Pagi berikutnya setelah aku kembali, kami duduk berhadapan di meja makan dengan secarik kontrak lama di antara kami. Kertas itu sudah kusut di bagian lipatan. Selama berbulan-bulan, tulisan di dalamnya menjadi batas yang membantu kami berbagi apartemen tanpa harus membicarakan hal yang lebih rumit. Sekarang aturan-aturan itu terasa seperti pakaian lama: masih bisa dikenakan, tetapi tak lagi pas.
Ethan meletakkan pulpen di samping kertas. 'Kita bisa membahasnya satu per satu. Kalau ada yang tidak nyaman, katakan.'
'Aku ingin mulai dari alasan kontrak ini ada.'
'Karena aku ingin membantu dan kau membutuhkan tempat tinggal.'
'Dan karena kita sama-sama takut situasi jadi rumit.'
Ia mengangguk pelan. 'Aku lebih takut dari yang kuakui.'
Aku menyentuh ujung kertas. 'Aku juga. Tapi aku tidak mau keputusan tinggal di sini dicampur dengan keputusan soal hubungan. Kalau kita nanti tidak berhasil, aku tetap harus punya pilihan.'
'Kau benar.' Ethan menarik napas. 'Kontraknya memang akan berakhir dalam beberapa hari. Kita tidak perlu memperpanjangnya hari ini. Kau bisa menentukan tempat tinggalmu sendiri dan kita tetap mencoba berkencan.'
'Kau sanggup memisahkan dua hal itu?'
'Aku harus sanggup. Aku tidak mau memakai rumah sebagai alasan agar kau tetap bersamaku.'
Aku menatapnya, memastikan tidak ada nada menguji di balik jawabannya. 'Kalau begitu, untuk beberapa hari ini aku tinggal di sini seperti biasa. Setelah itu aku putuskan sendiri. Jangan menganggap itu ujian.'
'Baik.'
Kami membaca aturan lama. Bagian soal mencuci piring membuat kami tertawa kecil karena Ethan pernah menempelkan tiga memo berbeda tentang spons. Aturan jam tenang masih berguna ketika aku bekerja, tetapi tidak perlu lagi ditulis seolah keterlambatan sepuluh menit akan meruntuhkan rumah. Kami sepakat menanyakan langsung bila ada sesuatu yang mengganggu.
'Bagian ini bagaimana?' Ethan menunjuk kalimat tentang tidak membawa urusan pribadi ke ruang bersama.
'Itu terdengar seolah kita harus menyembunyikan perasaan di ruang tamu.'
'Aku yang menulisnya.'
'Kelihatan.'
Ia tersenyum malu. 'Kita hapus?'
'Kita ganti dengan: kalau salah satu butuh ruang, bilang. Jangan menghilang tanpa penjelasan.'
Ia menulis kalimat itu di selembar kertas terpisah, bukan sebagai aturan yang mengikat, melainkan catatan kesepakatan. Aku membaca ulang dan menambahkan, 'Dan jangan menuntut jawaban saat orang lain belum siap.'
Ethan menuliskannya juga. 'Ini lebih baik.'
'Karena kita yang menyusunnya bersama.'
Setelah membicarakan kontrak, ia tidak langsung bertanya apakah aku akan tetap tinggal. Ia mencuci cangkirnya, lalu bersiap berangkat ke Cross & Co. Aku mengeluarkan laptop dan mencoba membuka dokumen naskah. Layar putih menyala. Jemariku berhenti di atas papan ketik.
Ethan yang sedang merapikan tas kerjanya memperhatikan dari lorong. 'Kau mau aku pergi dulu?'
'Tidak. Aku hanya sedang memikirkan apakah meja itu masih bisa kupakai.'
'Meja itu milikmu selama kau ingin menggunakannya.'
'Aku tahu. Maksudku, apakah aku bisa menulis tanpa merasa kau membaca dari belakang bahuku.'
'Aku tidak akan membaca apa pun tanpa izinmu.' Ia berdiri tegak. 'Kalau kau ingin pintunya tertutup saat bekerja, katakan saja.'
'Aku akan bilang.'
'Kalau begitu aku siapkan barang dulu sebelum berangkat.'
'Semoga harimu lancar.'
Ethan berhenti di lorong. 'Kau juga. Dan kalau menulis terasa sulit, kau tak perlu membuktikan apa-apa padaku.'
'Aku menulis untuk diriku sendiri dulu.'
'Itu jawaban yang bagus.'
Sebelum kami berangkat menjalani urusan masing-masing, aku menyusun buku-bukuku di rak kecil. Beberapa masih membawa catatan tempel dari masa sebelum aku pergi. Aku memisahkan yang berkaitan dengan kuliah dari yang berisi ide cerita, lalu menaruh buku kosong paling atas. Ethan lewat membawa jaketnya. 'Kau mau aku membiarkan rak sebelah kosong?'
'Aku tidak butuh seluruh rak.'
'Aku bertanya karena barang-barangku memenuhi dua tingkat.'
'Kalau aku membutuhkan tempat, aku akan bilang. Untuk sekarang, ini cukup.' Ia mengangguk lalu mengambil kunci. 'Aku pulang agak sore.'
'Tidak apa-apa. Aku ada kelas.'
'Kalau jadwal berubah, kabari aku supaya aku tidak menyiapkan makan malam untuk dua orang.'
'Aku juga bisa memasak untuk diriku sendiri.'
'Benar. Kebiasaan lama.'
'Kita sedang mengubah kebiasaan lama.'
'Kalau begitu, aku akan bertanya sebelum berasumsi.' Sebelum berangkat ke kampus siang itu aku mencoba bekerja dari meja kecil. Aku menghapus satu paragraf, menulis ulang, lalu berhenti ketika menemukan kalimat yang terlalu mirip dengan ucapan Ethan. Dulu aku mungkin akan menyimpannya karena terasa nyata. Sekarang aku membaca ulang dengan hati-hati dan mengganti detail yang terlalu dekat. Tokoh dalam cerita boleh terinspirasi dari hidup, tetapi kehidupan Ethan bukan bahan yang boleh kuambil tanpa batas.
Ponselku bergetar. Pesan dari Emily menanyakan kapan bab penutup akan selesai. Aku membalas bahwa aku sedang menyusun ulang dan akan mengirim versi yang jujur sebagai cerita, bukan catatan tentang orang lain. Balasannya singkat: ia menunggu hasilnya, tetapi ingin aku menjaga suaraku sendiri.
Aku mematikan layar sebentar.
Sepulang dari kampus, aku menemukan meja dapur kosong. Tidak ada makanan yang disiapkan atas namaku, hanya pesan singkat di ponselku: ia membeli bahan untuk dirinya sendiri dan bertanya apakah aku mau ikut makan. Aku membalas bahwa aku sudah makan bersama Ningning. Ketika ia pulang sore itu, ia tidak tampak kecewa. 'Kelasnya bagaimana?' tanyanya. 'Baik. Ningning menanyakan kabarmu.'
'Apa yang kau jawab?'
'Bahwa kita sedang mencoba bicara dengan lebih jujur.'
'Jawaban yang tepat.' Aku tersenyum. 'Dia juga bilang aku tidak perlu melaporkan setiap langkah hubungan kita.'
'Dia benar.' Kami berbagi ruang tanpa harus mengisi setiap jeda dengan penjelasan. Aku belajar bahwa kembali ke apartemen tidak berarti kehilangan teman atau kehidupan di luar sana. Ethan pun memahami bahwa kehadiranku bukan tanda bahwa aku akan berhenti membuat keputusan sendiri.
**
Sesudah obrolan tentang kelas, aku pindah ke kamar untuk beristirahat. Ethan menyimpan tasnya, lalu mengetuk pintu kamarku yang terbuka sedikit.
'Boleh masuk?'
'Boleh. Aku sedang istirahat.'
Ia menaruh sekantong roti di meja. 'Aku membeli terlalu banyak.'
'Kau membeli dua?'
'Empat.'
'Itu bukan terlalu banyak. Itu keputusan yang disengaja.'
'Ketahuan.' Ia duduk di kursi seberang, tidak melihat laptop. 'Bagaimana menulisnya?'
'Pelan. Aku harus mengubah beberapa bagian.'
'Karena aku?'
'Karena aku ingin memastikan ceritanya tetap milikku dan tidak mengambil sesuatu darimu tanpa izin.'
Ethan mengusap kantong roti. 'Terima kasih sudah memikirkannya.'
'Aku tidak ingin membicarakan isi naskah sekarang.'
'Baik. Aku tidak akan bertanya.'
Kami makan roti di dapur sambil membicarakan toko. Ia menceritakan pelanggan yang salah mengira rak buku baru sebagai tempat duduk, lalu tertawa ketika aku bertanya apakah ia menempel memo larangan duduk. Untuk pertama kalinya sejak kembali, tawa kami terdengar seperti sesuatu yang tidak perlu segera diikuti pembicaraan serius.
Sebelum tidur, aku meletakkan kontrak lama ke dalam laci. Bukan untuk menghapus masa lalu, melainkan agar kertas itu tidak lagi menjadi pihak ketiga di antara kami. Besok kami akan memasak bersama untuk merayakan kepulanganku, keputusan yang kami buat tanpa perayaan besar.