Pada hari ketiga, aku menemukan Ethan berdiri di dapur sambil menatap resep di ponselnya dengan wajah seorang pria yang sedang menghadapi ujian penting. Di meja ada tepung, telur, tomat, dan dua bawang yang belum dikupas.
'Apa yang sedang kau buat?' tanyaku.
'Makan malam.'
'Dari bahan sebanyak itu?'
'Aku mengikuti resep.'
'Resepnya meminta dua bawang?'
'Tidak sebanyak ini. Yang satu untuk stok besok. Aku belum memisahkannya.'
Aku menahan tawa. 'Setidaknya kita tidak akan kehabisan bawang.'
Ethan meletakkan ponselnya. 'Kau bersedia membantuku? Kita bisa memasak bersama. Kalau tidak nyaman, aku pesan makanan saja.'
'Aku mau membantu. Tapi kita bagi tugas, bukan kau memberi instruksi seperti mandor.'
'Setuju. Kau pilih tugasmu.'
'Aku mengurus saus. Kau potong bawang sesuai resep. Yang untuk besok kita simpan.'
Ia mengangkat bawang yang akan disimpan. 'Aku akan berusaha tidak mengorbankan semuanya.'
Aku mengambil tomat dan pisau. Dapur terasa sedikit sempit dengan kami berdua, apalagi setiap kali kami membuka laci yang sama pada saat bersamaan. Beberapa kali siku kami bersentuhan. Kami saling meminta maaf, lalu tertawa kecil. Tidak ada sentuhan yang dibiarkan menggantung untuk meminta makna lebih besar.
'Apakah ini terlalu banyak garam?' Ethan bertanya sambil menunjuk panci.
'Cicipi dulu.'
Ia mencicipi dan membuat wajah terkejut. 'Kau benar.'
'Aku bahkan belum mengatakan apa-apa.'
'Tatapanmu mengatakan saus itu membutuhkan pertolongan.'
Aku mengambil sendok. 'Tambahkan tomat lagi. Dan jangan panik.'
'Aku tidak panik.'
'Ethan, kau memegang tutup panci seperti hendak menutup bukti kejahatan.'
Kami bekerja bersama sampai sausnya kembali seimbang. Ia memotong bawang terlalu tebal, aku mengiris tomat tidak seragam, dan hasilnya jauh dari gambar resep. Namun saat kami duduk untuk makan, masakan itu terasa menyenangkan justru karena setiap bagian mengingatkan kami pada kekacauan kecil yang dibuat bersama.
'Untuk kepulanganku?' tanyaku sambil mengangkat gelas air.
'Untuk keputusanmu sendiri,' kata Ethan. 'Dan untuk kesempatan yang kau berikan kepada percakapan kita.'
'Kesempatan, bukan garansi.'
'Bukan garansi.' Ia mengangkat gelasnya. 'Aku bisa menerima itu.'
Kami makan perlahan. Ethan bertanya apakah aku ingin bercerita tentang naskah, tetapi segera menambahkan bahwa aku boleh menolak. Aku memilih bercerita sedikit tentang tokoh perempuan yang mencoba membedakan keberanian dari ketakutan. Ia mendengarkan tanpa mengira setiap kalimat adalah pengakuan tentang dirinya.
'Dia terdengar seperti seseorang yang kukenal,' katanya.
'Mungkin. Tapi dia bukan aku sepenuhnya.'
'Aku paham. Aku juga tidak mau menganggap semua tokoh pria di bukumu sebagai diriku.'
'Bagus. Itu cara yang sehat.'
Di tengah makan, ponsel Ethan bergetar. Ia melirik layar, lalu menaruhnya kembali. 'Kau boleh menjawab,' kataku. 'Daren hanya bertanya tentang jadwal besok. Bisa menunggu.'
'Kalau memang urusan kerja, jawab saja. Aku tidak ingin makan malam ini menjadi tes perhatian.' Ethan tersenyum kecil. 'Terima kasih.' Ia membalas singkat dan meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah. 'Selesai.'
'Aku juga ingin bilang, aku tidak mengharapkanmu selalu tahu apa yang harus dilakukan.'
'Aku memang tidak tahu.'
'Bagus. Berarti kita bisa bertanya.' Kami membicarakan pilihan sederhana untuk akhir pekan: aku ingin menemui Ningning, sementara Ethan perlu memeriksa persediaan toko. Kami tidak menyusun jadwal bersama secara paksa. Kami hanya mencari waktu yang cocok, lalu sepakat masing-masing bebas mengubah rencana. Kami membicarakannya sambil menghabiskan makanan. Ia mengulurkan kain lap, tetapi tidak menyentuh tanganku. Aku mengambilnya sendiri. 'Apakah kau merasa aku terlalu berhati-hati?' tanyanya. 'Kadang. Tapi aku lebih suka kau bertanya daripada menganggap. Nanti kita akan menemukan ritme yang terasa wajar.'
'Aku ingin sampai ke sana tanpa membuatmu merasa harus mempercepat.'
'Kita bisa berjalan dengan kecepatan yang sama, meskipun kadang salah satu lebih dulu menyadari sesuatu.' Ia memandangku sejenak. 'Aku akan mengingatnya.'
'Jangan jadikan itu memo.'
'Tidak akan.' Aku menghabiskan suapan terakhir, sementara Ethan menyisihkan gelas agar tidak menghalangi piring yang akan dibawa ke dapur. Kegiatan biasa itu terasa cukup. Tidak ada musik khusus atau janji tentang masa depan. Hanya malam yang kami jalani bersama dan boleh kami akhiri kapan saja.
**
Setelah makan, kami membereskan dapur bersama. Ethan mencuci, aku mengeringkan. Ia menyerahkan piring yang sudah dibilas, lalu menggeser rak agar aku tidak perlu menjangkau melewati lengannya. Saat piring terakhir tersimpan, aku menemukan noda saus pada gagang lemari dan membersihkannya sebelum mengembalikan lap. Ia menunggu sampai aku selesai, kemudian mengambil wadah untuk sisa makanannya.
Kami menaruh sisa makanan ke dalam wadah. Ethan menulis tanggal di tutupnya, lalu mengangkat spidol.
'Haruskah kita tempel memo untuk mengingatkan makan sisa?'
'Jangan mulai.'
'Aku bertanya.'
'Jawabanku tidak.'
'Baik.' Ia menutup spidol dan memasukkannya ke laci. 'Kita bisa mengingatnya tanpa kertas.'
Aku tersenyum. 'Kemajuan besar.'
Kami membawa teh ke ruang tengah. Di luar jendela, lampu kota berkelip samar. Ethan duduk di ujung sofa, meninggalkan jarak yang cukup untukku memilih tempat. Aku duduk di sisi lain. Selama beberapa menit kami membicarakan hal ringan, lalu percakapan berhenti tanpa terasa sebagai hukuman.
'Aku ingin mengatakan sesuatu,' ujar Ethan. 'Tapi kau boleh meminta aku berhenti.'
'Katakan.'
'Aku bahagia kau kembali. Aku tahu bahagia itu tidak memberiku hak untuk menuntut lebih. Aku hanya ingin kau tahu.'
'Aku senang kita menghabiskan malam ini bersama,' jawabku. 'Tapi aku masih akan memikirkan tempat tinggalku setelah kontrak.'
'Aku mengerti.'
'Dan aku ingin kita mencoba berkencan sungguhan, bukan kembali ke kebiasaan lama dengan nama baru.'
Ethan menatapku. 'Aku juga mau. Apa yang menurutmu perlu berbeda?'
'Jangan membuat keputusan untukku. Jangan menyampaikan rasa takut lewat aturan. Kalau ada yang terasa menyakitkan, kita bicarakan sebelum berubah jadi diam.'
'Aku akan berusaha melakukan itu.'
'Aku juga akan berusaha jujur lebih awal. Termasuk kalau aku takut.'
'Kalau kita gagal melakukannya?'
'Kita minta maaf, lalu memperbaiki. Bukan berpura-pura tak terjadi.'
Ia menyandarkan punggung. 'Aku ingin mencoba semua itu.'
Aku tidak menjawab dengan ciuman atau janji. Aku hanya mendekat sedikit, cukup untuk menunjukkan bahwa aku tidak menutup diri. Ethan tidak bergerak sampai aku meletakkan tanganku di antara kami. Ia melihat tanganku, lalu bertanya, 'Boleh kugenggam?'
'Boleh.'
Jemarinya menutup di sekeliling jemariku. Genggamannya hangat dan ringan. Aku bisa menarik tangan kapan saja. Kami tetap begitu sampai teh habis, lalu sepakat tidur karena esok hari kami harus bekerja.
Di depan kamar, Ethan berkata, 'Terima kasih untuk makan malamnya.'
'Kau yang membeli bahan.'
'Kau yang menyelamatkan saus.'
'Besok kita lihat apakah sisa makanannya aman.'
'Kalau tidak aman, kita pesan makanan.'
Aku tertawa. Ia ikut tersenyum, lalu kami mengucapkan selamat malam. Tidak ada memo baru di kulkas. Hanya catatan kecil di pikiranku: kebersamaan bisa terasa aman ketika kami sama-sama boleh memilih jarak.