tidak membangun lagi di bekas tanah rumah yang terbakar. Pada mulanya, biaya sewa terasa berat. Mita menerima jahitan kecil, sementara Rangga menyisihkan penghasilan. Kemudian pekerjaan Mita berkembang menjadi butik sederhana yang telah berjalan tiga tahun.
Mempunyai alamat sendiri mengurangi pertengkaran sehari-hari. Mempunyai penghasilan membuat Mita dapat membayar kebutuhan tanpa menunggu setiap keputusan suaminya. Tetapi dua hal itu tidak menghapus semua kejadian dahulu. Ia masih mengingat tamparan dan tuduhan yang pernah diterimanya. Ada pembicaraan yang selalu terhenti ketika Rangga merasa mereka sebaiknya tidak mengungkit masa lalu.
'Rangga tidak ikut?' tanya Bu Lina.
'Masih bekerja. Nanti sore dia menjemput Rival dari tempat saya.'
'Jangan terlalu sibuk dengan butik sampai lupa suami.'
Tangan Mita berhenti ketika merapikan tas Rival. 'Jadwal kami sudah dibicarakan, Bu. Rangga juga orang tua Rival.'
Bu Lina membuka mulut, kemudian menutupnya kembali. Anisa mengalihkan perhatian kepada Daniel yang terbangun. Tidak terjadi pertengkaran, tetapi Mita merasakan kembali rasa tidak nyaman yang dulu sering ditelannya sendirian.
Mereka pulang setelah Bu Lina cukup beristirahat. Mita menurunkan ibu mertuanya di rumah Rusman, memastikan tongkat dan tasnya berada dalam jangkauan, lalu berpamitan. Ia tidak tinggal untuk memasak makan malam karena pegawainya sedang menunggu di butik.
Wanda sudah bekerja dengannya sejak toko itu dibuka. Perempuan itu mengetahui ukuran pelanggan tetap, teliti menyimpan nota, dan berani mengingatkan ketika Mita menerima terlalu banyak pesanan. Mita mempercayainya karena pekerjaan mereka dapat diperiksa, bukan karena menganggap orang yang dekat dengannya tak mungkin berbuat salah.
Ketika mobil berhenti di depan butik, Rival turun membawa buku gambarnya. Mita melihat Nur Laila berdiri di depan toko sebelah, memandang Wanda yang sedang menggantung pakaian di etalase. Tetangganya itu mengangkat tangan, meminta Mita berhenti sebentar.
'Ada yang perlu kamu tahu tentang pegawaimu,' kata Nur.
Mita menutup pintu mobil. Ia belum mengetahui bahwa masa lalu orang lain akan kembali dibawa ke depan tokonya, tepat ketika ia sedang berusaha mempertahankan hidup yang dibangunnya sendiri.