Hari keempat setelah aku kembali, aku pulang dari kampus lebih lambat dari biasanya. Ethan sedang duduk di meja ruang tengah dengan beberapa catatan toko. Ia segera menutup buku ketika melihatku.
'Kau tidak harus menyembunyikannya,' kataku.
'Aku tidak menyembunyikan. Aku hanya tidak mau membuatmu merasa harus bicara saat baru masuk.'
'Aku lelah, tapi masih bisa bicara.'
Ia menggeser catatan ke samping. 'Bagaimana harimu?'
'Emily menyukai bagian baru naskahku. Dia bilang tokoh perempuannya terdengar lebih jujur sekarang.'
'Bagaimana perasaanmu mendengarnya?'
'Lega. Dan sedikit takut karena bab terakhir masih belum selesai.'
'Kau akan menemukannya.'
'Aku ingin percaya begitu.' Aku meletakkan tas. 'Kita juga harus bicara soal tiga bulan itu. Kontrak hampir genap.'
Ethan diam sesaat. 'Benar. Aku tidak ingin kau merasa perlu tinggal hanya karena tanggal di kertas.'
'Aku akan mencari pilihan tempat tinggal lain juga. Bukan karena ingin pergi darimu, tapi karena aku perlu tahu pilihanku nyata.'
'Itu masuk akal.'
'Aku ingin tetap mencoba hubungan ini, apa pun pilihanku soal alamat.'
Ia berdiri, tetapi tidak mendekat. 'Aku ingin mencoba juga. Kalau kau memilih tinggal di tempat lain, aku tetap akan datang menemuimu kalau kau mengizinkan. Kalau kau memilih tetap di sini, kita perlu bicara lagi tentang batas dan biaya. Tidak satu pun jawaban menentukan apakah aku peduli padamu.'
Aku merasa lega mendengar kalimat yang tidak mencoba membujukku. 'Terima kasih.'
'Aku tidak mau menjadikan rumah sebagai hadiah atau ancaman.'
'Dan aku tidak ingin menjadikan hubungan ini cara menghindari keputusan mandiri.'
Kami duduk dan membicarakan hal praktis. Aku punya cukup waktu untuk mencari tempat tinggal, dan aku tidak harus memberi jawaban malam itu. Ethan menawarkan membantu mengangkut barang jika aku memilih pindah. Tawaran itu menyentuhku sekaligus membuat tenggorokanku tercekat.
'Kau benar-benar akan membantuku pergi?'
'Kalau itu pilihanmu, iya. Aku akan sedih, tapi aku tidak akan menghalangimu.'
'Dan kalau aku memilih tetap di sini?'
'Kita akan membicarakannya sebagai dua orang yang memilih berbagi tempat, bukan sebagai pemilik dan penyewa yang menghindari perasaan.'
Aku memandangnya lama. 'Aku ingin kita berhenti bersembunyi di balik peran yang membuat semuanya terasa aman.'
'Aku juga.'
Malam itu kami berjalan ke toko untuk mengambil roti yang tertinggal di sana. Cross & Co. sudah tutup, lampu depan dimatikan, dan Ethan hanya membuka pintu samping sebentar. Ia mengambil kantong kecil, lalu mengunci kembali. Kami berjalan pulang tanpa tergesa. Udara malam dingin, dan aku memasukkan tangan ke saku jaket.
'Besok malam,' katanya, 'aku ingin memasak lagi. Bukan sebagai perayaan besar. Hanya makan malam untuk kita.'
'Kalau sausnya terlalu asin lagi?'
'Kita pesan makanan.'
'Kalau begitu aku setuju.'
Sebelum menyiapkan roti untuk dimakan malam ini, aku duduk di meja kecil dan membuka daftar pilihan tempat tinggal yang kusimpan di ponsel. Ethan melihat layar itu sekilas, lalu mengalihkan pandangan. 'Aku sedang membandingkan biaya,' kataku. 'Aku tidak menyembunyikannya.'
'Aku tahu. Aku tidak mau membuatmu merasa harus menutup layar.'
'Ada satu pilihan yang cukup dekat dari kampus. Belum tentu cocok, tapi aku akan melihatnya minggu ini.'
'Kalau kau ingin aku ikut, aku bisa menemani. Kalau kau ingin pergi sendiri, aku juga mengerti.'
'Aku mungkin pergi dengan Ningning.'
'Baik.' Aku mengunci ponsel. 'Aku ingin kau tahu bahwa mencari tempat bukan hukuman untukmu.'
'Aku paham.'
'Dan kalau akhirnya aku tetap di sini, itu bukan karena aku tak punya pilihan.' Ethan menyandarkan tangan di meja. 'Aku akan berusaha mengingat perbedaan itu.'
'Aku juga tidak ingin membuatmu menebak sampai kontrak berakhir.'
'Kau boleh memberi tahu saat sudah siap.' Kami membandingkan daftar bahan untuk makan malam besok dengan isi kulkas. Kali ini Ethan membaca ulang ukuran pada resep, sementara aku menandai bahan yang perlu dibeli. Kami belum menyalakan kompor; malam ini masih ada roti yang baru diambil dari toko. Sambil menyiapkan piring untuk roti, ia bertanya apakah aku ingin ditemani ketika melihat tempat itu. Aku menjawab belum tahu. Ia menerima jawabanku tanpa menunjukkan kecewa. Sesudah menyiapkan bahan untuk besok, kami memastikan wadahnya tertutup dan kembali masuk kulkas. 'Aku senang kita bisa membicarakan hal sulit tanpa harus menyelesaikannya malam ini,' katanya. 'Aku juga. Dulu aku mengira jawaban harus diberikan sebelum orang lain berubah pikiran.'
'Aku pernah membuatmu merasa begitu.'
'Ya. Tapi sekarang kau memberi ruang.'
'Aku ingin terus melakukannya.'
'Dan aku akan mencoba tidak menghilang ketika takut.' Ia mengulurkan tangan, telapak terbuka. Aku mengambilnya sebentar. Kami melepaskan genggaman saat aku menginginkannya, lalu mengambil gelas dari rak. Mencari tempat lain bukan berarti menolak Ethan; kembali bukan berarti menyerahkan kemandirian.
**
Ethan memotong roti di atas piring yang sudah kami siapkan. Kami lalu duduk berhadapan di meja. Percakapan kembali ke hal yang belum berani kami sentuh: kedekatan fisik. Sejak kami berdamai, setiap sentuhan terasa membawa pertanyaan yang lebih besar.
'Aku ingin memastikan sesuatu,' kata Ethan. 'Kita bisa berhenti kapan saja. Aku tidak ingin kau merasa harus membuktikan bahwa kau percaya padaku.'
'Aku tahu. Aku ingin dekat denganmu, tapi aku juga ingin mengatakannya dengan jelas.'
Ia menghela napas lega. 'Terima kasih sudah mengatakannya.'
'Aku belum siap membuat semua keputusan sekaligus.'
'Kita tidak perlu.'
'Aku juga tidak mau rasa terima kasihku karena kau jujur tentang masa lalu berubah menjadi kewajiban.'
'Bukan itu yang kuharapkan.'
'Bagus.' Aku tersenyum kecil. 'Aku sedang belajar mengatakan apa yang kuinginkan sebelum menebak-nebak apa yang kau harapkan.'
Ethan menangkup gelasnya. 'Dan aku sedang belajar bertanya, bukan menganggap.'
Kami membereskan meja, lalu duduk lagi di ruang tengah. Tangannya terletak di sofa, telapak terbuka. Aku meletakkan tanganku di dekatnya, tetapi belum menyentuh. Ia tidak buru-buru mengisi jarak itu.
'Boleh aku mencium keningmu?' tanyanya.
'Boleh.'
Ia mendekat perlahan. Ciumannya singkat, lembut, dan berhenti tepat ketika ia menarik diri. Aku tidak merasa terkejut atau terjebak. Aku merasa bisa mengatakan cukup, dan ia akan mendengarnya.
'Terima kasih sudah bertanya,' kataku.
'Terima kasih sudah menjawab.'
Kami tidak melanjutkan apa pun malam itu. Aku masuk kamar lebih dulu. Sebelum menutup pintu, aku mengatakan bahwa besok aku ingin memasak bersamanya dan menghabiskan malam tanpa membicarakan kontrak. Ia berkata setuju, selama aku tetap bebas mengubah pikiran.
Sebelum tidur, aku menulis sebentar di buku catatan. Aku mencatat bahwa pembicaraan tentang kontrak bisa menunggu sampai kami sama-sama siap. Aku tidak perlu memberi Ethan jawaban karena takut mengecewakannya; ia juga tidak perlu menerima semua ketidakpastianku tanpa batas. Kami bisa jujur dan menentukan waktu untuk membicarakan sisanya. Setelah menutup buku, aku memeriksa pesan dari Ningning. Ia hanya mengirimkan foto teh yang sedang diminumnya dan bertanya apakah aku baik-baik saja. Kubalas bahwa aku aman dan akan menghubunginya besok. Aku tidak menceritakan setiap detail. Kali ini aku tidak sedang menyembunyikan sesuatu; aku hanya menyimpan ruang pribadi yang memang milikku. Sebelum tidur, aku melihat memo 'pulanglah' dari pintu kamar dan merasa lega karena kata itu tidak lagi menentukan ke mana aku harus pergi.