Beberapa hari setelah masa tiga bulan dalam kontrak berakhir, aku berdiri di depan apartemen dengan secangkir kopi yang sudah hampir dingin. Aku baru pulang dari melihat kamar sewa dekat kampus. Kamar itu cukup terang, harganya masuk akal, dan pemiliknya bersedia menunggu jawabanku sampai besok. Aku punya pilihan nyata. Itu sebabnya aku tidak lagi merasa perlu mengambil keputusan karena panik.
Ethan membuka pintu. Ia tidak bertanya bagaimana hasilnya sebelum aku melepas sepatu.
'Kau mau duduk dulu?' tanyanya.
'Ya. Aku ingin menceritakan semuanya, tapi beri aku waktu minum kopi.'
'Silakan.' Ia menunjuk meja, lalu duduk di kursi seberang. 'Aku tidak akan menebak-nebak dari wajahmu.'
Aku tersenyum kecil. 'Kamar itu bagus. Dekat kampus, ada jendela besar, dan aku bisa membayangkan menulis di sana.'
'Itu terdengar cocok.'
'Aku belum menjawab.'
'Aku tahu.'
Aku menghangatkan telapak pada cangkir. 'Kontrak kita sudah berakhir tiga hari lalu. Kita sudah beberapa kali membicarakan pilihannya. Sekarang aku ingin memastikan keputusan akhirnya.'
'Aku sengaja menunggu sampai kau siap. Aku tidak ingin tanggal di kontrak memaksamu.'
'Terima kasih. Aku juga tidak mau tinggal karena sungkan.'
Ethan merapatkan kedua tangannya di meja. 'Kalau kau ingin pindah, aku akan membantumu. Tapi ada hal yang ingin kusampaikan, dan kau boleh menolaknya.'
'Katakan.'
'Aku ingin menawarkan tempat ini sebagai rumahmu selama kau menginginkannya. Tanpa batas waktu, tanpa kewajiban hubungan, dan tanpa kontrak yang menentukan kapan kau harus pergi.'
Aku menatapnya. 'Kau tidak takut aku akan tinggal lalu suatu hari memutuskan pergi?'
'Aku takut. Tapi rasa takutku bukan alasan untuk membatasi pilihanmu.'
'Kalau kita bertengkar?'
'Kita membicarakannya. Kalau kau perlu ruang, kita cari cara yang tidak membuatmu merasa diusir.'
'Kalau hubungan kita berubah?'
'Tempat tinggalmu tetap tidak boleh menjadi alat tawar-menawar. Kita akan membahasnya dengan adil, bukan memakai kunci atau sewa untuk menyakiti satu sama lain.'
Aku memandang cangkir, lalu jendela ruang tengah. Beberapa bulan sebelumnya aku masuk ke apartemen ini sebagai orang yang membutuhkan tempat. Kini aku punya kesempatan untuk tinggal karena memilihnya. Perbedaan itu terasa besar.
'Aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku akan selalu tinggal di sini,' kataku.
'Aku tidak meminta janji itu.'
'Aku juga tidak mau berhenti mencari tempat yang membuatku mandiri.'
'Silakan. Aku ingin kau punya pilihan, bahkan ketika pilihanmu adalah tetap bersamaku.'
Aku meletakkan cangkir. 'Kalau begitu, aku menerima tawaranmu untuk sekarang. Aku ingin tinggal di sini tanpa batas waktu yang ditentukan kontrak. Tapi kita tetap membicarakan kebutuhan masing-masing.'
Ethan mengembuskan napas yang seolah lama ditahannya. 'Aku senang. Dan aku ingin memastikan kau menerimanya karena memang menginginkannya.'
'Aku menginginkannya. Aku juga akan tetap punya tabungan sendiri, jadwal sendiri, dan ruang untuk menulis.'
'Tentu.'
'Dan memo satu kata itu tetap bukan perintah.'
'Tidak akan pernah.'
Ia tidak langsung memelukku. Ia bertanya, 'Boleh kupeluk?'
'Boleh.'
Pelukannya hangat, tidak mengunci. Aku bisa merasakan kelegaan sekaligus kehati-hatiannya. Ketika kami berpisah, tidak ada janji seumur hidup atau aturan baru. Hanya keputusan yang bisa kami bicarakan kembali kapan saja.
Sebelum keluar dari apartemen untuk pergi ke toko, aku mengeluarkan buku catatan kecil dari tas. Di halaman terakhir ada daftar pengeluaran dan beberapa alamat yang kutemukan. Ethan tidak mengintipnya. 'Kau ingin menyimpan catatan itu di meja?' tanyanya. 'Tidak, kubawa saja. Aku ingin tetap mengurus pilihanku sendiri.'
'Tentu.' Aku memasukkannya kembali ke tas. 'Tawaranmu membuatku merasa aman, tapi aku tidak mau rasa aman itu menggantikan kemandirian.'
'Aku mengerti. Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu, bukan menjadi satu-satunya jalan yang kau punya.' Kalimat itu membuatku lega. Keesokan paginya, pemberitahuan dari rekeningku menunjukkan dana pengembalian masuk. Aku membandingkannya dengan penetapan yang dikirim Selena. Jumlahnya sesuai. Setelah menyimpan bukti penerimaan, aku mengirim konfirmasi kepadanya dan menandai bagian yang sudah kembali pada catatan kerugianku. Masih ada selisih yang belum pulih; aku tidak mencoretnya seolah seluruh urusan selesai.
Sebagian dana kusisihkan sebagai cadangan tempat tinggal. Ethan melihatku menutup map dan bertanya apakah kabarnya baik. Aku mengatakan uang yang ditetapkan benar-benar sudah kuterima, lalu menunjukkan catatan tabungan yang ingin kujaga sendiri. Ia mengangguk tanpa menawarkan mengelolanya. Aku menyimpan map itu di kamarku. Keputusanku tinggal bersamanya kini tidak lagi bergantung pada menunggu kabar yang mungkin tak datang.
Siang harinya, aku membuka berkas naskah terakhir di meja kecil. Bab penutup yang selama ini kosong akhirnya memiliki akhir. Aku tidak menyalin kehidupan kami kata demi kata. Aku menulis dua tokoh yang belajar bahwa rumah bukanlah tempat seseorang menahan orang lain, melainkan ruang tempat mereka boleh memilih untuk kembali.
Setelah membaca ulang, aku mengirim naskah itu kepada Emily. Balasan datang tak lama kemudian: ia menerima berkasnya dan ingin berbicara tentang penyuntingan setelah membacanya. Aku tersenyum melihat pesan itu. Naskahku belum terbit, tetapi akhirnya selesai sebagai karya yang berdiri sendiri.
Ethan muncul di ambang pintu yang terbuka. 'Sudah terkirim?'
'Sudah.'
'Bagaimana rasanya?'
'Seperti baru meletakkan tas yang kubawa terlalu lama.'
'Aku senang kau menyelesaikannya.'
'Aku juga. Dan aku senang kau tidak bertanya apakah tokoh prianya masih tentangmu.'
'Aku sudah belajar bahwa itu bukan pertanyaan yang perlu kujawab.'
Aku tertawa. 'Ada kemajuan.'
Sore itu kami membawa kue yang kubuat ke Cross & Co. Papa dan Miranda berjanji mampir setelah urusan mereka selesai. Aku sempat gugup saat melihat mereka memasuki toko. Hubunganku dengan keluargaku telah membaik, tetapi masih ada hal-hal yang kami pelajari untuk dibicarakan tanpa saling menebak.
Papa memandang kue di meja. 'Ini buatanmu?'
'Ya. Jangan berharap bentuknya sempurna.'
Miranda memotong sepotong kecil. 'Yang penting rasanya.' Ia mencicipinya, lalu tersenyum. 'Enak, Shopia.'
Papa ikut mencicipi. 'Aku setuju. Kapan kau belajar membuatnya?'
'Dengan latihan. Dan beberapa percobaan yang gagal.'
Miranda menatapku. 'Aku senang kau masih mau berbagi hal seperti ini dengan kami.'
'Aku juga senang kalian datang.'
Ethan berdiri di dekat meja, tetapi membiarkan percakapan itu menjadi milik kami. Saat Papa menawari Miranda potongan kedua, ia menolak sambil tertawa kecil. Momen itu tidak menghapus semua luka masa lalu, namun terasa seperti bagian baru yang bisa kami bangun sedikit demi sedikit.
Daren datang menjelang toko tutup bersama Mina. Ia melihat kue yang tersisa dan mengangkat alis.
'Aku datang terlambat?'
'Untuk kue, mungkin,' jawabku. 'Untuk teh, belum.'
Mina tertawa. Daren mengangkat gelasnya saat Ethan menuang teh. 'Untuk bab yang akhirnya selesai dan rumah yang tidak lagi diatur memo.'
'Untuk pilihan yang tetap terbuka,' tambah Mina.
Aku mengangkat cangkir. 'Untuk orang-orang yang mau bertanya sebelum menganggap.'
Kami bersulang kecil. Ketika aku memandang Ethan, ia tidak meminta makna khusus dari keputusanku tinggal. Ia hanya tersenyum, dan aku membalasnya karena ingin.
Kami menutup toko bersama malam itu setelah memastikan Papa dan Miranda sudah pulang. Daren dan Mina juga berpamitan, membawa sisa kue untuk dinikmati nanti. Saat berjalan pulang, Ethan tidak bertanya apakah aku berubah pikiran soal kamar dekat kampus. Ia hanya bertanya apakah aku ingin mampir membeli susu. Aku menjawab iya. Perjalanan pendek itu terasa seperti kehidupan sehari-hari yang kami pilih, bukan hadiah karena aku menerima tawarannya.
**