Malam kelima setelah aku kembali, kami menyiapkan makan malam di dapur.
Di dapur, aku lebih dulu menyalakan musik pelan dari ponsel. Ethan bertanya apakah volumenya mengganggu. Aku menjawab tidak dan mulai mengiris tomat. Kami memasak tanpa terburu-buru, sesekali bergantian mencicipi saus. 'Bagaimana rasanya?' tanyanya. 'Lebih baik dari percobaan kemarin.'
'Pujianmu sangat tinggi.'
'Jangan besar kepala. Bawangnya masih terlalu tebal.'
'Besok aku berlatih.'
'Besok kita mungkin tidak memasak.'
'Benar. Aku hampir membuat memo jadwal makan.'
'Jangan.'
'Aku tidak akan.' Kami membawa piring ke meja. Sebelum mulai makan, Ethan bertanya apakah aku nyaman dengan musik. Aku menjawab iya, lalu menanyakan apakah ia ingin membuka jendela karena dapur terasa hangat. Ia membukanya sedikit. Hal-hal kecil itu membuatku lebih tenang daripada gestur besar. Kami tidak sedang berusaha meniru malam siapa pun atau memenuhi bayangan yang sudah terbentuk. Kami hanya menjalani malam ini. Setelah makan, Ethan mencuci piring sementara aku mengeringkan. Kami berhenti ketika lagu selesai. Ia mematikan musik, lalu menatapku seolah meminta izin untuk mengubah suasana. 'Aku senang malam ini,' kataku. 'Aku juga.'
'Dan aku ingin dekat denganmu. Tapi aku ingin kita tetap bisa tertawa kalau salah satu dari kita gugup.'
'Boleh. Aku mungkin akan menjadi orang pertama yang gugup.'
'Kurasa itu sudah terlihat.' Ia tertawa. Ketegangan di bahunya berkurang. Aku merasa lebih leluasa mengatakan apa yang kumau karena tidak ada tuntutan agar malam ini menjadi sempurna.
Di ruang tengah, lampu kecil menyala redup. Ethan berdiri beberapa langkah dariku. 'Aku ingin bertanya sesuatu, tapi kau tidak perlu menjawab kalau belum siap.'
'Katakan.'
Sebelum ia melanjutkan, aku teringat jendela dapur yang tadi kami buka. Aku kembali sebentar untuk menutupnya dan menyimpan sisa saus. Ethan mengambil wadah bersih sementara aku memisahkan bagian untuk makan siang besok. Kami tidak perlu tergesa meninggalkan sesuatu yang nantinya harus dibereskan orang lain. Setelah semua tersimpan, aku mencuci tangan dan mematikan lampu dapur. Musik sudah berhenti, dan aku kembali ke ruang tengah dengan perasaan lebih tenang. Ethan menunggu di tempatnya, tanpa menganggap jeda kecilku sebagai penolakan atau permintaan untuk mengejarku.
'Apakah kau ingin menghabiskan malam bersamaku di kamarku?' Ia segera melanjutkan, 'Kita bisa hanya duduk dan bicara. Kita juga bisa berhenti di depan pintu. Aku tidak menganggap jawabanmu sebagai janji untuk melakukan hal lain.'
Aku menarik napas. 'Aku ingin dekat denganmu. Aku tidak ingin melakukannya karena takut kehilanganmu atau karena merasa harus membalas sesuatu.'
'Aku mengerti.'
'Dan kalau aku bilang berhenti, kita berhenti.'
'Ya. Tanpa pertanyaan.'
Aku mengamati wajahnya. 'Aku ingin kau melanjutkan hanya kalau aku memintanya.'
Ethan mengangguk pelan. 'Baik.'
Ia tidak menyentuhku. Ia menunggu, dan dalam jeda itu aku benar-benar memeriksa diriku sendiri. Aku merasa gugup, tetapi bukan terpaksa. Aku ingin tahu bagaimana rasanya berada dekat dengannya ketika kami tidak memakai aturan atau ketakutan untuk menentukan langkah.
'Boleh aku mendekat?' tanyanya.
'Boleh.'
Ia berjalan perlahan, berhenti cukup dekat untuk memberiku ruang. Aku meletakkan tangan di dadanya, merasakan detak jantungnya di balik kain kemeja. Ia tetap diam sampai aku menatapnya.
'Jadi, seperti ini tubuh seorang pria?' tanyaku, mencoba menyembunyikan gugup dengan gurauan. 'Atau kau memang pandai merawatnya?'
Ethan tersenyum, tetapi sorot matanya serius. 'Kau boleh mencari tahu sejauh yang kau mau. Aku akan menunggu arahanmu.'
'Aku ingin kau membuka kancing kemejamu,' kataku. 'Pelan-pelan.'
'Kalau kau berubah pikiran, katakan.'
'Aku akan mengatakannya.'
Ia membuka kancing paling atas, lalu berhenti. Aku tidak mengalihkan pandangan. Ia menunggu beberapa detik, memberi kesempatan bagiku untuk memilih lagi. Aku mengangguk kecil.
'Lanjutkan,' kataku.
Ia membuka kancing kedua, kemudian berhenti lagi. Aku mengangkat tangan dan menyentuh sisi kemejanya, bukan kulitnya. 'Aku masih nyaman.'
'Baik.'
Ia membuka satu kancing lagi. Aku merasakan pipiku menghangat. Ketegangan yang ada bukan karena takut ia akan melakukan sesuatu tanpa izin, melainkan karena aku sedang memilih untuk hadir sepenuhnya. Aku menarik napas perlahan dan menatap wajahnya.
'Shopia,' katanya, 'apa kau ingin kita berhenti di sini?'
'Tidak. Aku ingin kau melanjutkan membuka kemejamu.'
Ia memastikan sekali lagi, 'Kau yakin?'
'Iya. Aku yang meminta.'
Ia membuka kancing berikutnya dengan gerakan tenang. Tidak ada desakan, tidak ada tangan yang berpindah tanpa bertanya. Aku sendiri yang menyentuh dadanya sebentar, lalu menurunkan tangan ketika rasa gugup datang kembali. Ethan segera berhenti.
'Kita bisa berhenti,' katanya.
'Aku tahu.' Aku menatapnya. 'Aku hanya perlu bernapas.'
'Kita punya waktu.'
Aku mengatur napas. 'Aku ingin melanjutkan. Tapi malam ini kita tidak perlu memutuskan apa pun setelah ini.'
'Setuju.'
Aku memegang tangannya dan menuntunnya ke lorong. Ketika sampai di depan pintu kamar, aku berhenti. Ia tidak menarikku masuk. Aku menatap pintu, lalu kembali menatapnya.
'Kalau kita masuk, pintunya boleh ditutup,' kataku. 'Tapi itu tidak berarti aku menyetujui hal lain tanpa membicarakannya.'
'Paham. Kita akan terus bertanya dan mendengarkan.'
'Dan kalau aku meminta berhenti?'
'Kita berhenti.'
Aku tersenyum lega. 'Baik. Masuklah.'
Aku memandangnya dan menyadari bahwa pilihan ini tidak menghapus keraguan tentang hal-hal lain. Besok aku masih harus memikirkan kontrak, naskah, dan tempat tinggal. Namun aku tidak harus menyelesaikan semua itu untuk menentukan apa yang kuinginkan malam ini.
'Aku masih bisa berubah pikiran,' kataku.
'Ya.'
'Dan kau tidak akan marah?'
'Aku mungkin kecewa kalau berharap lebih, tapi aku tidak akan menghukummu. Keputusanmu tetap milikmu.'
'Kalau aku ingin hanya duduk bersamamu?'
'Kita duduk.'
'Kalau aku ingin kau berhenti di tengah jalan?'
'Kita berhenti.'
Jawaban-jawabannya tidak terdengar seperti hafalan. Ia mengatakannya tanpa mendekat, dan aku percaya ia sedang berbicara sungguh-sungguh. Aku meraih tangannya lebih dulu. 'Aku ingin masuk.'
'Baik. Kita masuk hanya sejauh yang kau mau.'
Aku menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. Tidak ada yang perlu kubuktikan. Aku boleh memilih satu langkah, lalu menilai kembali langkah berikutnya. Ethan menunggu sampai aku tersenyum dan mengangguk.
Ethan membuka pintu dan memberi jalan kepadaku. Aku melangkah lebih dulu. Ia menunggu sampai aku berbalik dan mengulurkan tangan. Aku menyambutnya. Setelah kami masuk, ia bertanya apakah aku ingin pintu ditutup.
'Iya,' jawabku. 'Tutup pintunya.'
Ethan menarik pintu perlahan hingga tertutup.